ARTIKEL BARU

MENYOAL KRISIS KEPEMIMPINAN HIMAS;

Ikhtiar Mencari Pemimpin Alternatif

Oleh: Muarif

(Mantan Ketua Umum Pjs. Himas Pusat Periode 2009-2011)

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah. Kalimat tersebut berlaku untuk seluruh bangsa, tak terkecuali bagi organisasi yang kita cintai, HIMAS. HIMAS harus belajar dari sejarah, terutama sejarah para pemimpin-pemimpin terdahulu. Apalagi, HIMAS saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan dan kekurangan panutan.

Sejarah membuktikan bahwa, keadaan bangsa dan karakter pemimpin merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan. Dalam sejarah bangsa Indonesia misalnya, karakter pemimpin yang dipercaya oleh rakyat adalah karakter manusia yang memang sedang diperlukan bangsa dalam keadaan yang ada saat itu. Bangsa ini menjadi saksi, betapa bervariasinya karakteristik para pemimpin terdahulu dengan keadaan bangsa pada masa yang berbeda pula. Contohnya, Soekarno dengan nasionalisme-nya diangkat menjadi presiden pertama RI, tidak lain karena karakter yang ia miliki memang sedang diperlukan oleh keadaan bangsa saat itu. Belajar dari hal tersebut, Kita diharapkan dapat mencari karakter pemimpin yang diperlukan oleh kita saat ini.

Secara umum, Pemimpin secara langsung berperan sebagai lokomotif (penggerak) langkah masyarakat. Sehingga kemajuan dan kemunduran yang dialami dapat dipengaruhi karakter pemimpin. Pengaruh pemimpin akan memberi jalan bagi pemimpin untuk menjadi penentu kebijakan yang akan diterapkan. Inilah yang sering menjadi polemik tajam akibat timbulnya ketidakselarasan antara pemimpin dan yang dipimpin dalam penerapan kebijakan. Hal ini yang juga terus melekat pada sejarah pembangunan bangsa Indonesia, dan HIMAS pada khususnya hingga kini. Untuk itu, perlu penyaringan karakter pemimpin yang cerdas dalam arti dapat menjadi penentu kebijakan yang bijaksana. SELENGKAPNYA

Artikel Baru

UNTUKMU KADER HIMAS
(Membangungun Identitas Kader untuk Menyongsong Masa Depan)

Oleh : Umar Bayaksut Hs (Himas Bandung)

Se-iring dengan perputaran waktu begitu cepat, yang setiap saat meyilimuti kehidupan ummat manusia di dunia, dan berharap setiap lorong-lorong waktu yang dilewati, bisa menjadi saksi sejarah dalam nafas yang setiap saat kita hembuskan. Umur kita bertambah dari waktu ke waktu bersamaan dengan krisis dan problem masyarakat yang setiap saat selalu di pertontonkan secara gratis yang disajikan untuk masyarakat. Masyarakat seakan-akan mengemis makna dari arti sebuah kemerdekaan. Karena yang mereka tahu saat ini bahwa kebebasan yang mereka rasakan adalah kebebasan yang terpenjara…!!


Selengkapnya

artikel KLB

HIMAS DI PERSIMPANGAN JALAN

Sekali Lagi Tentang Kongres Luar Bi(n)asa HIMAS

Oleh : Rahmatul Ummah

“Benci adalah klimaks dari cintaku, benci artinya aku benar-benar mencintai, karena jika tak cinta untuk apa aku peduli, dan benci adalah kepedulianku.” (Sebuah pesan pendek yang nyasar di HPku)

Ada beberapa alasan kenapa saya menyebut HIMAS masih berada pada fase konsolidasi dalam tulisan Menakar Kemimpinan Kader HIMAS, salah satunya adalah karena seluruh perangkat aturan internal organisasi yang belum terjabar dengan baik. Silahkan telaah baik-baik, apa yang termasuk kategori pelanggaran oleh pengurus, apa sanksi jika PP tidak menjalankan program kerja dalam satu semester, bagaimana mekanisme pengambilan keputusan di tingkat PW dan PD, apa yang menjadi dasar PW melaksanakan pergantian pengurus dan Raker, dan apa nama institusi pengambilan keputusan yang menghasilkan ketua PW HIMAS, konstitusional atau inkonstitusional, dan masih berderet beberapa pertanyaan yang lain yang jawabannya tidak akan pernah ditemukan dalam peraturan-peraturan organisasi HIMAS.


Selengkapnya


artikel pilkada

MEMILIH KEPALA DAERAH/BUPATI HARUS DENGAN DEMOKRASI YANG BERADAB.

Oleh: Roesman Empoe Daeng Kasim

244 pemilihan umum kepala daerah/pemilukada di tahun 2010 dengan rincian 237 kabupaten/kota sudah tentu sebuah proses politik akan terjadi didalamnya dan akan menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Pertanyaannya: Apakah proses politik itu akan berjalan secara demokratis atau mungkin penuh dengan manipulasi dan politik uang?

Hal itu akan menjadi perhatian khusus karena terlalu banyak kasus yang pernah terjadi dalam pemilukada sebelumnya dan sedikit yang bisa menerapkan demokrasi yang beradab. Demokrasi beradab adalah sebuah persistiwa politik yang didalamnya ada penghormatan atas semua warga negara untuk menjadikan partisipan politik. Apakah partisipasinya sebagi kandidat (Calon) kepala daerah ataukah menjadi pemilih. Namun yang paling penting dalam keadaban demokrasi, warga negara harus mendapatkan pengakuan dan penghormatan untuk turut berpartisipasi dalam proses politik yang terselenggara dalam sebuah negara.

Selengkapnya

artikel baru

Duh… HIMAS
Oleh : EDI SUSANTO ABIDIN
(Alumni HIMAS JOGJA Tinggal di Sumenep)

Kalaulah boleh saya ikut nimbrung dan mencermati perkembangan HIMAS pasca kongres 3 akhir-akhir ini semenjak dilantik sampai sekarang saya pribadi belum begitu tahu apa saja rencana atau capaian program yang sudah di laksanakan? Rekomendasi saat di kongres yang sudah di susun rapi apa sudah di flow up dalam bentuk raker atau tidak,sampai sejauh ini saya pribadi belum tahu itu atau jangan-jangan saya kuper tentang progresivitas HIMAS yang ter-update.

Idealnya HIMAS yang di nahkodai oleh saudara Hamdi yang terpilih secara demokratis,publik HIMAS mengaharapkan ada semangat dan arah baru memainkan peran-peran sosial di masyarakat dan kita menunggu kebijakan apa yang bisa menginjeksi HIMAS agar stake holder bisa bersama-sama,bahu membahu memajukan dan meneruskan apa yang sebelum atau sudah dilaksanakan bahkan justru yang lebih baik lagi, itulah sebuah mimpi kita.saya pribadi mengaharapkan ada prestasi cemerlang untuk kepengurusan baru ini dimana mengingat sambutan Ketum HIMAS saat itu, setelah di lantik cukup memukau dan retoris seingat saya ada langkah optimalisasi baik peran ataupun sinergitas komunikasi di internal HIMAS

Selengkapnya

artikel paling baru

KENAPA HARUS KLB ?
(Sebuah ajakan diskusi buat kawan-kawan Himas)

Oleh : Muarif Rahmatullah
(Sekretaris Jenderal PP HIMAS)


Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh keluarga besar himas, karena keterlambatan tulisan saya mengenai penjelasan lebih lanjut tentang Tuntutan 100 hari pertama himas beberapa waktu yang lalu di FB saya, yang diantara tuntutannya adalah: 1) melaksanakan KLB (Kongres Luar Biasa). 2) mengganti Ketua Umum Himas terpilih periode 2009-2011. 3) merombak seluruh kepengurusan dan jajaran-jajarannya. Secara teknis, tulisan ini sudah saya persiapkan, namun dibenturkan dengan beberapa kesibukan dan kegiatan akademik dan organisasi. Di samping itu, sebelumnya saya beberapa kali mengirimkan pesan, meminta pandangan dari alumni mengenai KLB ini, namun sama sekali tidak ada respon. Sehingga pada akhirnya saya pun menunda dan mengurungkan niat untuk menampilkan tulisan ini.

Wacana ini sudah menyebar, saya pun merasa “berdosa” jika saya tidak memberikan pertanggungjawaban atas ini. Saudara Minhajul Abidin (mantan ketua umum Himas 2007-2009) selaku orang yang intens saya ajak diskusi masalah ini menyampaikan kepada saya bahwa respon dari para alumni beragam/berbeda-beda, ada pro dan ada juga yang kontra. Terlepas dari argumentasi pro-kontra itu, sekaligus saya mengklarifikasi karena ditengarai bahwa dibalik wacana KLB ada muatan sakit hati atas kekalahan saya di kongres himas-3 kemarin. Saya tegaskan sama sekali tidak benar.

Pertanyan yang menarik sebagaimana dalam tulisan Rahmatul Ummah: apakah hanya karena kebuntuan komunikasi lantas solusinya adalah KLB? Saya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan melalui pendekatan fungsi seorang ketua umum (saya tidak bermaksud mengajari siapapun bagaimana berorganisasi yang baik). Memasuki 10 tahun Himas bukanlah waktu yang relatif singkat, Himas dalam fase-fase ini menurut saya adalah memasuki fase perkembangan. Di samping melakukan koordinasi internal, juga seharusnya melakukan upaya revitalisasi eksternal. Ditambah lagi dengan kesalahan masa lalu yang mungkin sulit untuk dimaafkan. Oleh karena itu, saya berani mengatakan bahwa seorang ketua umum harus lebih progresif dan visioner dalam membawa Himas. Seorang pemimpin yang miskin ide, tidak kreatif, tidak progressif adalah pemimpin yang tidak layak untuk didukung. Kedua, memasuki 100 hari pertama, PP Himas belum melakukan Rapat kerja (RAKER). Rapat Kerja/RAKER adalah rapat yang dihadiri oleh semua pengurus pusat, tujuannya adalah merumuskan program kerja ke depan baik dalam jangka pendek atau pun dalam bentuk jangka panjang selama satu periode. Ini artinya bahwa program/agenda Himas Pusat “tidak jelas”. Ketiga, tidak adanya koordinasi yang baik antara PP dan PW, sehingga HIMAS PW terkesan berjalan sendiri-sendiri, bahkan ada yang vakum.

Hal-hal tersebut di atas disebabkan bertumpu pada peran dan fungsi seorang ketua umum, kebuntuan komunikasi, koordinasi yang kurang efektif serta kebijakan yang terkesan lambat. Saya tidak bermaksud menguak kelemahan seorang ketua umum dan kebobrokan intrnal Pengurus Pusat Himas. Tapi itulah realitas yang terjadi dan perlu kita sikapi secara bijaksana. Dengan apa? Tentunya dengan melalui evaluasi dan proyeksi ke depan.

Sesungguhnya persoalan mendasar kenapa harus KLB memang sangatlah sederhana, yang kemudian menurut istilah Rahmatul ummah karena terjadi kebuntuan komunikasi. Tapi saya pikir, bukankah hanya persoalan sepele akibatnya bisa menjadi fatal? Apalagi sebuah organisasi..

Secara konstitusional, KLB tidak melanggar AD/ART Himas. Oleh karena itu, KLB bukanlah tanpa alasan. Dalam pasal 9 ayat 1 Anggaran Rumah Tangga (ART) Himas disebutkan: “Dalam keadaan mendesak Pengurus HIMAS dapat mengadakan Kongres Luar Biasa”. Pertanyaannya, dalam keadaan mendesak yang bagaimana Himas dapat mengadakan KLB? Secara eksplisit memang tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan keadaan mendesak itu.

Menurut saya, beberapa alasan yang saya kemukakan di atas sudah cukup memberi penjelasan mengenai “dalam keadaan mendesak” itu, tujuannya untuk menghindari semua kemungkinan yang terjadi di Himas.

Tuntutan KLB adalah usulan absurd. Maka wajar ada yang pro dan kontra. Keputusan Kongres sudah terlanjur memilih saudara Hamdi sebagai ketua umum. Saya pun tidak berani menganggu gugat keputusan itu. KLB ini harus diartikan justru karena saya ”sayang” dengan HIMAS. Tatkala saya melihat HIMAS telah kehilangan daya kreatifnya dan inovatifnya di tengah-tengah dinamika keumatan, kepulauan dan kebangsaan yang kompleks, maka wajar bila saya gelisah. Saya sendiri memaksudkan usulan KLB itu sebagai cambuk yang keras agar HIMAS bangkit kembali.

Bagaimanapun HIMAS tetap merupakan aset Kepulauan. Jelas, kita menghimbau agar HIMAS mampu hadir lebih ”segar” lagi. Syaratnya, internal harus diperbaiki dan sesekali melakukan gebrakan keluar. Momentum kongres harus dipakai untuk memperbaiki sistem.

Artikel Baru

MENAKAR KEPEMIMPINAN KADER HIMAS

(Meretas Kebuntuan dan Kejumudan Berpikir tentang KLB)

Oleh : Rahmatul Ummah

(Alumni HIMAS, Sementara menetap di Lampung)

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan tentang wacana Kongres Luar Biasa (KLB) HIMAS, awalnya saya tidak begitu tertarik untuk membahas wacana tersebut, karena saya berpikir itu adalah ide-ide nakal yang niscaya ada hampir di setiap organisasi, dan hal itu biasa dan bisa berdampak positif pada pendewasaan dan pematangan organisasi.

Wacana KLB dalam organisasi HIMAS tentu saja hal yang baru, dan menjadi hal luar biasa jika terus menjadi isu utama dan terus menerus menguras energi dan pikiran, jujur saya sendiri merasa terganggu.

HIMAS belum lagi berusia lebih dari satu dasawarsa, Kongres III terakhir yang digelar tanggal 3 Oktober 2009, pun belum genap enam bulan, tiba-tiba muncul desakan untuk melaksanakan KLB. Kecewa dalam berorganisasi adalah hal yang lumrah, luapan kekecewaan itu bisa diekspresikan dalam bentuk cacian, mosi tidak percaya, atau cara paling ekstrim mengorganisir anasir-anasir organisasi untuk menjatuhkan kekuasaan Ketua Umum atau sebutan sejenis atau kudeta merangkak menurut istilah saudara Minhadzul Abidin.

Sebelum membahas kekecawaan yang diharapkan bermuara pada KLB itu lebih jauh, saya bermaksud menjelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan mendasar HIMAS dengan organisasi-organisasi yang lain yang selama ini dikenal. Hal ini penting, agar semua kader HIMAS bisa meletakkan pandangannya secara obyektif dan rasional dalam melihat HIMAS, khususnya Pimpinan Pusat HIMAS.

Bahwa, Pertama, HIMAS adalah organisasi yang keanggotaannya adalah mahasiswa yang berasal dari kepulauan Sapeken, yang kuliah di berbagai Perguruan Tinggi (PT) yang tersebar di Indonesia, mulai dari Sulawesi sampai Sumatera. Kedua, anggota atau mahasiswa yang berhimpun di HIMAS bukan lahir dari sebuah sistem kaderisasi yang terencana berdasarkan materi, kurikulum, tujuan dan sistem sebagaimana kaderisasi di organisasi yang lain, tapi kaderisasi HIMAS adalah kaderisasi yang cair, berhimpun dan bersatu karena keinginan dan kepentingan bersama untuk memajukan daerah. Ketiga, pengurus PP HIMAS terdiri dari mantan pengurus Pimpinan Wilayah yang masih melanjutkan kuliah, dan harus kembali ke daerah PT-nya masing-masing. Keempat, Kedudukan sekretariat atau kantor PP HIMAS berada di Sapeken. Kantor idealnya menjadi pusat interaksi, komunikasi dan bertemunya gagasan-gagasan pengurus untuk memajukan organisasi, padahal tidak setiap saat liburan dan setiap liburan tidak semua pengurus memiliki kesempatan untuk pulang ke Sapeken.

Beberapa hal di atas harus menjadi pemakluman jika ternyata ada kendala tidak efektifnya interaksi dan komunikasi gagasan-gagasan cerdas HIMAS yang berujung pada kinerja HIMAS yang tidak ideal, karena HIMAS memang tidak diidealkan sama seperti HMI, PMII, IMM, KAMMI atau organisasi-organisasi lain. Lantas pertanyaannya, jika begitu apa urgensi PP HIMAS dalam organisasi HIMAS? Fungsi utama PP HIMAS adalah koordinator, fasilitator, dan katalisator seluruh PW dan PD HIMAS, dan fungsi inipun belum terumuskan dengan baik, sehingga perlu menjadi konsen dan interest kita semua.

Oleh karena itu, saat terjadi wacana KLB saya sangat tidak tertarik menanggapinya. Bahkan beberapa pesan yang masuk tidak pernah saya jawab, dan tulisan ini kembali ingin menegaskan jawaban saya terhadap Saudara Minhadzul Abidin (sesama alumni), “pahami problem dasarnya apa? Mengurus organisasi tidak hanya dengan modal kecerdasan intelektual tapi juga kematangan emosi...”

Pernyataan itu bukan cetusan yang sekonyong-konyong, tapi lahir dari beberapa pesan yang sengaja dikirim ke saya tentang KLB, tapi hampir saya tidak temukan alasan mendasar yang logis yang melatarbelakangi wacana tentang KLB. Jika harus bicara jujur, saya adalah alumni yang sebelumnya tidak berada dalam posisi mendukung saudara Hamdi pada Kongres III HIMAS, saya lebih menginginkan saudara Mu’arif karena beberapa alasan, termasuk karena saya sering berinteraksi dengan beberapa tulisannya di blog. Tetapi, karena akhirnya Hamdi terpilih secara demokratis di forum Kongres III, saya harus menghormati dan berkewajiban ikut menjaga keputusan itu.

Maka sekali lagi, mari kita coba dekati permasalahan ini dari dasar masalahnya, tidak tepat hanya karena kebuntuan komunikasi, tiba-tiba solusinya adalah KLB sehingga seolah-olah suara dan pendapat pada Kongres III yang menghasilkan keputusan saudara Hamdi sebagai Ketua Umum, menjadi tidak bermakna sama sekali. Selanjutnya, apakah ada jaminan jika pelaksanaan KLB ini terlaksana mampu menghadirkan peserta sejumlah Kongres III yang menghantarkan saudara Hamdi jadi Ketua Umum? Sehingga legitimasinya setara, pernahkah dihitung secara matang berapa cost (biaya) yang akan dihabiskan?

Maka jika saya memang masih dianggap layak untuk urun rembug, seharusnya yang penting untuk kita pikirkan adalah bagaimana menggagas komunikasi yang efektif antar pengurus, saling melengkapi, membuat kertas kerja tentang penataan organisasi, posisi, fungsi dan wewenang PP HIMAS, grand design sistem kaderisasi, blue print kepulauan, posisi paska menjadi aktifis HIMAS, dan hal-hal lain yang lebih memberi manfaat buat organisasi dan masyarakat kepulauan.

Bahwa harus diakui, periodisasi HIMAS masih pada tahap konsilidasi internal, untuk itu tidak ada untungnya sama sekali menghabiskan energi untuk mencari kesalahan dan kelemahan orang lain, semua kita memiliki kelemahan dan keterbatasan, untuk itu kita berorganisasi untuk bisa bekerjasama dan saling melengkapi. Jika saudara Hamdi mengalami kesulitan, maka ada beberapa Ketua Bidang yang bisa diajak komunikasi. Toh, jika semua bidang menjalankan fungsi dan kewenangannya dengan baik, maka organisasi juga bisa berjalan baik.

Sekretaris Jendral, sebagai “bos” yang bertanggungjawab terhadap seluruh kesekretariatan akan lebih bermanfaat jika energinya yang luar biasa itu disalurkan untuk mengurusi hal-hal yang terkait dengan kesekretariatan, seperti membuat format surat-menyurat yang baku, mendata jumlah kader dan seluruh potensinya, menyusun rencana kerja saat liburan, yang disosialisasikan lewat mailing list untuk seluruh anggota HIMAS, dll.

Dan kepada saudara Hamdi, hingga saat ini saya selalu mengedepankan prasangka baik, bahwa di samping benar-benar sibuk karena urusan kuliah, secara psikologis bisa dipahami bahwa ‘mungkin’ ada perasaan bersalah sehingga ‘enggan’ untuk berkomunikasi, atau bisa saja karena wacana KLB terlanjur merebak, hingga mendorong saudara Hamdi untuk tidak muncul, tentu saja sikap seperti ini juga bukan sikap dewasa, menarik diri dari pergaulan organisasi dan tidak berusaha mengurai masalah secara ksatria, tentu saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Terakhir, mohon maaf jika kemudian saya harus memberikan penilaian terhadap ide-ide yang muncul baik wacana tentang KLB maupun sikap saudara Hamdi yang tak muncul mengurai masalah-masalah ini adalah perilaku kekanak-kanakan yang sudah harus mulai ditinggalkan, mari kita membiasakan berfikir lebih arif dan dewasa. Sehingga, tindakan yang dihasilkan selalu memberi maslahat lebih besar dibanding mudharatnya.

Tak ada yang perlu dikorbankan, sebagaimana yang diinginkan secara tekstual dalam tulisan Minhadzul Abidin – walaupun saya memaknainya lebih pada penyemangat sebagaimana juga saya memahami wacana KLB ini – kita semua berhimpun di HIMAS bukan dalam kerangka sok hebat, sok gagah dan sok pintar, sehingga menjadi Ketua Umum atau Pimpinan tertinggi di HIMAS sebagai tujuan utama, tetapi lebih pada cita-cita luhur, ingin membangun kepulauan kita, menghadirkan keadilan dan kesejahteraan di Kepulauan Sapeken, maka marilah berfikir melampui realitas. Wallahu a’lam

Lampung, Medio Januari 2010

Pukul 01.05 – 02.15 pm

Artikel Untuk HIMAS yang lagi tidak keren










KONGRES LUAR BIASA;
Diantara Kudeta merangkak atau Penyelamatan Organisasi?, sebuah tanya

Oleh : Minhadzul Abidin (Mantan Ketum PP HIMAS)

Bahwa segala yang hidup adalah hasil daripada perrtentangan, ada yang menarik dan ada yang menolak (Heraclitus ; Dikutip dari Pidato Inaugurasi Mohammad Hatta waktu diangkat menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia)

Ada yang menarik ketika saya mencantumkan Kutipan Pidato Inaugurasi Mohammad Hatta waktu diangkat menjadi ketua Perhimpunan Indonesia yang pada waktu berdiri bernama Indische Vereeniging kemudian diubah kembali menjadi Indonesische Vereeniging dan pada tahun 1925 berganti nama menjadiPerhimpunan Indonesia, menurut Hatta segala sesuatu dimulai dengan pertentangan dan Realisasi dari pertentangan menurut pendapat hearclitus tadi adalah Perjuangan, ya kita mungkin berbeda dalam konsep dan bahkan mengalami pertentangan tetapi tujuan kita satu Untuk Perjuangan Indoensia Merdeka.

saya rasa kata-kata diatas sangat cocok untuk memahami kekisruhan internal Pengurus Pusat HIMAS periode 2009-2011, yang melibatkan dua pusat sentral HIMAS yaitu Ketua Umum (Ketum) PP HIMAS dengan Sekretaris Jendral (Sekjend) PP HIMAS dan kepengurusan mereka berdua yang baru menginjakkan kaki dalam seratus hari pertamanya, kekisruhan itu dimulai dengan status update Saudara Muarif Rahmatullah disitus jejaring sosial Facebook (FB) yang berisi TIGA TUNTUTAN 100 HARI PERTAMA HIMAS : 1) Kongres luar Biasa. 2) ganti ketua umum himas. 3) rombak kepengurusan dan jajaran-jajarannya. tanggal 27 Desember 2009 jam 0:41. memang saya sedikit terkejut dan ahistoris dengan status update tersebut, apakah itu cuma sekedar iseng atau ikut-ikutan Aktris cantik Luna Maya yang menulis status yang kontroversial di Twitter, tetapi besoknya saya teruskan (forward) ke dinding (Wall) FB, dua senior yang rajin nge-FB (Facebookers) dan masih peduli dengan HIMAS Saudara Rahmatul Ummah dan Saudara Soedarman.

Kemudian Rahmatul ummah membalas kedinding saya juga dengan menulis Pahami problem dasarnya apa, mengurus organisasi tidak hanya dengan modal kecerdasan intelektual tapi juga kematangan emosi... Problemnya hanya kebuntuan komunikasi.. Kembali buat komunikasi yang efektif...28 Desember 2009 jam 20:49 · Berbeda dengan Soedarman yang mengomentari kiriman dinding saya dengan menulis Saya setuju diadakan kongres luar biasa dengan agenda pergantian ketua himas, buatlah kepngurusan seramping mungkin, fungsi pusat sebagai jembatan bagi pw yang ada di wilayah. ujung tombak kita adalah pw himas. 29 Desember 2009 jam 11:28. Dan selanjutnya saya juga buat status di FB saya dengan menulis Perubahan atau Kudeta Merangkak...semuanya harus di komunikasikan..."untuk HIMAS yang lagi tidak keren"
28 Desember 2009 jam 21:02, dan dapat komentar dari berbagai pihak. setelah itu saya terkejut dengan SMS yang mengaku HIMAS Bandung mengenai ketidak setujuaanya kira-kira bunyinya seperti ini " anda jangan gegabah semua harus dikomunikasikan dan ini bukan hanya kesalahan Ketum PP , dan kami HIMAS bandung tidak setuju dengan Kongres Luar Biasa" kemudian saya balas bahwa itu bukan saya yang buat melainkan saudara Sekjend PP HIMAS kemudian dia membalas kira-kira bunyinya seperti ini "Ada muatan politis dari Pak Sekjend yang kalah di Pemilihan Kongres 3 HIMAS, dan sebanarnya bukan hanya kesalahan PPtetapi harus diperkuatnya PW" setelah itu mungkin wacana itu tidak kedengeran lagi karena mungkin teman-teman lagi berkabung atas kematian guru bangsa GUS DUR dan sibuk dengan Perayan tahun baru 2010, tetapi sekali lagi saya terkejut ketika melihat status Update HIMAS JOGJA JATENG yang menulis : Menanggapi soal isu tentang masa kerja 100 hari Ketua HIMAS PUSAT yang dirasakan kurang efektif dan efesien, maka HIMAS WILAYAH JOGJAKARTA-JAWA TENGAH mengeluarkan TIGA TUNTUTAN: pertama, KONGRES LUAR BIASA. Kedua,TURUN KANKETUA HIMAS. ketiga, ROMBAK KEPENGURUSAN DAN JAJARANNYA 3 Januari jam 23:59, yang juga dapat komentar dari berbagai pihak ditengah pro dan kontranya.


Tidak bisa kita pungkiri PP HIMAS sekarang mengalami kekisruhan Internal dan harus segera dicari jalan solusi terbaiknya oleh seluruh orang yang mengaku peduli dengan HIMAS, masalah ini sudah menjadi konsumsi publik dan akan menjadi preseden buruk ditingkat massa bawah (garss root), dan peneyelesaianya harus melalui mekanisme organisasi yang baik dan benar (AD/ART), mungkin saya sedikit ahistoris dengan masalah ini, tetapi pertanyannya apakah sebegitu parah masalahnya karena wacana kongres luar biasa adalah forum terhormat sebagaimana dijelaskan pada pasal 8 AD/ART (versi kongres 2, yang saya rasa tidak mengalami perubahan untuk pasal ini cuma urutan pasalnya saja berubah dan kata-kata presidium pusat karena diganti ketua Umum Pengurus Pusat HIMAS), Pasal 8 Dalam keadaan mendesak pengurus HIMAS dapat mengadakan kongres luar biasa Kongres luar biasa dihadiri sebagaimana tercantum dalam Bab III pasal 7 ayat 2Kongres luar biasa dilaksanakan untuk hal-hal sebagai berikut:Perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tanggaPergantian presidium HIMAS),

Kongres Luar Biasa sebagaimana dijelaskan dalam pasal tersebut tentang keadaan mendesak, keadaan mendesak dalam wilayah formal organisasi sangat sensitif, karena bagian agenda dari Kongres luar biasa adalah pemakzulan yaitu mengganti ketua pengurus pusat yang telah dipilih secara demokratis dan terbuka pada waktu kongres 3 Oktober kemarin, dan secara general adalah pemakzulan seluruh kepengurusan PP HIMAS 2009-2011 yang baru mencapai 100 hari pertamanya , dan ini harus dipertimbangkan secara mendalam tidak terpengaruh dengan kondisi emosional atau karena atas dasar pertimbangan like or dislike, karena kondisi semacam ini semacama mempertemukan kedua kubu yang bertentangan (vis a vis) siapa yang yang benar dan salah dan yang benar adalah yang benar menurut konstitusi HIMAS.

Kalau kita sedikit review ulang dan refleksi dengan kondisi PP HIMAS 2007-2009, sebenarnya secara internal sangat goyah, masalah komunikasi dan hubungan yang tidak terlalu signifikan, menyebabkan hubungan antara ketua presidium dalam hal ini saya sendiri dengan sekretaris jendral pada saat itu saudara Tahta Amrullah, banyak hal atau maneuver yang juga membahayakan dilakukan oleh Saudara Tahta Amrullah, tetapi tidak tidak berbuntut panjang karena Saya yakin pada saat itu saudara Tahta Amrullah berjiwa besar dan bisa mengerti kondisi yang ada dan saya juga sebagai ketua Presidium Pusat bisa membuktikan Arogansi (dalam pengertian Saudara Tahta Amrullah) dengan program-program kerja konkrit yang bisa membesarkan HIMAS.

Ketika berbicara dengan Saudara Sekjend 2009-2011 Muarif Rahmatullah creator dan inisiator kongres Luar Biasa ini dan beliau berjanji akan menulis artikel di blog mengenai masalah yang saya tanyakan, yaitu “Apa sih dosa besar yang dilakukan Ketum sehingga Kongres Luar Biasa Harus terlaksana? “ kemudian Dia menjawab “ banyak, salah satunya tidak optimalnya dan tidak ada komunikasi yang dilakukan oleh Ketum dan ketum setelah dilantik seperti ditelan bumi” begitu kira-kira jawaban dari Saudara Muarif, selaku inisiator dan orang yang pertama harus bertanggung jawab terhadap Kongres Luar Biasa ini. Inilah yang menjadi masalah disaat wacana atau upaya menggoyang Ketum Pusat HIMAS tidak ada tanggapan oleh Ketum PP HIMAS (Saudara Hamdy), minimal upaya untuk menjelaskan ketidak beradaannya selama beberapa bulan setelah kembali ke tempat akademiknya di Palopo, Sulawesi Selatan. Pertanyaanya apakah Saudara Ketum orangnya easy going atau enjoy aja atau meminjam istilah Alm Gus Dur “gitu aja kok repot!”, sampai kebingungan saya itu di jelaskan oleh Saudari Rina Hafidz (Bendahara Umum PP HIMAS 2009-2011), “bahwa Ketum lagi sibuk skripsi, ntar kalau skripsinya sudah selesai dan wisuda dia akan kembali mengurusi HIMAS kembali” begitu kira-kira pernyataan Saudari Rina, Bendum yang merangkap Juru Bicara Ketum, dan itu saya sampaikan sendiri Ke Saudara Muarif dan Dia megatakan “ itu adalah ketidak siapan Saudara Ketum menjadi Ketum”.


Mungkin posisi tulisan saya disini bukan untuk mengkisruhkan (baca :memprovokasi) suasana internal HIMAS dan terlalu ikut campur urusan rumah tangga PP HIMAS sendiri, tulisan ini mungkin bagian untuk memperjelas masalah kekisruhan internal PP HIMAS dan tidak bermaksud untuk mendukung siapa-siapa dalam hal ini, isu kongres Luar biasa yang terhormat dan sangat sensitif ini menjadi tidak terhormat lagi, ketika Para stack holder HIMAS tidak bisa menanggapinya dengan serius masalah ini, bahkan mengacuhkannya dan dianggap Cuma sandiwara belaka atau seperti keisengan Luna maya di twitter maka tunggulah kehancurannya HIMAS sebagai organisasi yang menjunjung tinggi Konstitusi, Sekjend dalam hal ini Telah melakukan perbuatan inkonstitusional dan ibaratnya seperti Kudeta Merangkak kalau seandainya Kongres Luar Biasa Tidak jadi dilaksanakan, dan Perbuatan Sekjend bisa menjadi benar atau konstitusional jika Kongres Luar biasa dengan common platform (kalimatun sawa’) semua Pengurus Pusat dan Wilayah se-Indonesia dan menjelaskan kesalahan atau dosa-dosa besar Ketum, kalau seandainya tidak bisa dan tidak ada follow up selanjutnya Saudara Muarif Rahmatullah (Sekjend) harus dipecat dan Pengurus Wilayah HIMAS yang mendukung dan memberikan pernyataan di Facebook secara inkonstitusioanal harus di Makzulkan. Kita tunggu saja semoga upaya untuk mengatasi kekisruhan ini dapat dilakukan dari hati ke hati dengan hati hati, tentunya sesuai dengan mekanisme atau aturan konstitus yang sah dari HIMAS. Demi kejayaan HIMAS dan Demi Masyarakat Kepulauan.


ARTIKEL BARU

Spiritualisme, Spiritisme dan Sinkritisme

Oleh: Abd Aziz (HIMAS JOGJA-JATENG)

Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya.
Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi.
Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme “yang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwa”, dan dinamisme “yang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alam”. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif.
‘Berjiwa’ disini lebih dimaksudkan sebagai punya kekuatan “baik kasat indria maupun tidak” seperti kekuatan untuk penyembuhan, kekebalan, tenaga-dalam dan hal-hal yang bersifat kanuragan sampai yang bernuansa klenik lainnya. Betapapun tampak hebatnya kekuatan yang dimaksud, ia selalu mengandung pengertian dan mengarah pada materi atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik dan ragawi.
Bagi penganutnya, segala sesuatunya hanya bisa disebut nyata ada bila bisa dimaterialisasikan dan kasat-indria. Bila tidak, ia tak nyata. Bagi mereka hanya realitas material-lah yang ada.
Sayangnya, kedua istilah ‘yang berbeda secara diametrikal’ ini seringkali dikacaukan orang. Teramat sering kita saksikan kalau hal-hal yang sebetulnya merupakan bagian dari spiritisme disebut sebagai spiritualisme. Sementara acara televisi dan pembicara serta penlis di media-massa lain punya andil besar terhadap kekacauan atau salah-kaprah ini. Sedihnya lagi, kesalah-kaprahan ini malah sudah menjangkiti sementara kalangan terdidik.
Ditinjau dari tiga sifat dasar makhluk hidup triguna), spiritisme cenderung tergolong pada sifat rajas (aktif, ambisius, dinamis, agresif) dan tamas (pasif, lembam, inersia, gelap); sedangkan spiritualisme cenderung sattvam (proaktif, kalem, seimbang, jernih). Kalau spiritisme sangat eksternalistis, maka spiritualisme lebih bersifat internalistis. Pencarian spiritisme mengarah ke luar diri, sedangkan pencarian spiritualisme mengarah ke dalam diri.

pengaruh spiritulisme terhadap kesehatan jiwa
Menurut kaum spiritualisme, kebahagiaan dan kedamaian bisa dirasakan oleh setiap orang, asal mereka memadang kehidupan dengan cara yang benar. Pada dasarnya sumber dari segala penderitaan dan tekanan yang dihadapai adalah bersumber dari keinginan atau angan-angan.
Nah, kira-kira apa maksudnya dengan angan-angan?
Angan-angan, dalam pemahaman saya adalah mengharapkan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan dalam kehidupan kita. Dan saya yakin kebanyakan dari kita memiliki angan-angan.
Namun menurut pandangan kaum spiritulisme, semakin tinggi angan-angan maka seseorang semakin tidak merasakan tentram dan kedamaian hati. Ia kemudian dikuasai oleh angan-angannya itu sendiri. Seolah hidupnya bakal hancur dan tidak bahagia kalau apa yang menjadi angan-angannya tidak terpacai. Sehingga semakin tinggi angan-angan seseorang maka semakin besar pula kecemasannya dan kekhawatirannya jika angan-angannya tidak tercapai.
Orang yang berambisis mengejar karir akan menjadi cemas ketika menghadapi tantangan mencapai tujuannya tersebut. Seorang muda yang ingin mengejar jabatan akan menjadi cemas ketika terjadi pergantian kepemimpinan di kantornya dimana muncul khawatir ia tidak lagi diperhitungkan.
Dan ketika gagal meraih tujuannya banyak orang yang kemudian menganggap bahwa hidup mereka telah hancur. Seperti halnya yang terpadi pasca pemilu 2009 dimana banyak calon legislatif yang tidak terpilih menjadi anggota legislatif menjadi frustrasi dan bahkan menjadi gila. Karena seolah hidupnya tidak lagi bermakna jika ia tidak mendapatkan tempat di Dewan Perwakitan Rakyat.
Menurut kaum spiritualisme, angan-angan berasal dari nafsu. Nafsu pada dasanya muncul dari dorongan intenal tubuh manusia untuk memenuhi kebutuhnannya. Misalnya angan-angan untuk mendapatkan makanan yang enak berasal dari nafsu untuk makan. Namun adakalnya nafsu ini bisa menghasilkan angan-angan yang seolah sangat penting bagi kehidupan manusia pada hal tidak. Seperti nafsu akan kekuasaan sehingga menciptakan angan-angan untuk mendapatkan jabatan.
Namun sebagaimana nafsu akan makanan yang tidak pernah mati selama manusia hidup. Maka nafsu lainnyapun tidak akan pernah mati dan terus menciptakan angan-angan untuk dikejar oleh manusia. Jadi ketika seseorang sudah mendapatkan jabatan sebagai manager maka akan muncul lagi angan-angan untuk mendapatkan posisi sebagai Dirut.
Sepasang suami istri yang sudah mendapatkan angan-angannya untuk menikah kembali merasakan kekhawatiran karena setelah menikah selama 1 tahun belum juga memiliki keturunan. Seorang sarjana yang sudah mendapatkan pekerjaan mulai cemas karena selama 5 tahun bekerja ia belum memiliki rumah.
Angan-angan tidak pernah mati dan bakal mendatangkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita. Oleh sebab menurut kaum spiritualisme, untuk mematikan angan-angan harus diawali dengan pengendalian hawa nafsu, ambisi dan keinginan yang berlebihan terhadap masa depan. Serta menikmati apa yang terjadi pada hari. Membuka diri terhadap keunikan yang bisa diraih pada saat ini dan bukan besok. Dan sesunggunya sumber kebahagian tidak berasal dari sesuatu di luar kita melainkan dari dalam diri kita. Jika kita menikmati makanan, sebenarnya kesenangan yang kita peroleh bukan berasal dari makanan yang kita peroleh, karena orang yang sedang sakit gigi atau terkena sakit pencernaan sulit merasakan kenikmatannya walaupun makanan yang dimakan sama.
Bagi kaum spiritualisme kehidupan mereka tidak dituntun oleh angan-angan melainkan hati nurani yang akan memberikan pengajaran tentang apa yang harus mereka lakukan untuk hari ini. Dan langkah yang mereka pilih untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersentuhan langsung dengan hati nurani adalah melalu meditasi. Dia manusia mengosongkan pikiran, merasakan kedamaian lepas dari angan-angan dan belajar untuk mendengar hati nurani.
Dan apa yang bisa kita pelajari dari pandangan kaum spiritulisme? Tentu pertama kita diingatkan untuk jangan terlalu larut dengan berbagai target-target atau ambisi untuk meraih sesuatu di masa depan dengan mengorbankan masa sekaran. Ingat bahwa semakin tinggi ambisis kita mengejar sesuatu maka akan semakin sering kita merasa cemas dan tidak tidak damai.
Kemudia berhat-hati dengan kemungkinan tujuan kita tersebut menyederhanakan kehidupan kita. Seolah-olah ketika apa yang menjadi harapan kita tidak tercapai maka kehidupan kita menjadi gagal atau kita tidak mungkin merasa bahagia.
Kendalikan nafsu anda, biarkan diri Anda menikmati hari dengan rasa damai. Jika dimungkinkan siapkan waktu dalam kehidupan Anda untuk sejenak hening atau bermeditasi. Dimana Anda melepaskan diri Anda dari berbagai macam tujuan atau target-target yang membebani Anda.
Dan penting diingat bahwa kebahagiaan yang bisa kita alami bukan berasal dari apa yang kita raih, tapi sesungguhnya berasal dari diri kita. Akan sangat mudah seseorang untuk merasa jenuh dengan keberhasilan yang ia peroleh dan tadinya begitu ia idamkan.
Kedamaian adalah persoalan hati, demikian menurut seorang spiritualisme. Hal ini diraih tidak dengan sekedar mengejar tujuan atau angan-angan. Namun dengan membiasakan diri untuk mendengarkan hati nurani, yang biasanya mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar, melimpah dengan empati dan keinginginan untuk berbuat kebaikan. Dan jika itu dilakukan, kebahgiaan juga bisa dirasakan. Hebatnya hal ini bisa dilakukan hari ini tanpa menunggu besok.
Itulah sebabnya maka seorang spiritulis bisa merasakan ketentraman meskipun berada di tengah kondisi kehidupan kota yang bising. Dan semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan kita. Jadi tidak ada salahnya belajar dari kaum spiritualisme untuk membuat jiwa Anda sehat dan tentram.

ARTIKEL BARU

Salam Perubahan.

Oleh: Muhammad Roziky (HIMAS JOGJA-JATENG)


Apa yang terfikir di kepala kita mendengar pengakuan orang yang baru migrasi profesi dari penjual ke pengemis. Tentu kita miris. Namun, itulah kenyataannya. Harga diri bukan lagi hal yang penting karena hidup di negeri ini terasa semakin susah saja buat mereka yang miskin. Mental pekerja, mental beriwirausaha, menjadi kurang menarik untuk dipertahankan. Karena, mental peminta-minta ternyata lebih menjanjikan.
Sepanjang saya naik kereta ekonomi saya perhatikan memang pengamen dan pengemis lebih laris dibanding pedagang. Semula saya fikir karena pedagang di kereta jumlahnya terlalu banyak dan mereka menjual barang yang relatif sama. Persaingan menjadi sangat tinggi sehingga wajar kalau ada pedagang yang mengeluh dagangannya tidak laku.
Tapi, kalau diperhatikan, jumlah pengamen dan pengemis juga tidak bisa dibilang sedikit. Mereka juga berkompetisi tapi mengapa ada pedagang yang memilih migrasi profesi menjadi pengemis.
Ini mungkin salah satu anomali dari masyarakat kita. Semangat membantu masyarakat kita pada sesama sesungguhnya sangat tinggi. Terlebih di penyambutan tahun baru ini yg jg sebagai semangat baru.Namun, pilihan-pilihan dalam memberikan bantuan ternyata tidak jarang menimbulkan masalah baru. Ada orang yang kecanduan jadi pengemis meski dia sehat fisik dan tidak ada sakit sama sekali. Karena, yakin bakal ada orang yang kasihan dan akan memberi mereka uang. Inilah masalah baru yang timbul saat ini.
Kebanyakan masyarakat kita lebih memilih membantu mereka yang tidak produktif dibanding mereka yang produktif. Saya pernah menyaksikan seorang teman yang berniat berwirausaha dan kemudian dia mencari dana pembiayaan dengan skema pinjaman.
Tapi, orang-orang yang didatangi lebih memilih tidak meminjami karena alasan ketidakpercayaan uang akan kembali. Namun, ketika orang yang sama didatangi pemuda-pemuda lain yang mengajukan sumbangan entah untuk kegiatan atau untuk hal lain yang bersifat pribadi dia langsung merespon dengan baik sekali.
Kondisi ini sama dengan yang dialami penjual di kereta yang alih profesi tadi. Akhirnya kita menyaksikan banyak pemuda dan mahasiswa yang lebih memilih menjadi peminta-minta dari pada bekerja atau berwirausaha. Dengan bermodal proposal mereka dengan mudah mendapatkan sumbangan sana-sini. Bahkan, saya menemukan mantan-mantan aktivis mahasiswa yang menjadi kaya hanya dengan meminta-minta.
Jika kita lihat salah pilih obyek dalam berbuat baik ini seperti telah menjadi budaya masyarakat dan pemerintah kita. Baru-baru saja kita dikejutkan oleh isu Bank Century.
Bank yang bangkrut karena uangnya dibawa lari oleh pemiliknya ke luar negeri ini dengan mudah mendapat bantuan pemerintah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni Rp 6,7 triliun. Sementara disisi lain, jutaan pengusaha kecil yang telah banyak membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja, membantu masyarakat mendapatkan kehidupannya, sangat kesulitan mendapatkan bantuan permodalan.
Ketidakmampuan pengusaha-pengusaha kecil membuat proposal yang meyakinkan, ketidakmampuan mereka memanipulasi angka-angka agar terlihat layak, ketidakmampuan mereka bernegosiasi dengan para pengambil keputusan dalam hal pembiayaan menyebabkan mereka sulit mendapatkan bantuan pendanaan.
Sebaliknya, pengusaha-pengusaha besar yang sudah jelas tidak kredibel yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan mereka mengembalikan hutang-hutangnya. Namun, karena kemampuan mereka dalam lobi dan membangun opini, dengan mudah mereka mendapatkan bantuan keuangan.
Yang ingin berbuat baik dan produktif tidak dibantu, yang berbuat jahat dan menyengsarakan malah dengan mudah mendapat bantuan. Inilah anomali yang perlu kita luruskan.
Tentu saja membantu pengemis, menolong orang susah, memberikan infaq dan shodaqoh adalah hal baik yang harus terus dilanjutkan. Namun, membantu pemberdayaan masyarakat yang ingin memberdayakan dirinya lebih dari sekedar menjadi peminta-minta tentu harus menjadi prioritas utama.
Sebelum mengemis benar-benar menjadi candu masyarakat kita marilah kita juga membantu mereka-mereka yang memilih memberdayakan diri mereka tanpa harus meminta-minta. Kita dapat membantu mereka tidak selalu hanya dengan uang. Bisa juga dengan memberi informasi tentang peluang-peluang, membantu mereka meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan, membantu mereka dengan cara apa saja yang kita bisa.
Semoga masyarakat kita bisa menjadi masyarakat produktif. Masyarakat yang merasa mulia dengan bekerja. Masyarakat yang selalu berkeinginan menjadi “tangan yang
di atas”. Semoga.


ARTIKEL BARU

Spiritualisme, Spiritisme dan Sinkritisme


Oleh: Abd Aziz (HIMAS JOGJA JATENG)


Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya.
Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi.
Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme “yang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwa”, dan dinamisme “yang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alam”. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif.
‘Berjiwa’ disini lebih dimaksudkan sebagai punya kekuatan “baik kasat indria maupun tidak” seperti kekuatan untuk penyembuhan, kekebalan, tenaga-dalam dan hal-hal yang bersifat kanuragan sampai yang bernuansa klenik lainnya. Betapapun tampak hebatnya kekuatan yang dimaksud, ia selalu mengandung pengertian dan mengarah pada materi atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik dan ragawi.
Bagi penganutnya, segala sesuatunya hanya bisa disebut nyata ada bila bisa dimaterialisasikan dan kasat-indria. Bila tidak, ia tak nyata. Bagi mereka hanya realitas material-lah yang ada.
Sayangnya, kedua istilah ‘yang berbeda secara diametrikal’ ini seringkali dikacaukan orang. Teramat sering kita saksikan kalau hal-hal yang sebetulnya merupakan bagian dari spiritisme disebut sebagai spiritualisme. Sementara acara televisi dan pembicara serta penlis di media-massa lain punya andil besar terhadap kekacauan atau salah-kaprah ini. Sedihnya lagi, kesalah-kaprahan ini malah sudah menjangkiti sementara kalangan terdidik.
Ditinjau dari tiga sifat dasar makhluk hidup triguna), spiritisme cenderung tergolong pada sifat rajas (aktif, ambisius, dinamis, agresif) dan tamas (pasif, lembam, inersia, gelap); sedangkan spiritualisme cenderung sattvam (proaktif, kalem, seimbang, jernih). Kalau spiritisme sangat eksternalistis, maka spiritualisme lebih bersifat internalistis. Pencarian spiritisme mengarah ke luar diri, sedangkan pencarian spiritualisme mengarah ke dalam diri.

pengaruh spiritulisme terhadap kesehatan jiwa
Menurut kaum spiritualisme, kebahagiaan dan kedamaian bisa dirasakan oleh setiap orang, asal mereka memadang kehidupan dengan cara yang benar. Pada dasarnya sumber dari segala penderitaan dan tekanan yang dihadapai adalah bersumber dari keinginan atau angan-angan.
Nah, kira-kira apa maksudnya dengan angan-angan?
Angan-angan, dalam pemahaman saya adalah mengharapkan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan dalam kehidupan kita. Dan saya yakin kebanyakan dari kita memiliki angan-angan.
Namun menurut pandangan kaum spiritulisme, semakin tinggi angan-angan maka seseorang semakin tidak merasakan tentram dan kedamaian hati. Ia kemudian dikuasai oleh angan-angannya itu sendiri. Seolah hidupnya bakal hancur dan tidak bahagia kalau apa yang menjadi angan-angannya tidak terpacai. Sehingga semakin tinggi angan-angan seseorang maka semakin besar pula kecemasannya dan kekhawatirannya jika angan-angannya tidak tercapai.
Orang yang berambisis mengejar karir akan menjadi cemas ketika menghadapi tantangan mencapai tujuannya tersebut. Seorang muda yang ingin mengejar jabatan akan menjadi cemas ketika terjadi pergantian kepemimpinan di kantornya dimana muncul khawatir ia tidak lagi diperhitungkan.
Dan ketika gagal meraih tujuannya banyak orang yang kemudian menganggap bahwa hidup mereka telah hancur. Seperti halnya yang terpadi pasca pemilu 2009 dimana banyak calon legislatif yang tidak terpilih menjadi anggota legislatif menjadi frustrasi dan bahkan menjadi gila. Karena seolah hidupnya tidak lagi bermakna jika ia tidak mendapatkan tempat di Dewan Perwakitan Rakyat.
Menurut kaum spiritualisme, angan-angan berasal dari nafsu. Nafsu pada dasanya muncul dari dorongan intenal tubuh manusia untuk memenuhi kebutuhnannya. Misalnya angan-angan untuk mendapatkan makanan yang enak berasal dari nafsu untuk makan. Namun adakalnya nafsu ini bisa menghasilkan angan-angan yang seolah sangat penting bagi kehidupan manusia pada hal tidak. Seperti nafsu akan kekuasaan sehingga menciptakan angan-angan untuk mendapatkan jabatan.
Namun sebagaimana nafsu akan makanan yang tidak pernah mati selama manusia hidup. Maka nafsu lainnyapun tidak akan pernah mati dan terus menciptakan angan-angan untuk dikejar oleh manusia. Jadi ketika seseorang sudah mendapatkan jabatan sebagai manager maka akan muncul lagi angan-angan untuk mendapatkan posisi sebagai Dirut.
Sepasang suami istri yang sudah mendapatkan angan-angannya untuk menikah kembali merasakan kekhawatiran karena setelah menikah selama 1 tahun belum juga memiliki keturunan. Seorang sarjana yang sudah mendapatkan pekerjaan mulai cemas karena selama 5 tahun bekerja ia belum memiliki rumah.
Angan-angan tidak pernah mati dan bakal mendatangkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita. Oleh sebab menurut kaum spiritualisme, untuk mematikan angan-angan harus diawali dengan pengendalian hawa nafsu, ambisi dan keinginan yang berlebihan terhadap masa depan. Serta menikmati apa yang terjadi pada hari. Membuka diri terhadap keunikan yang bisa diraih pada saat ini dan bukan besok. Dan sesunggunya sumber kebahagian tidak berasal dari sesuatu di luar kita melainkan dari dalam diri kita. Jika kita menikmati makanan, sebenarnya kesenangan yang kita peroleh bukan berasal dari makanan yang kita peroleh, karena orang yang sedang sakit gigi atau terkena sakit pencernaan sulit merasakan kenikmatannya walaupun makanan yang dimakan sama.
Bagi kaum spiritualisme kehidupan mereka tidak dituntun oleh angan-angan melainkan hati nurani yang akan memberikan pengajaran tentang apa yang harus mereka lakukan untuk hari ini. Dan langkah yang mereka pilih untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersentuhan langsung dengan hati nurani adalah melalu meditasi. Dia manusia mengosongkan pikiran, merasakan kedamaian lepas dari angan-angan dan belajar untuk mendengar hati nurani.
Dan apa yang bisa kita pelajari dari pandangan kaum spiritulisme? Tentu pertama kita diingatkan untuk jangan terlalu larut dengan berbagai target-target atau ambisi untuk meraih sesuatu di masa depan dengan mengorbankan masa sekaran. Ingat bahwa semakin tinggi ambisis kita mengejar sesuatu maka akan semakin sering kita merasa cemas dan tidak tidak damai.
Kemudia berhat-hati dengan kemungkinan tujuan kita tersebut menyederhanakan kehidupan kita. Seolah-olah ketika apa yang menjadi harapan kita tidak tercapai maka kehidupan kita menjadi gagal atau kita tidak mungkin merasa bahagia.
Kendalikan nafsu anda, biarkan diri Anda menikmati hari dengan rasa damai. Jika dimungkinkan siapkan waktu dalam kehidupan Anda untuk sejenak hening atau bermeditasi. Dimana Anda melepaskan diri Anda dari berbagai macam tujuan atau target-target yang membebani Anda.
Dan penting diingat bahwa kebahagiaan yang bisa kita alami bukan berasal dari apa yang kita raih, tapi sesungguhnya berasal dari diri kita. Akan sangat mudah seseorang untuk merasa jenuh dengan keberhasilan yang ia peroleh dan tadinya begitu ia idamkan.
Kedamaian adalah persoalan hati, demikian menurut seorang spiritualisme. Hal ini diraih tidak dengan sekedar mengejar tujuan atau angan-angan. Namun dengan membiasakan diri untuk mendengarkan hati nurani, yang biasanya mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar, melimpah dengan empati dan keinginginan untuk berbuat kebaikan. Dan jika itu dilakukan, kebahgiaan juga bisa dirasakan. Hebatnya hal ini bisa dilakukan hari ini tanpa menunggu besok.
Itulah sebabnya maka seorang spiritulis bisa merasakan ketentraman meskipun berada di tengah kondisi kehidupan kota yang bising. Dan semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan kita. Jadi tidak ada salahnya belajar dari kaum spiritualisme untuk membuat jiwa Anda sehat dan tentram.


artikel baru

BERQURBAN ALA SOCRATES DAN

GALILEO GALILEI

(berkurban dalam pemaknaan substantif)*

Oleh : Minhadzul Abidin

(Mantan Ketua PP HIMAS 2007-2009)

PENDAHULUAN

Qurban merupakan integrasi ritual dari perjalanan Nabi Ibrahim beserta keluarganya, sejarah Awal Qurban sebenarnya sudah dimulai pada masa Nabi Adam AS, sebagaimana dijelaskan Oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27 : "Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari meraka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), Ia berkata : "Aku pasti membunuhmu!". Sampai pada zaman Nabi Ibrahim AS bermimpi (ruyal Haq). Dalam impiannya ia mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail dan sampai di Mina beliau menginap, beliau mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah malamnya di Mina, masih bermimpi yang sama juga. Betapa ujian Berat kepada Nabi Ibrahim as. Supaya menyembelih putra kesayangannya. Itulah yang dijelaskan dalam surat Ash-Shaffaat ayat 102.

QURBAN merupakan ritual rutin yang cukup dramatis dan problematik. Dramatis, karena ritual ini konon diadopsi dari perilaku Ibrahim yang rela menyembelih Ismail sebagai bukti kecintaannya kepada sang Rabb. Sebagai wujud penghargaan terhadap perilaku bapak para nabi itulah, fenomena tersebut kemudian ditetapkan sebagai ritual rutin bagi umat Islam. Problematik, karena ritual ini mengundang banyak persoalan mendasar seputar proses pelaksaanaannya. Sebut, mengapa ungkapan cinta hanya dibuktikan satu kali dalam setahun? Mengapa harus berupa binatang-binatang tertentu? Mengapa harus dilakukan pada hari-hari tertentu? Jika dikatakan sebagai pengorbanan kepada Allah, mengapa sembelihan itu justru dipersembahkan kepada manusia? Apa bedanya dengan sesajian yang diberikan kepada pohon dan batu-batu seperti kepercayaan animisme? Beberapa pertanyaan ini dihadirkan bukan untuk dijawab secara implisit, tetapi sekadar untuk menghantarkan kepada sebuah kesadaran, bahwa dalam ritual ini terdapat kandungan substantif—maksud Allah—yang belum kita pahami secara utuh.

MAKNA SUBSTANTIF QURBAN

Sebenarnya konsep Qurban pemaknaannya tidak bisa kita eksklusifkan hanya pada tataran jumlah kambing atau hewan ternak lainnya yang kita kurbankan, tetapi pada hikmah lain yang sangat penting di balik syariat ibadah ber-udhiyah, yakni adanya keterkaitan yang sangat erat antara udhiyah (berqurban, menyembelih hewan qurban) dan tadhiyah (berkorban secara umum), baik secara bahasa maupun secara makna. Secara bahasa, udhiyah dan tadhiyah berasal dari kata dhahha yudhahhi yang berarti berqurban dan berkorban sekaligus. Adapun secara makna, ber-udhiyah adalah bagian dari tadhiyah, karena memang esensi dari ibadah qurban (ber-udhiyah) adalah pengorbanan itu sendiri.

Makna yang dapat diperoleh dari pemahaman terhadap konteks di atas adalah, bahwa pengorbanan yang sebenarnya dikehendaki Allah adalah mengorbankan sesuatu yang paling dicintai. Karena, kalau Allah menghendaki pengorbanan tersebut berupa binatang ternak, sebagaimana layaknya dilakukan oleh umat Islam saat ini, Allah tidak mungkin memerintahkan Ismail untuk dikorbankan dalam mimpi Ibrahim. Seekor domba yang besar hanya dijadikan sebagai badal, setelah kesetiaan dan cinta kasih Ibrahim terhadap Allahnya teruji. Selain itu pemaknaan memang bisa dimaknai seperti itu. Peristiwa itu bisa dimaknai sebagai pesan simbolik yang menunjukkan kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah. Tapi penilaian yang lain mungkin bisa juga diungkapkan misalnya, apakah mungkin peristiwa penyembelihan itu dilakukan terhadap orang tertentu tanpa dilandasi kesalahan yang dia perbuat. Maksudnya ketika manusia sudah lupa dan sangat cinta kepada sesuatu dan mengalahkan cintanya kepada Rabb-nya.

KEBENARAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Kepasrahan dan keihklasan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan demi sebuah kebenaran. itulah inti yang diprioritaskan dalam berkurban, sejarah berkurban mungkin kita bisa kaitkan dengan semangat para intelektual karena demi mempertahankan kebenaran ilmu penegathuan mereka harus korbankan bukan hanya harta bahkan nyawa. Karena pada hakikatnya para inteletual tersebut adalah Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Dan seringkali berbenturan dengan dengan realitas social baik itu dengan kepentingan penguasa atau teks kitab suci yang sengaja di intrepretasikan sesuai dengan kepetingan kaum kaum agamawan yang mencoba mengeskploitasi kitab suci.

lmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun kebenaran-kebenaran merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan keyakinan adalah kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai oleh manusia, yaitu ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan sejarahnya sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia dikaruniai budi sehingga mampu memahami, mengerti, dan memecahkan persoalan – persoalan yang ada di sekitarnya. Tentu saja kemampuan manusia ini tidak diperoleh begitu saja. Melalui pengalaman, pendidikan, lambat laun manusia memperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu yang terjadi di liongkungannya. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah didapatnya. Rasa ingin tahu , ingin mengerti yang merupakan kodrat manusia membuat manusia selalu bertanya-tanya apa ini, apa itu, bagaimana ini, bagaimana itu, mengapa begini, mengapa begitu. Pertanyaan – pertanyaan ini muncul sejak manusia mulai bisa berbicara dan dapat mengungkapkan isi hatinya. Makin jauh jalan pikirannya, makin banyak pertanyaan yang muncul , makin banyak usahanya untuk mengerti. Jika jawaban dari pertanyaan –pertanyaan tersebut mencapai alasan atau dasar, sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya, maka puaslah ia dan tidak akan bertanya lagi. Akan tetapi, jika jawaban dari pertanyaan itu belum mencapai dasar, maka manusia akan mencari lagi jawaban yang dapat memuaskannya.

Untuk apa sebenarnya manusia bertanya-tanya dan mencari jawab dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Semua itu dilakukan karena manusia ingin mencari kebenaran. Jika ternyata bahwa pengertiannya atau pengetahuannya itu sesuai dengan hal yang diketahuinya, maka dikatakan orang bahwa pengetahuannya itu benar. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Namun kebenaran itu ternyata tidak abadi. Artinya sesuatu yang pada suatu saat dianggap benar di saat yang lain dianggap tidak benar. Ini semua terjadi karena dinamika manusia yang selalu bergerak dan ingin mendapatkan sesuatu yang baru.

BERQURBAN ALA INTELEKTUAL

Socrates dalam sejarahnya banyak menemukan pertentangan sehingga demi sebuah kebanran ilmu pengatahuan Socrates menjalani hukuman matinya sendiri dengan minum racun yang disodorkan kepadanya. Socrates dihukum mati atas tuduhan bahwa ia tidak bertanggunjawab dan 'korup'. Menurut beberapa penulis, Socrates dihukum mati , adalah disebabkan oleh aliran fikiran yang dianut dan disebarkannya. Falsahnya bertolak belakang dengan pemikiran dan tradisi saat itu. Socrates dituduh melecehkan Allah dan tradisi kepercayan. Misalnya, Socrates menganjurkan, bahwa adalah
perlu untuk berbuat menurut apa yang dianggap benar, meskipun hal itu berlawanan dengan oposisi universal, dan bahwa adalah perlu untuk menuntut ilmu meskipun hal itu mendapat tantangan. Meskipun Socrates mengaku bahwa yang diketahuinya adalah bahwa ia 'tak tahu apa-apa',
namun, ia menganggap bahwa dengan mempetanyakan segala sesuatu, yaitu suatu sistim mencari kebenaran dengan cara berdialog, cara yang
kemudian dikatakan sebagai cara dialektis, maka orang akhirnya akan mencapai kebenaran. Mempertanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu yang dianggap benar ketika itu, teristimewa oleh penguasa, itu adalah suatu tantangan dan kejahatan tingkat 'berat' yang ketika itu diganjar dengan hukuman mati. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melaluipembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.

Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepaAllahnya pada satu "kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus.

Lain lagi dengan cerita Galileo Galilei setelah melakukan riset, akhirnya berhasil menyempurnakan teropong bintangnya. Dengan menggunakan teropong tersebut, Galileo berhasil mengamati pergerakan benda-benda luar langit. dan berpendapat bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang dipahami gereja pada waktu itu.

Karya-karyanya antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua. Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus.

Pada 19 Januari 1616, Galileo membuat dua statemen:

(1) Matahari adalah pusat galaksi dan

(2) Bumi bukanlah pusat tata surya.

Pendapat Galileo dan dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan dia berhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan karena dia telah menghina keyakinan yang sudah berkembang ketika itu seputar wahyu ilahi di dalam Injil yang mengatakan bahwa bumi datar dan bumi adalah pusat tata surya

Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan Gereja yang mempunyai doktrin Infallibility (tidak pernah salah) karena merupakan wakil Kristus di muka bumi. Sampai abad ke-17, Gereja masih tetap berusaha mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi Gereja, dianggap sebagai heresy (kafir) dan dihadapkan ke Mahkamah Inquisisi.

Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya di tahun 1616, sehingga pada 24 Februari 1616, sekelompok pakar teologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan (Holy Office) menyatakan, bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan Bible. Maka, Paus Paul V, meminta Kardinal Bellarmine untuk memperingatkan Galileo dan melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.

Perkembangan selanjutnya adalah masyarakat Eropa mulai tersadar, bahwa selama ini mereka dibohongi oleh gereja dengan segala bentuk teori dan pahamnya tersebut. Sehingga mengakibatkan sentimen dan anti gereja meluas dikalangan masarakat Eropa.

Tahun 1632 Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena, dilanjutkan dengan ancaman hukuman mati pada tahun 1633 oleh Mahkamah Inkuisisi (Inquisisi), yaitu Dewan Peradilan Gereja Katolik Roma yang berwenang menghukum para pembangkang dengan hukuman mati, dirajam atau dibakar. Galileo diajukan ke pengadilan gereja Italia pada 22 Juni 1633. Selanjutnya pada Disember 1633, Galileo dipindahkan ke Arcetri

Di depan Mahkamah Inkuisisi, Galileo keyakinannya tidak goyah hanya pura-pura 'bertobat; dan berjanji tidak akan menyebarkan lagi teori heliosentrisnya itu. Di depan Mahkamah Gereja itu, Galileo menyatakan akan menghapus semua opini yang salah, bahwa matahari adalah pusat dari jagad raya dan tidak bergerak, dan bahwa bumi bukanlah pusat jagad raya dan bergerak. Ia berjanji tidak akan mempertahankan atau mengajarkan doktrin yang salah tersebut, dalam bentuk apa pun, secara verbal atau melalui tulisan.

Pada akhir pernyataan itu ditambahkannya dengan suara berbisik, "Bagaimanapun ia toh tetap bergerak juga." Yang ia maksudkan dengan ia ialah bumi tempatnya berpijak.

Galileo akhirnya tidak dijebloskan ke dalam penjara tetapi sekedar kena tahanan rumah di Arcetri. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya

Sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu, sehingga munculah ide dan pendapat perlunya pemisahan Agama dan Ilmu pengetahuan akibat traumanya masyarakat barat dengan otoritas gereja pada saat itu hingga berlanjut sampai saat ini.

Hal tersebut tidak akan terjadi jika adanya korelasi yang sejalan antara kitab suci dengan Ilmu pengetahuan.

Generasi berikutnya amat beralasan mengagumi Galileo sebagai lambang pemberontakan terhadap dogma dan kekuasaan otoriter yang mencoba membelenggu kemerdekaan berfikir. Arti pentingnya yang lebih menonjol lagi adalah peranan yang dimainkannya dalam hal meletakkan dasar-dasar metode ilmu pengetahuan modern

Akhirnya pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh pihak gereja, maka gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah merehabilitasinya.
Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi yang mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.

PENUTUP

Mungkin menjadi gambaran bagi kita bahwa berkurban tidak selamanya berkaitan dengan berapa jumlah hewan ternak yang kita kurbankan atau romatisme sejarah Nabi Ibrahim, tetapi ada hal yang lebih penting tentang pemaknaan qurban sebenarnya., Socrates dan Galileo dan Galilei telah membuktikan kepasrahan dan ketundukan terhadap kebenaran, saya yakin kebenraran yang dimaksud adalah kebenaran yang mutlak Allah SWT, dengan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kebenaran ilmu pengetahuan.

Dan berkurban harus menjadi peringatan bagi umat manusia jangan sampai lupa dan terlalu bangga dan cinta dengan kenikmatan yang ada di dunia, kurban adalah pembebasan dari penjara kenikmatan yang membuat lupa terhadap Allahnya dan kasih saying sesama manusia.

SELAMAT HARI RAYA QURBAN 1430 H. SEMOGA KITA MEMAHAMI BAHWA DENGAN QURBAN ALLAH TIDAK MAU CINTANYA TERBELAH DUA.

*Dari berbagai sumber

..

..

..

..

puisi

DALAM KETELANJANGAN

Dian soeto; Dalamnya

I
Dunia merinding ditetesi leburan tembaga

Segala jejak mengeja helai-helai samudra
sejak itu pula angin menggong-gong
menentang kematian.

II
Pusara lelah menagis di lecehkan arwah-arwah
sementara angka-angka menguak perjalanan waktu
dan sepi memanah rembulan di altar perbukitan
Aku dan kau adalah ketelanjangan _
yang disenggama almanak dan zaman

III
Angin masih menyelinap mimpi
tengah malam kita
dengan deru kelam meringkikkan rebana jantung
lalu kita hardik air mata deras itu _
untuk merakit kepingan bangkai sejarah
yang bermula dari makna dan berakhir derita

IV
Kita belum sampai pada dermaga penghabisan_
tapi
demdam memburu pagi hingga retak mata hari_
di punggung langit
Mari kita tuangkan embun
sebab kerongkongan ibu tersumbat dahaga

V
Disinilah kita mengakar jejak
Meneteskan lelah
Menghitung angaka-angka dedaunan
Pohon-pohon tergilas luruh
Menenggelamkan rembulan di meja purba
Sementara ketelanjangan setia mendeburi kita

sastra

KONTEMPLASI 1000 WAJAH *

Di publikasikan oleh :

Muarif Rahmatullah

TUHAN, negeri kecilku yang berjuluk “kota santri” telah luluh lantak oleh banjir bandang yang Engkau kirimkan. Puluhan bahkan ratusan nyawa melayang. Deras air mata tak lagi bisa dibedakan dengan bah yang menyeret segenap harta benda. Bilik dan gubuk orang-orang kecil rata dengan tanah bersama-sama gedung-gedung angkuh. Jalan-jalan protokol yang licin dan lebar serta gang-gang kecil tersulap menjadi sungai dan parit dengan riak mengerikan.

Ah, mau Kau apakan kotaku yang sedari dulu lugu, ramah, dan damai. Tak seberapa tahun silam, tempat-tempat ibadah milik sahabatku terbakar hangus menyisakan puing hitam. Berikade pohon asam yang seharusnya merindangi jalanan, roboh tak berdaya akibat gergaji dan sensu kemarahan.

Kupikir hanya itu yang Kau timpakan buat kami. Kukira hanya alam yang akan porak-poranda. Kami tak begitu khawatir, karena cukup dengan ”uang” membangunnya untuk kembali jenggereng.

Nyatanya tidak. Sendi-sendi kemanusiaan hancur pula. Nilai-nilai moral terberangus. Ruh persahabatan dan perdamaian tercabik. Jati diri etika dan kesopanan karam. Nafas kebersamaan dan senasib sepenanggungan beraroma kentut busuk. Semua itu telah tergantikan egoisme, kepentingan dan ambisi orang-orang yang seharusnya meneriakkan “haram” terhadap itu semua.

Apakah hanya karena persoalan politik kotaku akan kehilangan rahmat-Mu? Jangan !

***

Ya Allah, maafkan bila aku bertanya mengapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya alasan Mu menjadikan dua tokoh pengambil kebijakan kotaku dan sama-sama disegani, berseteru atau diseterukan oleh para penjilat? Sekali lagi, maafkan aku, Gusti. Sebab olah nalar kami tak mampu menjangkau memetik kesimpulan. Jiwa kami bisanya hanya mendesis pilu, meski sebenarnya pertanyaan ini sangat sederhana bagi-Mu.

Telah coba berkali-kali kami pikirkan, kami telaah, namun demikian rumit dan kusut, hingga rambut kami tak bersedia, rontok lantaran tak lagi ada ruang buat menampung helai-helai rambut kami yang berjatuhan.

Di sudut kamar yang pintu dan jendelanya tertutup rapat, coba kurenungi tentang mimpi rembulan yang tawarkan nyanyian syahdu. Namun, sekonyong-konyong sinarnya membias bentangkan seribu wajah yang berbeda-beda.

Di wajah pertama, tampak aku seperti seorang jebolan pesantren yang tiba-tiba berubah menjadi Don King dengan “tiara” rambut jabriknya. Sebagai promotor, dengan bangganya kunaikkan dua petinju yang sama bergelar kyai, agar bertarung bak Holifield dan Tyson. Yang satu menyeruduk dan yang lain menggigit kuping telinga. Kalau perlu harus sampai berdarah-darah. Aku puas, karena dari pertarungan itu aku dapat uang, ketenaran, kedudukan, kemewahan dan tentu saja nilai tawarku ikut naik. Tak peduli, mereka pernah berjasa atau tidak padaku.

Di wajah yang lain, betapa manjanya, aku sebagai cucu dari seorang raja yang penuh titah. Kewibawaan kakekku kugunakan sebagai senjata Aji Mumpung dan pamungkas. Aku tahu benar betapa kakekku akan sedih muram bila aku merengek, menangis karena tak kebagian permen, misalnya. Maka kakek akan bertitah dari atas singgasananya yang agung: “Wahai para punggawa kerajaan, kalau kalian ingin menghadap dan memperoleh restuku, laporlah dulu pada cucu kesayanganku yang manis itu. Dan jangan lupa, berilah ia permen atau apa saja yang ia minta. Kalau tidak, jangan pernah bermimpi bisa menghadap dan mendapat restuku”.

Pada wajah yang berikutnya kurasakan ada dua muka dalam satu wajahku. Soal ada berapa muka bagiku tak penting. Yang penting adalah bagaimana agar aku tetap bisa jual muka. Tak peduli apakah harus dengan cara berpura-pura, munafik atau bahkan membunuh kawan sendiri. Sebab hanya itu cara yang kupunya untuk terus mempertahankan posisi strategiku.

Sementara pada wajah selanjutnya kadang aku bersorak, kadang geram, kadang getir, kadang was-was, kadang riang tak terperi. Sebab sebagai penonton, hanya itu yang bisa kulakukan sembari melihat dan menunggu kesempatan. 996 wajah lainnya bopeng dan tak jelas bentuknya.

  • catatan : tafakkur ini sering dipuisikan oleh Habib Abdullah al Jufri, Ketua Dewan Syura PAC Asembagus, di hadapan peserta Pendidikan Dasar Politik.
  • Tak bosan-bosannya, seperti biasa saya berkontemplasi, merasa terpanggil untuk menulis tentang refleski hari pahlawan…meskipun kali ini dalam bentuk puisi, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hari pahlawan…tapi saya pikir, lebih baik berbuat sesuatu dari pada tidak berbuat sama sekali..selebihnya saya serahkan pada penilaian masing-masing orang. SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOPEMBER; “setiap 100 tahun sekali akan ada pahlawan yang mampu memecahkan persoalan umat dan bangsa”. Semoga kita menjadi bagian di dalamnya…

artikel baru

“BAM” YES, “BAM” NO !

Oleh : M u a r i f

Ketika saya membaca beberapa komentar kawan-kawan himas di buku tamu Blog tentang BAM/Barisan Anti Maksiat, (meskipun secara pribadi saya lebih enjoy menamakan Barisan Amar Ma’ruf ketimbang Barisan Anti Maksiat, karena “Anti Maksiat” menurut saya seolah-olah mengandung arti pribadi-pribadi yang sempurna yang tidak pernah berbuat maksiat), keinginan saya untuk berkecimpung dan merasa terpanggil berkomentar, sehingga lahirlah tulisan ini.

Secara pribadi, barangkali kawan-kawan himas yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Abu Hurairah sudah tidak merasa asing dengan BAM ini. Seingat saya, BAM ini marak terakhir kalinya ketika saya duduk di kelas I (satu) Mts, setelah itu hilang entah kamana.

Diakui memang bahwa Pembicaraan tentang akhlak tidak jarang menimbulkan perasaan tercampur antara dorongan dan hambatan. Perasaan terdorong untuk “berani” membicarakan akhlak karena keinsafan kemanusiaan universal bahwa memang ada budi pekerti dalam masyarakat. Perasaan terhambat muncul karena khawatir terjebak dalam konotasi negative ejekan “sok moralis”. Tetapi dalam banyak hal, kita sering berhadapan dengan dua keburukan, dengan kemestian moral untuk menempuh mana yang ringan.

Dalam urusan pembicaraan akhlak ini pilihan itu anatara dua keburukan; pertama, membiarkan secara sadar kemerosotan akhlak dalam masyarakat dengan segala konsekwensinya. Kedua, menanggung beban kejiwaan karena disebut sebagai “sok moralis”. Siapapun dengan akal sehat yang wajar tentu akan memilih yang pertama, sebab membiarkan masyarakat hancur karena kemerosotan moralnya adalah suatu tindakan tidak bertanggung jawab dan sikap seperti itu sendiri adalah juga suatu jenis tindakan tidak bermoral. Sementara, menghindarkan diri dari sebutan tidak menyenangkan sebagai “sok moralis” kedengarannya cukup menarik. Tetapi, bukankah suatu jenis egoisme jika kita memilih untuk hidup “tenang” sendiri sementara masyarakat runtuh.

Terlepas dari itu semua, BAM (Barisan Anti Maksiat) yang menjadi fenomenal di sapeken menurut saya menarik untuk dicermati. Menarik karena BAM lahir sebagai respon terhadap permasalahan dekadensi moral (prostitusi terselubung, praktek miras, judi, dan tindakan yang bertentangan dengan moral) yang dirasakan di kepulauan sapeken. Di sisi yang lain, Hadirnya BAM di tengah masyarakat, tidak lepas dari kurang efektifnya kekuasaan negara (dalam hal ini pihak kepolisisan) dalam membangun kultur dan kondisi yang kurang kondusif, termasuk peran aktif polisi di tingkat lapangan. Dalam banyak kasus, polisi tidak mampu mencegah terjadinya kekerasan dan pelanggaran hokum, kemudian datang ketika kasus kekerasan telah selesai

Jika ditarik ke “atas”, BAM lahir sebagai konsekwensi logis dari deklarasi syari’at islam di sapeken beberapa tahun yang lalu. Di Indonesia, beberapa tahun terakhir memang ada upaya untuk mengembalikan tujuh kata dalam anak kalimat yang kemudian di kenal dengan Piagam Jakarta dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar, tetapi sebenarnya ini hanya merupakan isu politis. Jika ditarik ke “atas” tidak lepas dari perdebatan hubungan islam dan Negara sebagaimana yang terjadi dalam sidang konstituante pada saat itu.

Di beberapa literature, ada tiga teori relasi islam dan Negara; pertama, teori integralistik, islam dan Negara adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan ibarat dua sisi mata uang, islam tidak hanya berbicara persoalan ukhrowi tapi juga bicara tentang Negara dan kekuasaan. Dengan kata lain, islam tanpa Negara tidak akan bertahan lama, Negara tanpa islam akan kering. Kedua, teori sekuleristik, yaitu agama dan Negara berdiri secara terpisah. Karena agama adalah wilayah sacral dan Negara wilayah profane. Dengan demikian, penganut paham ini dengan lantang berteriak; ‘serahkan agama pada kaum agamawan, dan serahkan kekuasaan pada raja”. Ketiga, teori yang disebut dengan mutualisme simbiosis yaitu antara agama dan Negara salaing menguntungkan, dengan demikian, secara formal, dasar Negara tidak perlu formal islam, yang penting substansi, masyarakat dalam suatu Negara mencerminkan nilai-nilai islam.

“Sesungguhnya aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan moralitas --bangsa”

(AL HADITS)

Hukum tidak dapat dipisahkan dari aspek moral. bila hukum belum ada secara kongkrit yang mengatur, dan moralitas telah menuntut ditransformasikan, maka moralitas haruslah diutamakan. Kebebasan berekpresi tidak boleh bertentangan dengan moralitas, karena negara kita berfalsafahkan pancasila yang memuat nilai religious, yakni moralitas.

Sebagaimana telah maklum bahwa negara kita adalah negara hukum. Artinya segalanya harus ditundukkan di bawah hukum, tanpa ada diskriminasi. Akan tetapi hukum bukanlah segala-galanya. Hukum bukanlah suatu tujuan. Hukum itu sendiri diciptakan bukanlah semata-mata untuk mengatur, tetapi lebih dari itu untuk mencapai tujuan yang luhur, yakni keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.

Hukum sebagaimana disebutkan di muka, harus mencakup tiga unsur, yakni kewajiban, moral dan aturan. Hukum itu sendiri bukan merupakan tujuan, tetapi sebagai tool untuk menuju tujuan yang tinggi, yakni maqâshid al-syarî`ah. Maqâshid al-syarî`ah ini tidak bertentangan dengan HAM, bahkan meliputi HAM itu sendiri. Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa hak-hak individu itu tidak boleh bertentangan dengan hak-hak agama, yakni tidak boleh mengabaikan aspek moral.

Secara konkrit saya ingin mengatakan, Jika BAM lahir karena rasa prihatin serta didasari panggilan moral untuk memperbaiki moral masyarakat, saya pikir kenapa tidak, dan kita harus dukung. Tetapi penting untuk menjadi catatan, jangan sampai dalil-dalil agama menjadi dasar pembenaran dalam melakukan anarkisme yang berlebihan karena terlalu bersemangat beramar makruf dan nahi munkar. Jika itu terjadi, saya khawatir akan menodai semangat mulia ini dan menambah deret panjang kasus kekerasan dalam agama. Jika demikian kenyataannya, maka harus kita TOLAK DAN LAWAN !.

Oleh karena itu, dalam al qur’an gerakan amar makruf-nahi munkar harus berangkat dari kesadaran iman : “kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah…”.

Kehadiran BAM perlu dilihat secara bijak, tidak dengan penuh kebencian dan merasa kebakaran jenggot karena privasi seseorang misalnya terganggu. mengKritik pada orang lain harus dilakukan secara seimbang dengan mengkritik pada diri sendiri, dengan melakukan perimbangan antara mengkritik pada diri sendri dan orang lain akan memunculkan sikap bahwa tidak ada yang perlu dibela secara mati-matian dan dibenci secara habis-habisan.

RESENSI BUKU HIMAS

RESENSI BUKU

Judul Buku : Dari Kepulauan Untuk Indonesia:

(Segenggam Inspirasi di Pojok Nusantara)

Penulis : Kader dan Alumni HIMAS

Editor : Sudarman, MA, Rahmatul Ummah

Penerbit : PT. Tinta Mas Indonesia

Cetakan : Agustus, 2009

Tebal : 229 halaman

Presentator : M u a r i f

Dalam tulisannya, Elan vital perjuangan, Daoed Joesoef sebagaimana yang dikutip dalam Pengantar Buku “Obama-Obama Indonesia; Yang Muda, inspirasi Perubahan” dengan sangat menarik beliau menulis soal mitos Musais dan mitos Jacobis. Isi utama mitos musais adalah pemberontakan melawan ketidak adilan, sedangkan kandungan utama mitos jakobis berupa pemunculan elit baru, dan karena “baru” adalah “muda”. Demikian Daoed Joesoef menafsir. Musa hadir di tengah-tengah tirani fir’aun, dengan semangat revolusioner, menumbangkan tatanan tirani. Tapi lain halnya Sang Jacob, yang dititahkan untuk membangun kembali, mereformasi sebuah tatanan. Dua mitologi di atas sepasang, bergandengan, tak terpisahkan. Habis Revolusi, terbitlah Reformasi.

Reformasi memang telah usai di ahun 98. Sejarahpun tidak bisa dibohongi bahwa peran pemuda ada di dalamnya. Saat itu kekuasaan Soeharto dan rezim orde baru tumbang. Tapi gerakan pada tahun tersebut sebenarnya adalah sebuah pemberontakan; melawan ketidak adilan, tirani, dan kesewenangan. Artinya, ada semangat revolusioner di sana, melalui upaya peruntuhan segala tatanan lama yang dinilai tidak demokratis. Di tahun itu, élan vital mitos musais telah ditunaikan. Kewajiban selanjutnya adalah mewujudkan semangat mitos jacobis; membangun tatanan Indonesia baru.

Bagaimana Dengan Sapeken ?

Mengkaji akar sejarah gerakan perubahan di kepulauan sapeken pada hakikatnya adalah mengkaji sejarah umat islam sapeken secara mikro dan sejarah bangsa Indonesia secara makro. Sebab, gerakan-gerakan perubahan yang terjadi mempunyai akar histories sekaligus mata rantai yang berkesinambungan.

Masyarakat sapeken tak ubahnya seperti kondisi social masyarakat lainnya. Secara sederhana dapat kita gambarkan ketika itu kondisi masyarakat sapeken telah memiliki konflik horizontal dan jauh tertinggal. Kedua, maraknya praktek agama yang berbau animisme dan dinamisme yang kemudian disebut dengan penyakit TBC (Takhayyul, Bid’ah, dan Churafat) merupakan realitas kondisi nyata yang berkembang di tengah masyarakat.

Tampillah kemudian sosok Ustad Ad Dailamy yang gelisah melihat kondisi masyarakatnya. Beliau adalah sosok reformer sekaligus tokoh representatif pada masanya. Artinya, revolusi musa telah ditunaikan.

Kini, berapa puluh tahun kemudian, mitos sang jacobis menggeliat. Anak-anak muda yang terhimpun dalam wadah organisasi HIMAS yang bertebaran di seantero nusantara. Himas yang lahir dari kegelisahan dan kegundahan generasi muda kepulauan yang sudah lelah dan pengap dengan penjajahan system kebijakan yang irasional dan ekspolitasi sumber kekayaan bahari sekaligus kondisi kepulauan yang termarginalkan. Maka, tugas mereka adalah mewujudkan tatanan baru masa depan kepulauan menuju kemajuan dan kesejahteraan.

Membangun masa depan kepulauan yang lebih baik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Membangun tidak hanya fisik, akan tetapi lebih penting adalah mental. Yang dirubah bukanlah fisik dari pulau itu, tapi yang dirubah adalah mentalitas orang-orangnya. Ini merupakan proyek investasi kemanusiaan. Maka, tugas paling mendasar adalah bagaimana membangun Sumber Daya Manusia yang mumpuni, yakni melalui pendidikan. Dan ini tugas HIMAS sebagai komunitas “terdidik”.

Buku “DARI KEPULAUAN UNTUK INDONESIA; Segenggam Insprasi Di pojok Nusantara” sudah demikian komplit, di dalamnya kita temukan beragam pemikiran; ada harapan, renungan, mimpi, sekaligus tawaran progresif untuk kepulaun sapeken tercinta. Anak-anak muda kepulauan yang tidak hanya pandai menangkap ikan, mendayung perahu, dan merakit jaring. Buku yang ditulis oleh anak-anak muda kepulauan ini merupakan buah pikiran dan renungan di tengah kesibukan kuliah dan bertahan hidup di kota-kota besar.

YANG MUDA, INSPIRASI PERUBAHAN. Begitulah kira-kira kesimpulan dari buku ini.

Puisi

BIAS KENANGAN

(John RF, Banyuwangi 151009)

Bila musin berganti jawabmu, masih kusimpan
Simaklah cahaya yang terbit di rahang senja
Dan jika malam telah tiba
Percayalah mimpi masih bisa mempertemukan kita
Kujinjing waktu, separuh usiaku t'lah berjalan
Dalam kelam yang menawarkan bahaga
Meski jiwa tak ranggas seperti bunga
Namun hati tetap membaja tuk meraih bahagia
Hari-hari berubah mengikuti irama waktu
Dan kenanganpun tertinggal seperti gambar
Tapi hidup bukanlah peristiwa diatas kanvas
Hidup adalah suatu keniscayaan yang berjalan
Dan mengalir seperti air
Yang berjalan dan tak berbekas
Hanya akan kehilangan jejak dan langkah
Yang melangkah tanpa tujuan
Hanya akan kehilangan mata arah
Bunga yang menarikan pesona laut
Laut yang menarikan gelombang
Rembulan tersikap awan
Namun disini, dihati ini yang tertinggal hanyalah kenangan

Artikel NEW


INSAN ULUL ALBAB:

DZIKIR, FIKIR, DAN AMAL SHALEH

(Sebuah Tafsir Penjelasan Tujuan HIMAS)

Oleh : Muarif

(Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Himas)

Pendahuluan

Sesungguhnya kelahiran dan kehadiran gerakan Islam, serta organisasi-organisasi Islam di hampir selruh persada nusantara Indonesia, bermaksud mengenyahkan penjajahan di muka bumi Indonesia serta menjadikan kemerdekaan bagi Indonesia, tidak lain karena diilhami dari suatu risalah yakni ‘risalah Islam’.

Satu risalah yang melahirkan satu kesadaran akan makna kemerdekaan. Satu risalah yang mengajarkan tentang hakikat nilai-nilai kemanusiaan, bahwa sesungguhnya manusia mempunyai kemerdekaan untuk berkeinginan, berbuat, berpikir, melakukan sesuatu tanpa harus punya rasa takut dan ketergantungan.

Dalam konteks pergerakan organisasi Islam di Indonesia, ada NU, Muhammadiyah, PERSIS, dan lain-lain adalah dilatarbelakangi di mana kondisi umat Islam mengalami stagnasi dan kemandegan berpikir, dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran agamanya sendiri. oleh karena itu, tujuan dari organisasi-organisasi Islam di Indonesia adalah untuk mengembalikan umat Islam kembali kepada ajarannya; al Qur’an dan hadits.

Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur. Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar pembentukan, status dan fungsinya dalam totalitas dimana ia berada

Pemantapan fungsi pengkaderan HIMAS ditambah dengan kenyataan bahwa kondisi kepulauan sapeken sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling mendasar.

Atas faktor tersebut, maka HIMAS menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 7. AD/ART HIMAS yaitu :

“TERBINANYA INSAN ULUL ALBAB; RESPON TERHADAP PERSOALAN SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA, AGAMA, DLL, DEMI TERWUJUDNYA KEMAJUAN DAN KESEJAHTERAAN”.

Kualitas Insan Ulul Albab

Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk (al-Tin; 3), karenanya Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (al-Nahl; 125), dan hendaknya diantara umat manusia yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar (Ali Imran; 104), karenanya manusia diperintahkan meluruskan dirinya pada agama Allah yang lurus yaitu fitrah Allah yang telah ditetapkan Allah kepada manusia (al-Rum; 30)

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi. Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Khalik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan.

Dalam konsep khalifah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.

Bangunan konsep Ulul Albab terdiri dari tiga prinsip yang saling berinteraksi satu sama lainnya berupa zikir, fikir, dan amal saleh. Artinya, jika seseorang memiliki tingkat zikir yang tinggi serta melakukan fikir yang mendalam, yang keduanya kemudian menjadi dorongan dasar baginya itu untuk melakukan amal saleh, maka ia akan memeiliki derajad kepemimpinan Ulul Albab yang tinggi di sisi Allah swt.

Konsep Ulul Albab yang dibangun terdiri atas empat kekuatan, yaitu: (1) kedalaman spiritual, (2) keagungan akhlak (ethical conduct), (3) Keluasan ilmu (science broadness) sebagai buah dari upaya memahami konsep-konsep ajaran islam, dan (4) kematangan profesional (professional maturity) sebagai hasil yang diharapkan dari pemahaman dan penguasaan ketrampilan manajerial.

Dengan demikian, manusia Ulul Albab adalah pribadi yang mulia dan sempurna (Insan Kamil) dimana ia memiliki kedalaman spiritual, keluasan intelektual, serta kematangan professional yang bertumpu pada nilai-nilai islam. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain. Mereka adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, mereka melakukannya diwaktu siang dan malam, pagi dan petang, diwaktu susah maupun sempit, disaat sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan..

Insan Ulul Albab Dan Cita-Cita Perubahan

Mahasiswa dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Mahasiswa saya definisikan di sini sebagai segmen pemuda yang tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual. mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif lainnya, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang terlalu besar

Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda dapat memiliki tiga peran, yaitu:

  1. Sebagai generasi penerus (AthThur:21); meneruskan nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu kaum.
  2. Sebagai generasi pengganti (Al Maidah:54); menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu'min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
  3. Sebagai generasi pembaharu (Maryam:42); memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.

Berbicara tentang perubahan, tentunya akan memunculkan pertanyaan mengapa harus ada perubahan. Di sini ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai jawaban:

  1. Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri bahwa masyarakat (termasuk atau terutama di Indonesia) saat ini masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak di permukaan adalah pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak salah jika ada ulama yang mengatakan kondisi sekarang sebagai jahiliyah modern.
  2. Perubahan adalah suatu keniscayaan, atau sunnatullah. Artinya suka atau tidak, kita akan menemui perubahan. Kalaupun kita diam, maka ada banyak pemikiran lain (komunis, liberal, dll) yang mencoba mengubah masyarakat sesuai dengan kehendak mereka. Oleh karena itu, diamnya kita berarti membiarkan 'kekalahan' ideologi yang kita yakini kebenarannya dan membiarkan terjadinya perubahan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dalam Ar Ra'd:11, Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi dirinya sendiri.
  3. Melakukan perubahan adalah perintah di dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam suatu hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa perubahan - apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih buruk - berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan - sebagai sebuah perubahan.

Kesimpulan

Cita-cita dan kualitas Insan Ulul Albab mustahil tercapai jika setiap kader Himas tidak punya tradisi gandrung membaca, gandrung diskusi, gandrung penelitian, gandrung wacana, gandrung kuliah, dan gandrung berorganisasi, gandrung sholat jama’ah dan puasa senin-kamis ?

“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, adalah ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal, (yiatu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah ketika berdiri atau duduk ataupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran 190-191).

..

ODONG -ODONG PART 2

Oleh : Roesman Empoe Daeng Kasimpungan

Aku memang pernah di ajarkan oleh orang tuaku untuk selalu mencari tahu apa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Memang mereka tidak pernah mengatakan “Carilah apa yang tidak pernah kamu tahu” “Belajarlah dari apa yang tidak pernah kamu bisa”. Tetapi keinginan itu selalu saja datang mungkin karena aku ada maka aku harus berfikir.
Sekarang aku tahu kenapa odong-odong itu bermacam-macam bentuk dan warnanya, mulai dari odong-odong yang sudah buntut sampai odong-odong yang di modifikasi hanya untuk membedakan siapa para pemilik odong-odong tersebut. Dan sekarang aku tahu kenapa para Mahasiswa itu menaiki odong-odong buntut itu, karena yang punya odong-odong buntut itu adalah orang miskin dan Mahasiswa datang dari Negeri Kemiskinan. Dan sekarang aku mengerti perkataan Bapak itu, kenapa Bapak itu melarang aku naik odong-odong, karena hanya satu odong-odong arang miskin diantara puluhan odong-odong yang ada. Kemudian Bapak itu tidak menceritakan siapa pemilik odong-odong yang sudah buntut itu melainkan siapa yang menumpangi odong-odong buntut itu, bukankah dari setiap odong-odong yang ada itu didorong oleh mesin made in china?
Demikianlah dari hari ke hari odong-odong itu mulai banyak saja tampaknya. Mungkin benar apa yang dikatakan Kakek-Kakek itu, tentang Mahasiswa yang menaiki odong-odong buntut itu akan melakukan perubahan terhadap kepulauan meskipun mereka datang hanya pada bulan puasa dan akan menghilang setelah lebaran.Tetapi kenapa harus Mahasiswa? Merekakan datang dari Negeri Kemiskinan, dan waktunya juga sedikit? Tapi aku tetap salut kepada meraka, mereka tidak pernah menadahkan tangan kepada para Penguasa meskipun mereka datang dari Negeri Kemiskinan. Tampaknya para penguasa yang selalu berlebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu bahwa manusia yang ada di dalam odong-odong buntut itu adalah para Mahasiswa yang memiliki intelektual yang luar biasa yang tidak perlu belas kasihan dari MEREKA.
Demikian juga para Mahasiswa yang menaiki odong-odong buntut itu tampaknya sudah semestinyalah mereka membawa perubahan untuk kepulauan orang miskin dengan memanfaatkan waktunya yang sedikit itu sebelum mereka pulang setelah lebaran.
Begitulah dari hari kehari odong-odong buntut itu selalu ada di tengah ramainya odong-odong yang memenuhi jalan-jalan pulau Sapeken, bahkan sepeda motorku sulit keluar masuk rumah karena odong-odong yang berderet-deret didepan pagar rumahku. Dijalan-jalan odong-odong itu bikin macet, dan ditepi jalan banyak oarng-orang yang jualan itu sudah sangat mengganggu pemandangan. Para Mahasiswa yang ada didalam odong-odong itu menganggap bahwa dunia sudah menjadi milik mereka sendiri, sehingga mereka lupa akan tanggung jawabnya. Sepanjang hari para Mahasiswa mengelilingi pulau Sapeken yang keindahannya sungguh luar biasa. Sewaktu ketika, pembantu di rumah Kakek terlambat mengantarkan tanaman hias, akhirnya tanaman hias itu mati di jalan sebelum sampai kerumah si Kakek.
“Tenang saja,” kata Kakek “Sehabis lebaran mereka juga akan menghilang, biasanya juga begitu”
“Tetapi, sekarang odong-odonglah yang membuat ramai mengalir tanpa habisnya”
“Ya, tapi kapan mereka akan kembali ketempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan.”
PADA hari Lebaran, odong-odong itu ternyata tidak semakin berkurang. Dulu pulau kami selalu sunyi, damai dengan hangatnya nuansa silaturrahmi. Dari rumah kerumah suasana Lebaran begitu terasa setiap kali lebaran tiba. Tetapi, Lebaran kali ini pulau kami penuh sesak oleh odong-odong yang tiap harinya selalu bertambah. Odong-odong itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan-perempuan dekil, di kerumuni para lelaki hidung belang mengelilingi pulauku yang asri dengan keindahan alamnya. Mereka bersorak-sorak, ditambah lagi dengan suara musik dari odong-odong membuat pulauku tak seramah lagi seperti dulu.
Pada Lebaran kali ini. Biasanya satu hari setelah Lebaran banyak anak-anak, pemuda-pemudi, dan tidak ketinggalan pula para bapak-bapak dan ibu-ibu meninggalkan pulau Sapeken untuk sekedar bersilaturrahmi kepada sanak saudara yang berada di pulau sebelah. Pulau Sasi’il misalnya, yang sering kali dikunjungi setiap kali lebaran tiba. Maklum pulau ini selain terkenal dengan pantai Bajonya juga makanan lautnya yang khas yaitu Kepiting. Lebih dari separuh warga pulau Sapeken memadati pulau Sasi’il, ada yang memanfaatkan untuk bersilaturrahmi, bahkan ada yang sekedar rekreasi ke Pantai Bajoe.
Tidak seperti pulau Sapeken yang di padati oleh odong-odong, pulau Sasi’il justru di padati oleh oang-orang yang datang dari gugusan pulau-pulau yang ada di kepulauan Sapeken. Tidak tampak odong-odong di pulau itu, bahkan untuk ke Pantai Bajeo saja mereka jalan kaki padahal jarak yang harus di tempuh kurang lebih tiga kilometer.
Bersambung……

cerpen "NEW"

ODONG-ODONG


Oleh : Roesman Empoe Daeng Kasimpungan


Kira-kira dua hari sebelum lebaran aku tiba di pulauku sapeken ikut kapal Amukti Palapa. Tidak ada yang berubah sapekenku masih seperti yang dulu, indah dengan hamparan pasir putih yang mengelilinginya. Ada yang berbeda dengan bulan puasa sekarang, Sapeken ramai dengan odong-odong yang bebagai warna dan bentuk bahkan ada yang di modifikasi dengan tujuan untuk membuat tertarik penumpang di bebagai sudut jalan sapeken. Sementara becak dan gerobak sudah mulai menghilang bak adat yang ketinggalan jaman. Dengan roda tiga dibantu mesin made in china sebagai pendorong, hanya saja odong-odong itu berisikan manusia, dari balik tirai odong-odong akan tanpak sejumlah kepala yg menumpangi odong-odong tersebut, biasanya di penuhi oleh anak-anak.
Karena tidak pernah betul-betul aku mengamati setiap odong-odong yang lewat depan rumahku, ketika sedang bejalan merayapi berbagai sudut keindahan pulau sapeken. dari mana, dan mau kemana odong-odong itu? Tapi yang jelas aku tidak pernah menaiki odong-odong itu untuk melihat setiap keindahan sudut pulau sapeken. Silih berganti dari odong-odong yang satu datang odong-odong yang lain tiba-tiba saja sudah berlalu, kadang terlihat berhenti didepan rumahku kadang juga berhenti dibawah rindahan pohon hanya untuk beristirahat bahkan tidak banyak odong-odong yang berhenti di pantai karangkongo, maklum setelah lebaran banyak pengenjung kekarangkongo hanya untuk menghilangkan kepenatan dari aktifitas yang melelahkan, dan tak jarang juga di jadikan tempat pertemuan untuk saling ma’af memaafkan, eh…. Tapi ada yang aneh lho? Pantai karangkongo yang ramai akan pengunjung itu dan sekaligus jadi tempat mengeruh rezeki buat meraka yang miskin jadi TPO alias Target Operasi ehm.. tapi jangan salah ini bukan Densus 88 yang selalu siaga terhadap bentuk teroris yang memiliki kapasitas sebagai penegak hukum melainkan “GAM” alias Gerakan Anti Maksiat… Serem lah pokoknya. Tidak jarang, banyak pengunjung datang dengan menggelar tikar di hamparan pasir putih pantai karangkongo semuanya bahagia mulai dari yang miskin sampai yang kaya layaknya sebuah ikatan persaudaraan antara si miskin dan sikaya yang hanya beralaskan tikar dan beratapkan langit biru serta dinding-dinding pemandangan yang memiliki estetika yang maha dahsyat. Aku berada di pinggiran jalan sama dua orang kakek-kakek yang sudah renta dan tiba-tiba ada odong-odong yang lewat kemudian berhenti didepanku, kemudian kakek yang satu bertanya.
“Kek, siapakah yang datang dengan odong-odong itu? Dari mana mereka datang?”
Kakek yang kedua menjawab sambil menghela nafas.
“Oh, mereka selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah lebaran. Mereka adalah para Mahasiswa.”
“Mahasiswa?”
“Yah, mereka datang dengan memberikan perubahan untuk kepulauan sapeken”
Kakek yang satu itu tidak bertanya lagi, karena sikakekek yang kedua sedikit punya kelainan gangguan psikososial dan orangnnya super sibuk dengan tanaman hiasnya. Waktu berlalu. Senja sudah tiba dan matahari sudah mulai malu menampakkan sinarnya itu menandaka hari sudah mulai gelap. Keesokan harinya, di depan rumah aku mulai mengamati setiap odong-odong yang lewat, didalam sebuah odong-odong aku melihat sekumpulan anak-anak kecil yang asyik menikmati odong-odongnya. Kadang-kadang aku juga sempat kepikiran untuk menaikinya kemudian bersenda gurau di dalamnya, tetapi aku malu sama umurku. Tiba-tiba saja seorang bapak-bapak datang menghampiriku, kemudian bertanya kepadaku.
“Apa yang sedang mereka lakukan di dalam odong-odong itu?”
“Coba saja kamu setiap hari ikut naik didalam odong-odng itu. Apa yang akan kamu rasakan jika berada di dalam nya, apakah kamu akan mendapatkan sebuah kehangatan dan kedamaian, berada dalam kerumunan anak-anak kecil yang memakai baju putih bersih dan rapi sambil ngemut es dondong pak Edi dan makan puding warna-warni?”
Aku tertegun. Apa maksud bapak itu? Apakah bapak itu tidak suka melihat orang yang seusia aku menaiki odong-odong?
Bersambung…

PUISI TERBARU

MAMA
(John RF, waktu limongan 080909)

Malam ini aq melihat bayangmu di antara gelombang cahaya yg berpendaran
Terdiam di antara suara yg menghukumku
knp kau membisu..??
Aku rindu akan wajahmu
Aku rindu suaramu
Adakah malam ini kau akan pulang membawakan lagu surga untukku..??
Mama...
Aku merindukanmu
Aku rindu pada ketika sama2 kita berkumpul
Kau tuangkan bergelas-gelas air kasih sayang
Dan kau hidangkan makanan ketulusan bagi kami anak2mu
Lalu aku bergayut di pundakmu
Kau membelai rambutku selembut angin
Mama....
Engkau puisi hidup bagi perenungan yg panjang
kasih sayangmu sumber yg tiada pernah habis kukuras setiap waktu
Tapi mama...
Engkau telah berlalu bersama keabadian
Ma'afkan aku mama
Do'aku selalu untukmu


Artikel baru

Menuju Kejayaan Sapeken Tahun 2020

(Perspektif Baru Kebangkitan Kepulauan Sapeken)

OLEH: HUSAMAH

(Pegiat Pendidikan di Malang, Instruktur Lab Biologi UMM)

Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpi-mimpimu” (Novel Laskar Pelangi)

Prolog

Sebuah artikel lama yang berjudul “The Global Economy” (The Economist, 1/10/1994) menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia pada tahun 2020. Menurut artikel tersebut, pada 2020 urutan kekuatan ekonomi yang ada sekarang akan berubah. Diperkirakan China akan menjadi 140%, AS (100%), Jepang (42%), India (30%), Indonesia (25%), Jerman (23%), Korea Selatan (21%), Thailand (20%), Perancis (19%), dan Taiwan (18%). Menarik bahwa di antara lima besar terdapat empat negara Asia dan di antara sepuluh besar terdapat tujuh negara Asia.

Pengusaha Ricky Sutanto bahkan lebih optimistis lagi. Sebagai mana dikutip oleh Salahudin Wahid (Indonesia Tahun 2020, Optimistis atau Pesimistis?, Kompas/25/06/2005), tahun 2004 pengusaha ini menulis buku berjudul “2015, Kita Terkaya No.5” untuk membuka wawasan dan menumbuhkan semangat bangsa yang seakan hancur lebur ini. Tahun 2005, The National Intelligence Council (Amerika Serikat) mengumumkan prediksi The 2020 Global Landscape (Penampilan Dunia Tahun 2020) yang menyinggung Indonesia. Dikatakan bahwa ada kemungkinan Indonesia bisa meningkat seperti negara-negara besar Eropa dan menjadi kekuatan ekonomi kelas menengah setelah AS, China, Uni Eropa, dan negara tokoh besar Mahatma Ghandi, India.

Modalitas Sapeken

Namanya juga prediksi (ramalan), apa yang dikemukakan sumber di atas bisa salah tetapi juga bisa benar. Di sini, penulis akan menganggap bahwa ramalan tersebut di atas benar. Alasannya, tengoklah novel hebat Laskar Pelangi yang menyuruh bermimpi karena suatu saat Tuhan akan memeluk mimpi itu. Bagi penulis mimpi adalah optimisme-produktif yang menuntut teknik jitu dan keuletan untuk menggapainya. Maka banyaklah bermimpi dan bangunlah untuk menggapai mimpi itu. Sebagai putra Sapeken rasanya tidak salah jika penulispun memiliki mimpi bahwa Kecamatan (Kepulauan) Sapeken akan mencapai kejayaannya tahun 2020 atau 11 tahun yang akan datang.

Setidaknya penulis mengajukan dua kekuatan utama untuk mencapai atau menuju kejayaan tersebut. Pertama, dari sudut pandang Sumber Daya Alam (SDA). Memang, saat ini Kecamatan (Kepulauan) Sapeken memang (masih?) kaya. Lihat saja minyak dan gas yang setiap hari dieksploitasi dari perutnya. Kekayaan baharinya pun (masih?) melimpah. Berbagai jenis hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi tersedia di laut dan pesisirnya. Laut dalam dan zona pasang surutnya sama-sama menjanjikan. Hasil penelitian pendahuluan tugas akhir tentang Holothuroidea (keluarga Teripang/bala’) di Pulau Pagerungan Kecil yang penulis lakukan menunjukkan besarnya potensi tersebut.

Kedua, dari sudut pandang Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan sudah mulai dirasa penting oleh masyarakat. Terbukti, mulai banyak yang menyekolahkan anaknya dan telah banyak pula lembaga pendidikan yang ada. Mahasiswa asal Kepulauan Sapeken sudah mulai bertebaran di seantero negeri. Sarjana-sarjana baru mulai menetas dan siap berkiprah di dunia nyata.

Menyadari Kesalahan

Orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya. Selain memiliki potensi di atas, banyak sisi negatif, kealfaan atau kekurangan yang mendesak untuk diperbaiki. Potensi kekayaan SDA ini kini sudah “lampu kuning”. Penggunaan bahan peledak, racun ikan (potas), dan pukat harimau telah membawa malapetaka. Terumbu karang sebagai habitat ikan banyak yang hancur. Pola regenerasi ikan tidak terjadi karena ikan-ikan kecil pun juga ikut mati dan tertangkap. Hewan-hewan lainnya ikut menghilang. Praktis, pendapatan nelayan (profesi sebagian besar penduduk Kecamatan Sapeken) semakin menurun drastis. Hasil dari eksploitasi minyak bumi dan gas justru tidak dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Sapeken, meskipun ada jumlahnya sangat sedikit.

Pendidikan belum memiliki kontribusi yang besar, selain hanya memberi kemampuan membaca, menulis dan menghitung (calistung) masyarakat. Pendidikan yang ada belum masuk pada penciptaan daya kritis, dan belum berorientasi pada potensi lokal dan nasib masyarakat lokal. Seperti umumnya pendidikan di Indonesia, kurikulum pendidikan Sapeken selalu berkiblat kepada apa yang diinginkan kota/daratan tanpa sekalipun melihat kondisi riil di daerah setempat.

Lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan agama yang kian banyak menjamur di Kecamatan Sapeken lebih mengajarkan anak didik untuk manut-manut saja, dogmatis, simbolik dan irrasional. Oleh sebab itu, setelah mereka tamat, bukannya nilai agama itu terejawantahkan atau teraplikasi dalam kehidupan, justru tampilan lain yang mereka tunjukkan. Bahkan ironisnya, merekalah yang menjadi agen perusak norma masyarakat. Parahnya lagi, kondisi ini dipersubur dengan masuknya budaya televisi dan sinetron yang setiap waktu ditonton secara berjamaah.

Para ulama dan tokoh masyarakat (tokoh agama) Sapeken juga seakan kian jauh dari umat. Apakah mereka telah terjebak? Jawabannya mungkin saja ‘ya’. Ketika para ulama lebih mementingkan bagaimana menjadi calon legislatif dan bagaimana memajukan partai tertentu di wilayah Sapeken, mereka kemudian mengabaikan fungsi sebagai agen perantara, pendidik, sekaligus pencerah masyarakat. Salah satu faktor lain yang berperan yaitu adanya prinsip yang menganggap golongan ormas tertentu lebih benar. Hal itu ditambah dengan ketidakinginan para ulama tersebut untuk berdakwah lintas kelompok (misalnya, orang Persis hanya untukk Persis dan NU untuk NU saja). Bisa saja, kasus kekerasan, barbarisme dan brutalisme yang terjadi beberapa waktu lalu di Sapeken (Tanjung Kiaok) merupakan wujud kelalaian para ulama yang telah jauh dari umat. Ingatlah, kekerasan yang muncul tersebut hanya contoh kecil (teori gunung es).

Pengusaha dan pemilik modal di Sapeken ternyata lebih kapitalis dan cenderung mengeruk keuntungan besar, tak peduli apakah itu merugikan masyarakat lain atau tidak. Kekayaan hanya dimiliki segelintir orang. Akhirnya mereka tak ubahnya raja-raja kecil. Ekonomi kapitalis itu telah keluar dari konsep ideal, dimana ekonomi kerakyatan (termasuk yang melibatkan dan menyejahterakan segala lapisan masyarakat) yang sebenarnya harus disemai.

Mahasiswa Sapeken yang bertebaran belum memiliki kontribusi riil terhadap daerahnya. Bahkan kebanyakan mahasiswa itu terjebak pada budaya gaul dan fashion kota. Dalam bahasa kasarnya, ini dinamakan sok metal, sok gaul dan sok pinter. Cobalah kita renungkan! Sebagai ungkapan rasa memiliki HIMAS, kembali ada pertanyaan menarik yaitu sucikah HIMAS dari kepentingan-kepentingan? Satu hal yang menggelitik, ironis dan belum sempat di sampaikan penulis adalah masalah jebakan partai politik dan Ormas Islam tertentu. Mungkin dalam niat para pengurus tidak demikian, tetapi dengan mendatangkan salah satu narasumber yang memiliki background politik tertentu dan ormas tertentu sama saja dengan mematikan peran dan potensi HIMAS sebagai pihak penengah. Sekali lagi, para punggawa HIMAS harus menyadarinya karena nyatanya itulah yang terlihat dari luar.

Epilog

Apakah waktu yang hanya tinggal 11 tahun ini dapat kita manfaatkan secara cerdas untuk bisa menggapai mimpi tersebut? Sudah saatnya kita sadar dan bergerak untuk berubah. Jika tidak, bayangkan sendiri wajah Sapeken 11 tahun mendatang. Tentu saja semua perubahan tak mungkin kita capai hanya dengan berpangku tangan. Jalan menuju ke cita-cita mulia kita tidak akan pernah mudah. Bangkit, berbuat memperbaiki kesalahan dan menggunakan semua potensi harus dilakukan semua stakeholders. Penulis juga berharap banyak pada Caleg asal Kepulauan Sapeken yang terpilih pada Piled 9 April 2009 lalu. Saatnya membuktikan janji pada para konstituennya. Jangan "menjual" masyarakat kepulauan hanya pada saat kampanye.

Akhirnya, artikel ini mungkin terlalu dangkal, apalagi melihat seriusnya permasalahan yang dihadapi. Namun harapannya, artikel ini akan menjadi perspektif baru, sebuah tonggak awal optmisme masyarakat Kepulauan Sapeken untuk bangkit. Insya Allah.

Untuk Perempuan Kepulauan


Quo Vadis Perempuan Kepulauan Sapeken

dari Hartini Sampai Iing Hj. Meing

oleh : Minhadzul Abidin

kalian memang butuh laki-laki, tetapi jangan hidup dibawah

penindasan dan kekuasaan laki-laki

(Kutipan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia

-Pramoedya Ananta Toer-)

PENDAHULUAN

Ketika membaca buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, ada hal yang menjadi gugatan dalam pikiran saya yang harus segera tuangkan dan mencoba mengelaborasi terhadap kondisi Perempuan di Kepulauan dari dulu sampai sekarang. Secara umum kondisi Perempuan Kepulauan adalah sub narasi Perempuan di Indonesia. Dimana kondisi Perempuan di Indonesia masih di dominasi budaya patriaki dan hegemoni patriarki tersebut bersekutu dengan agama yang ditafsirkan secara tekstual, tetapi hal itu sudah mulai diimbangi dengan munculnya gerakan Perempuan yang menyuarakan persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi gender, tetapi semua masih kontra produktif penuh perdebatan dan dialektika.


selengkapnya


...

KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN

Golput ala Sujiwo Tedjo


Oleh : Minhadzul Abidin

Sujiwo Tedjo tokoh nyentrik yang memiliki nama lengkap Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962). Dia juga seorang dalang dan kalau bisara sangat ceplos-ceplos tanpa perhitungan apa adanya dalam bahasa jawanya disebut tanpa aling-aling, selalu mendeskripsikan sesuatu dalam konteks pewayangan jawa. Sujiwo Tedjo mulai terkenal sejak membintangi film KAFIR bersama Artis salah satu trah Azhari yakni Ayu Azhari. Ada hal yang mengganjal dalam pikiran saya ketika mengambil preference kepada sosok yang tidak jelas dan terlalu imajinatif dan melampaui batas dialektika rasional yang bersifat umum dan sangat kontroversial ini bahkan banyak menyebut nya sebagai orang senewen atau gila, tetapi ada yang menarik dari sosok yang satu ini ketika dalam suatu acara talkshow Pemilu disebuah stasiun televisi swasta setelah bertajuk Pemilu Indonesia sehari setelah Pemilu 2009 digelar yang membahas tentang prsentase golput di Pemilu 2009 yang mencapai 40%.

Selengkapnya


artikel baru

OPTIMISME PEMILU 2009

(Menjawab Kegalauan Terhadap Demokrasi Prosedural)

Oleh : Rahmatul Ummah

(Mahasiswa S2 FISIP Unila/Anggota KPU Kota Metro)

Ada beberapa pertanyaan penting yang harus saya ajukan untuk setiap orang yang menolak pemilu, apalagi jika argumentasinya itu dibangun di atas klaim akademis. (1) Mungkin atau adakah negara demokratis tanpa pemilu? (2) Apakah demokrasi substansial itu bisa dicapai tanpa demokrasi prosedural? (3) Dalam sejarah perjalanan negara, peroses peralihan kekuasaan hanya bisa dilakukan dengan 3 cara, REVOLUSI, KUDETA dan PEMILU?, Adakah cara yang lebih aman untuk peralihan kekuasaan selain Pemilu?

Selengkapnya

-

PEMILU 2009 AKAN MELAHIRKAN PEMIMPIN YANG MEMILIKI

SENSE OF POOR

APRIL MOP!!

Oleh : Minhadzul Abidin

Mungkin ketika kita mendengar kata APRIL MOP mungkin kata tersebut masih terasa asing di telinga kita, karena sejarah peradaban kebudayan Indonesia atau islam yang mendominasi kehidupan kita tidak pernah mengenal kata tersebut, mengapa saya menggunakan kata tersebut dan apa hubunganya dengan Pemilu 2009 yang akan dilaksanakan di bulan april. April Mop, dikenal dengan April Fools' Day dalam Bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari ini, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap teman dan tetangga, dengan tujuan mempermalukan mereka-mereka yang mudah ditipu. Di beberapa negara, lelucon hanya boleh dilakukan sebelum siang hari (sumber: wikipedia), jadi pada hari tersebut dilegalkan untuk berbohong dan menipu orang lain karena akan dianggap sebagai bahan lelucon.

selengkapnya


-

MENGAPA KITA HARUS TOLAK PEMILU 2009 (Sebuah Ikhtiar Pribadi)

Oleh : Minhadzul Abidin


Tulisan ini merupakan penjelasan dari pendapat saya di buku tamu blog HIMAS pusat, tentang mari cerdaskan rakyat untuk menolak pemilu 2009 dalam konteks calon legislatif daerah pemilihan tujuh (DAPIL 7) DPRD kabupaten Sumenep, karena Caleg-Caleg yang muncul adalah pemain lama yang telah gagal dalam PEMILU 2004. kemudian banyak ditanggapi dengan pro kontra oleh alumni dan sebagian Anggota HIMAS. Mungkin namanya era keterbukaan demokrasi tidak ada ruang atau space khusus untuk membatasi hak berpendapat di muka publik dan pendapat tersebut tidak bermaksud atau dengan sengaja memprovokasi masyarakat. ......selengkapnya



sk

SURAT KEPUTUSAN
No. 04/SK-PP/HIMAS/III/2009

Tentang :
INDEPENDENSI HIMAS

selengkapnya



-

HIMAS PENGGUGAT ATAU TERGUGAT

(Sebuah Dialektika Sosial dan Kebebasan Berfikir)

By.Syaifuddin

(Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)

Disaat semua bungkam dan diam dalam panatisme dan kesalehan individual, pada saat itu kelompok minoritas bergerak dalam dinamika kebungkaman itu, berangkat dari dhaurah ramadahan (th.2005 M), tradisi tahunan yang dilakukan oleh Alumni Pesantren Abu Hurairah sebagai bentuk penggodokan mentalitas dan pengembangan intelektualitas yang kental dengan kajian-kajian religius yang monologis (peserta hanya menjadi pendengar dari pemaparan pemateri), pada tahun itu, nampak aroma kesegaran berfikir, agresif, terbuka, dinamis dan ilmiah dibanding tahun-tahun sebelumnya , hal ini karena dominasi para mahasiswa sapeken yang tersebar di berbagai perguruan tinggi se Indonesia berkumpul untuk mengikuti acara tersebut. selengkapnya


“LUMPUR HEDONISME ;

Dalam Sindromatika Politik 2009-2014”

By. Syaifuddin

(Alumni HIMAS/ Pemuda Muhammadiyah)

SEIRING perputaran waktu begitu cepat dan dinamika zamanpun silih berganti mencari identitas dan jati diri sebagai penyebutan, petanda bahwa zaman telah berubah, kini kita memasuki era globalisasi, era dimana dunia semakin kecil, peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia dapat diakses begitu cepat melintasi sirkulasi waktu, derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan perkebangan informasi, industrialisasi, sains dan tekhnologi, kini libralisme global dan intelektual kapital
selengkapnya

-

Artikel Baru

REFLEKSI MILAD KE-8 HIMAS

MEREKONTRUKSI KEMBALI SEBUAH NARASI BARU

Oleh : Mu’arif Rahmatullah

(SEKJEND PW HIMAS SURABAYA)

Beberapa hari lagi, tanggal 24 Februari 2009 M, merupakan hari bersejarah bagi HIMAS. tepatnya tanggal 24 Februari 2001 yang silam organisasi mahasiswa kepulauan ini lahir di sapeken. Tidak terasa waktu terus bergulir membawa sejarah tersendiri bagi perhimpunan anak-anak “muda terdidik” kepulauan ini (baca; mahasiswa). Dinamika perubahan yang setiap saat bergerak dalam ketidakpastian, sedikit banyaknya mengubah pola alir gerakan HIMAS dalam merespon dinamika perubahan tersebut. terkadang HIMAS tertinggal, terkadang pula larut dalam dinamika tersebut.

Sesungguhnya kelahiran dan kehadiran gerakan Islam, serta organisasi-organisasi Islam di hampir selruh persada nusantara Indonesia, bermaksud mengenyahkan penjajahan di muka bumi Indonesia serta menjadikan kemerdekaan bagi Indonesia, tidak lain karena diilhami dari suatu risalah yakni ‘risalah Islam’.

Selengkapnya


PEMUDA DAN PESTA DEMOKRASI PEMILU 2009


usman adhim (Presidium I PP HIMAS)


Aku tak bisa untuk tak peduli, Hati ini tersiksa,

Aku bersumpah, Untuk berbuat yang aku bisa

Harus ada yang dikerjakan, Agar kehidupan berjalan wajar

Hidup hanya sekali, Uku tak mau hidup dalam keraguan

(Iwan fals – 15 Juni 1996)


Momentum penting kebangsaan, yakni pemilihan umum (pemilu), kian hari kian dekat hadir ditengeh-ditengah kita. Dalam penantian harap-harap cemas ditengah janji-janji politik mengumbar prestasi mengharap simpati lewat iklan-iklan suksesi politik klaim bukti, kelabui masyarakat. Kaum muda indoneaia harus menjadi faktor penentu bukan pelengkap penderita dalam momentum itu, kita harus menjadi bagian solusi bagi permasalahan bangsa. itulah peran utama kaum muda dari agama apapun atau organisasi apapun mereka berasal.

Sebaliknya kalau kaum muda justur menjadi bagian dari masalah atau Cuma pelengkap penderita dan penyerta, maka bukan lagi berjiwa pemuda tapi sedah tergolong genersi yang harus pensiun. Tinggal menunggu malaikat maut memanggil kehadapan Tuhan, karena pemuda identek dengan perubahan dan bila kata pemuda disandingkan dengan kata perubahan maka inter pretasinya bukan lagi usia sebagai parameternya tapi semengat remormasi pemuda sebagai agen of change, agen of conrol dan agen of reformasi. Oleh karena itu Ali bin abi thalib berkata, himmaturrizal tahrikul jibal: semangat para pemuda dapat menggoncang dan merontokkan gunung. Karena, izda kanati nnufusu kibaran muradhihal ajsam: apabila semangat itu telah berkobar maka jasad tidakkan pernah mampu melayaninya. Pertanyaanya, selama ini jasad kita dicapekkan oleh hal-hal apa, bagaimana dan untuk apa?

Kita kaum muda, semua sudah pernah merasakan bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa selama masa transisi. Kita telah menghitung sisi positif dan negatifnya, kita juga mengetahui kemunduran dan kemajuan bahkan stagnasi yang terjadi. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pemimpinnya. Tapi jangan lupa, munculnya seorang pemimpin juga sangat terkait dengan kualitas bangsa secara keseluruhan.

Bangsa yang berjiwa besar dan bertekad untuk terus maju, mustahil melahirkan pemimpin yang berjiwa kerdil dan berorientasi jangka pendek. Bangsa yang ingin mewujutkan cita-cita yang digariskan para founding father (pendiri bangsa), maka akan memilih pemimpin yang mampu merealisasikan tekad luhur itu.

Sebaliknya bangsa yang pemalas dan tak produktif, dan orientasinya pada pencarian kekuasaan yang egoistic, maka mustahil akan memilih pemimpin yang suka bekerja keras dan mendahulukan kepentingan rakyat demi demi tercapainya kemajuan bersama. Bangsa yang menjunjung agenda reformasi demi terwujudnya Negara yang makmur dan bersatu, yang berdaulat dan berwibawa dimata bangsa lain, pasti mereka akan memilih sosok pemimpin yang mampu memenuhi harapan itu.

Itulah kaedah umum yang berlaku dalam sejarah politik tentang lahirnya sebuah kepemimpinan nasional yang mengakar. UUD 1945 yang telah diamandemen menyatakan kedaulatan diserahkan seoenuhnya kepada rakyat. Kita semua memiliki hak yang setinggi-tingginya untuk menentukan corak pemimpin masa depan.

Oleh karena itu, agar kita memperoleh pemimpin yang baik, mau tidak mau kita harus menentukan: posisi apa yang kita ambil?. Bila kita memang anak bangsa yang dikenal malas dan hanya memikirkan dirinya sendiri larut dalam hedonisme kehidupan, maka sikap yang lahir adalah acuh tak acuh, dan cenderung jadi tukang kritik, atau bahkan kita akan memilih pemimpin yang malas. Tidak ada anak bangsa yang pemalas yang mau memilih pemimpin yang rajin, kapabil dan berdisipplin, karena merasa akan kena sangsi sifat hedonisnya, tapi alangkah tragisnya dampak buruk yang akan menimpa masyarakat yang jadi korban politik para gerombolan prakmatisme.

Pemilu yang akan dating ini merupakan momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai anak bangsa, menyelamatkan nasib masyarakat, ekonomi dan pendidikannya. putra daerah yang tahu betul nasib prekonomian masyarakatnya, tahu betul pekerjaan orang tua mereka dan tahu betul nasib pendidikannya dan tahu betul bagaimana putra daerah yang kaya sumber daya alamnya, mengundi nasib menuntut ilmu nyambi jadi marbot masjid, pelayan toko dan restoran, jualan, dan lain-lain. Seberapa keras hati kita bila tidak tersentuh dengan fonomena itu. Pemilu akan datang ini disamping menjadi faktor pendidikan politik yang sangat krusial dan urgen sekali juga menjadi penentu nasib bangsa untuk menjadi lebih baik atau makin terpuruk, kita kaum muda lebih bertanggung jawab membaca dan memfirasati kemunggkina-kemungkinan itu untuk mengarahkannya sebelum nasi menjadi bubur, Sebab tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan pemilu lima tahun yang akan datang.

Intensitas pengawalan dalam perjuangan sepenuh hati kaum muda khususnya sangat ditutut di tengah-tengah masyarakat yang dibingungkan oleh kontaminasi para calon pemimpin dengan berbagai janji politik. Pemilu yang jujur dan adil kita perlukan, agar kita bisa membayangkan daerah kita, masyrakat kita, orang tua kita dan adik-adik kita dimasa datag hidup dalam keadilan sosial dan kesejahteraan. Hal itu, suka atau tidak suka, sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan kita, pemimpin yang berkualitas dan peduli terhadap nasib rakyat serta generasi mas datangakan menciptakan bangsa yang makmur, dal dan sejahtera, damai dan tentram.

Semestinya kita semua menyambut kesempatan yang baik dalam pemilu untuk mengoreksi faktor negative yang terjadi selama ini sebagai sebab terjadinya krisis yang menjerat masyarakat miskin kepulauan. Kita melihat beberapa partai diprotes dan didemonstrasi oleh anggota dan kadernya sendiri, kita melihat beberapa partai terpecah dan mengalami konflik ataupun folemik inernal yang berkepanjangan. Apapun alasannya,subyaktifitas soliditas internal, merekomendasikan obyaktifitas-soliditas ekternal secara orientataif dalam mengelola hubungan secara horizontal yang lebih luas dan fertikal yang lebih profesianal.


MERINDUKAN HIMASWATI BERJIWA RADIKAL BERFIKIR EMANSIPATORIS

(Semangat Anisa` dalam Film Perempuan Berkalung Sorban)

By.SYAIFUDDIN

(Alumni HIMAS / Pemuda Muhammadiyah)

Dari waktu-kewaktu perjalanan dan pergerakan perempuan mengalami pasang surut karena harus berhadapan dengan patriarkis yang diangap lebih unggul dari perempuan, perempuan di gambarkan oleh Abidah el Khalieqy, dalam Novelya, Perempuan Belkalung Sorban (PBS) yang telah di visualkan dalam bentuk film, sutradara, Hanung Bramantyo, film kontoversial ini menyedot perhatian MUI dan tokoh agama konservatif lainya, PBS dalam tradisi PP. Al-Huda (Institusi Pengkajian Islam) diletakkan sebagai obyek terhadap laki-laki, istri hanya menjadi pemuas nafsu seksualitas suaminya, bahkan terpasung atas nama agama “istri akan dilaknat oleh Tuhan jika istri tidak mau melayani suaminya”, paradigma kultural yang berkambang di institusi pendidikan yang mengajarkan kitab kuning dan penanaman nilai-nilai religiusitas pada santriwatinya itu, mendapat perlawanan keras Annisa` (Revalina S Temat) karean perempuan tida diberikah hak proporsional dalam keperempuanannya sebagaimana hak laki-laki. Selengkapnya

VALENTINE OH VALENTINE

Oleh : Rina Hafidz

If there were no words…. No way to speak

I would still hear you

If there were no tears

No way to feel inside, I’d still feel for you

And even if the sun refused to shine

Even if romance ran out of rhyme

You would still have my heart until the end of time

You’re all I need, my love, my Valentine.

( Penggalangan lagu diatas adalah lagu wajib di Bulan Pebruari yang dinyanyikan oleh Martina McBride diiringi lantunan piano Ciamik dari Jim Brickman dengan judul Valentine).

Asal Muasal Valentine

Kalau mau mencari tahu sejarah mengapa ada acara valentine itu sangat mudah sekali bagi kamu yang terbiasa mengakses internet cukup ketik “ sejarah valentine ” dimesin pencari Google maka kita akan temukan artikel / tulisan yang melimpah ruah yang membahas masalah ini. Sekilas penulis memberikan penjelasan tentang asal muasal valentine dari berbagai versi. Ada versi yang mengatakan, dulu sebelum masa kekristenan, jaman Yunani Kuno Dan Romawi kuno ada tradsi pesta yang dilakukan tiap pertengahan Pebruari. Di jaman Athena kuno, tradisi ini disebut sebagai Bulan Gamelion yaitu masa menikahnya dewa Zeus dan dewi Hera. Sedangkan di jaman Romawi Kuno, disebut hari raya Lupercalia sebagai peringatan terhadap dewa kesuburan Lupercus, yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba, dan dewi cinta Juno Februata. Dimana pada hari raya ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Lotre pasangan, yaitu para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah benjana lalu para pria mengambil satu nama dalam benjana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Tradisi inipun menyebar dengan cepat keseluruh Eropa. Kemudian Kristen pun masuk ke Eropa, namun penyebarannya terhambat ketika benturan dengan tradisi dibulan Pebruari ini. Dicarilah cara agar bisa menarik orang masuk agama Kristen sehingga diadopsilah perayaan kafir pangan ini dengan memberi kemasan kekristenan. “ jadilah Paus Gelasius I pada 14 Pebruari 469 M mengubah upacara Romawi Kuno Lupercalia ini dan meresmikannya menjadi Saint valentine’s Day ”, hal ini juga dilakukan untuk menghormati Pendeta Valentino yang dihukum mati oleh Raja Claudius II ( 268- 270 ) karena memtertahankan keyakinannya dan ada juga yang mengatakan Pendeta ini mati karena membela kisah cinta 2 anak manusia padahal gereja telah melarangnya. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa tanggal 14 Pebruari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu.

selengkapnya

.

Save Our Palestina

both;'/>
b:include data='post' name='comment-form'/>

HIMAS: MEMBEDAH REALITAS MENJAWAB

PROBLEMATIKA SOSIAL KEPULAUAN

(by. Syaifuddin,

Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)


Untuk mebangun masyarakat kepulauan maka pemerintah harus boros jika tidak maka selamanya masyarakat akan ketinggalan dan akan terjadi ketimpangan yang berkepanjangan antara daratan (kota) dengan kepulauan……” (Dr. Suekarwo, M.Hum)


Pernyataan ini bukan pernyataan yang kering dan kosong dari realitas tapi merupakan koreksi kebijakan terhadap pemerintah tertama pemerintah Kabupaten Sumenep, dalam kebijakanya tidak “sudi” kalau kepulauan maju dan berkembang dalam sosial ekomomi, distorsi kebijakan ini merupakan kepicikan pemerintah Kabupaten Sumenep.

Sumur gas di Pagerungan dieksplorasi BP Kangean sejak 1993. Mula-mula bisa memproduksi 225 juta kaki kubik per hari. "Tapi, lambat laun mengalami pengurangan alami dan sekarang 14 sumur yang aktif dari 18 sumur dengan hasil produksi pada tagun 2003 hanya 180 juta kaki kubik per hari" Sedangkan Sumur minyak di Sepanjang cukup besar. Saat ini ada tiga sumur yang sudah dieksplorasi dan siap untuk dieksploitasi. Tiap sumur itu diprediksi memiliki kandungan 350 barel per hari. "Jadi, 1.050 barel per hari bisa dihasilkan dari tiga sumur itu," dan 80% - 85% untuk Pendapatan Daerah Kabupaten Sumenep, dengan jelas bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep bisa bertahan hidup karena adanya subsidi dari kepulauan.


Selengkapnya


REVOLUSI KURIKULUM

Menuju Pendidikan yang Mencerahkan


By: Umar Hadi bin Makka

(KETUA DEPT PENDIDIKAN PP HIMAS)


Dan ketika Allah Swt. berfirman dalam kitab-Nya “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS: 4. 141), maka masyarakat yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan mulia; sebuah masyarakat yang memiliki semua persyaratan sebagai masyarakat terbaik, sebuah masyarakat yang tidak menyisakan tempat bagi sebuah kelemahan. Masyarakat Islam bukan kumpulan individu para pecundang yang terpinggirkan dalam sejarah. Islam menghendaki umatya tidak mengalami marginalisasi periferalisasi dalam percaturan peradaban dunia. Karena itu saya ingin menegaskan doktrin teologis kita sebagai masyarakat terbaik yang harus keluar menjadi pemenang dalam semua epos sejarah kemanusiaan. Ayat itu , secara implisit, berusaha menjelaskan visi eksistensial kita yang harus menjadi pemimpin dan soko guru peradaban umat manusia. Dalam ayat lain, al-qur’an menyebut masyarakat terbaik itu dengan kata “khaira ummah”.


Selengkapnya

.

Perempuan Dalam Bingkai Islam

(Inspirasi Film Perempuan
Berkalung Sorban)



Kebahagianku adalah ketika kau bersama denganmu dan pergi bersama dengan dirimu, karena Allah ternyata tidak adil kepada Perempuan
(dialog Annisa-perempuan berkalung sorban)



ketika saya diajak oleh seorang

teman untuk menonton film yang diadaptasi

Novel dengan judul yang sama karya Abidah el

Khalieqy, yang disutradai dengan apik dan

penuh kontroversial oleh Hanung Bramantyo,

saya langsung menyanggupinya, ada hal yang

membuat saya penasaran dan terlalu (meminjam

istilah andrea hirata) obsesif kompulsif

dengan film Perempuan Berkalung Sorban

(PBS), apalagi setelah membaca resensi film

tersebut di salah satu surat kabar ibukota.

selengkapnya

ekonomika

EKONOMI SAPEKEN
DIANTARA MUSIM BARAT, KEYNESIAN DAN MA SUREBE


Oleh : Minhadzul Abidin

PENDAHULUAN
Musim barat di Kecamatan Sapeken yang biasa disebut sebagai musim penceklik, yang ditandai dengan angin dan gelombang tinggi membuat perahu dan kapal harus karam di Pelabuhan sampai waktu yang lama, pada musim barat tersebut tersebut roda dan gairah perekonomian masyarakat lemah, karena tingkat pendapatan yang menurun, daya beli rendah dan implikasi pada semua sektor kehidupan masyarakat. salah satu yang terkena dampaknya adalah Pedagang, ditengah permintaan (demand) yang semakin menurun dan daya beli masyarakat rendah, Pedagang akan mengalami kerugian yang sangat signifikan, karena pada saat itu Pedagang akan menjual barang dengan harga murah atau memberikan hutang kepada konsumen dan arus perputaran modal akan mengalami hambatan yang besar. Penurunan daya beli masyarakat disebabkan karena sumber mata pencaharian terbesar masyarakat yaitu Nelayan mengalami hambatan (weakness)karena Nelayan tidak berani melaut Dan pada situasi inilah deflasi semakin meningkat dimana jumlah barang melebihi jumlah uang yang beredar.

Selengkapnya

artikel baru

Marjinalisasi Suku Bajo Sumenep

oleh : Moh. Sarip Hidayatullah

(Anggota UKM FDI UMM, Mahasiswa Sosiologi UMM)

Percayakah anda jika di Kabupaten Sumenep yang mayoritas suku Madura terdapat sebuah kecamatan yang justru dihuni oleh suku lain? Kecamatan tersebut bernama Sapeken, sebuah kecamatan kepulauan di Sumenep. Inilah sebuah keunikan yang justru jarang dikenal orang.


selengkapnya

cerpen

CERPEN

Sheina

Jadi Pelacur Untuk koruptor

Chapter 4

Oleh : Minhadzul Abidin


Dari penjelajahan ku di karang kongo dan melihat potret sebenarnya yang terjadi di kampung halamanku yang terkenal sangat menjujung nilai-nilai syari’at islam, Aku mulai mendengus panjang, tubuhku lunglai, tatapan mataku mulai tidak terfokus, ada duri yang menusuk lerung hatiku, inikah potret kehidupan yan tidak bisa kita pandang sebagai sebuah paradigma hitam putih, niatku untuk mencari Sheina di kegelapan malam ini tidak lagi tumbuh, menurutku Sheina adalah bagian simpul dialektika kehidupan yang mulai terpusat pada titik antitesis kehidupan fatamorgana ini, “ ayo kita pulang” begitu aku berucap dengan suara lirih kepada Muse yang sejak dari tadi menemaniku, entah apa dipikirannya melihatku duduk tersungkur di pasir putih yang baunya menyegat seperti kotoran manusia, “ kamu tidak apa-apa Ril?” dengan nada yang polos tanpa beban, “ “gak, apa-apa koq, ayo kita pulang” dengan nada yang seadanya dan hatiku menerawang tidak tahu entah kemana.

Selengkapnya



ARTIKEL AWAL TAHUN


PERLUNYA “HIJRAH POLITIK”

DALAM MENYONGSONG TAHUN POLITIK


Oleh : Mu’arif

“Kemarin adalah sejarah. Hari ini adalah realita. Dan esok adalah misteri” (Sejarawan)

“independensi himas bukan berarti a politik ataupun anti politik, karena bagaimanapun himas memiliki tanggung jawab political Question (kecerdasan dan mencerdaskan politik) di kepulauan Sapeken”.

Kita telah berada di penghujung perjalanan tauhun 2008, dan kini sedang menanti pergantian tahun ke 2009. Ketika disebut tahun 2009, para tokoh menyebutnya sebagai “tahun politik”. Ada dua perhelatan besar politik yang berlangsung di tahun 2009 mendatang; pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislative (pilleg). Kita bangsa Indonesia akan sedikit memeras keringat mempersiapkan diri dalam memasuki “tahun politik” itu. selengkapnya

Pondok; How long can you go?
(Memahami Peran Politik Pondok Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah )

Oleh ; Minhadzul Abidin


Pesantren PERSIS Abu Hurairah yang lebih akrab disebut Pondok, memang tidak ada istimewanya kalau dibandingkan dengan sejumlah pesantren modern di Indonesia yang sudah memiliki kurikulum yang canggih, akses informasi yang luas dan alumni yang bertebaran menjadi tokoh nasional, tetapi ada hal yang menarik terutama bagi masyarakat kecamatan sapeken, Pondok memiliki nilai historis panjang dengan masyarakat kecamatan sapeken, dan mempunyai hubungan ikatan mutualisme yang relevan dan konstruktif terhadap perkembangan dinamika sosial kultural masyarakat se-kecamatan sapeken. Pondok meruapakan basis perjuangan masyarakat, benteng terakhir aqidah dan tuntunan syari’at, Pondok hadir menjadi sebuah fenomena yang menjelma menjadi dialektika kehidupan merekonstruksi pola keagamaan dan pengetahuan primitf masyarakat.

selengkapnya

CATATAN AKHIR TAHUN


KABUPATEN SUMENEP

DALAM MENGHADAPI TANTANGAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2009

Oleh :Minhadzul Abidin

PENDAHULUAN

Pada tanggal 22 Desember 2008 bertepatan dengan hari ibu kemarin pemerintah mencanangkan ekonomi kreatif tahun 2009, yang menjadi solusi tepat dalam mengatasi krisis keuangan global yang menyebabkan PHK besar-besaran yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi. Ekonomi kreatif lebih memprioritaskan pada pengembangan usaha sektor riil yang berbasis kemandirian dengan pola manajemen ekonomi modern, seperti pola pemasaran dan peningkatan mutu dan kwalitas barang hasil produksi yang lebih kreatif, ekonomi kreatrif lebih menekankan produksi pada barang disekitar kita yang dianggap sebagian orang tidak berguna, Ekonomi kreatif yang mulai diperkenalkan oleh John Howkins, dalam bukunya yang berjudl "The Creative Economy - How People Make Money from Ideas", kemudian dipertegas pengusaha Microsoft corp bill gates pada forum WTO tentang kapitalisme kreatif cara mengatasi krisis keuangan dunia, bagaimana sektor usaha besar harus mulai menyusun strategi dan mulai menekankan aspek kreatifuitas ekonomi kecil, sehingga mempunyai fungsi yang lebih dekat dengan masyarakat secara langsung dan tingkat resikonya kecil, meskipun keuntungan sedikit tetapi akan lebih bersinergi. selengkapnya

Dicari: Feminis Moral Untuk Indonesia!

Oleh : Abdul Qodir Qudus

Sebenarnya, saya enggan memakai kata "feminis". Tapi bagaimana lagi, kata itu kadung menjadi sebutan bagi perempuan yang "gelisah" terhadap hak perempuan dan memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masalah-masalah kaum perempuan.

Perbincangan mengenai masalah perempuan yang terus bergulir hingga kini, tidak pernah lepas dari semua aspek kehidupan. Semua hal selalu nampak "bias gender" ketika kita telah menyentuh ranah pembelaan hak terhadap perempuan. Memang, kita tidak memungkiri bahwa masih banyak para perempuan yang terlilit oleh ketidakpekaan lingkungan sosial mereka (termasuk didalamnya perempuan yang lain dan laki-laki) terhadap keharmonisan dan kesadaran akan tanggungjawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih humanis. selengkapnya

Berkah Ponsel, Ekonomi Nelayan

Bergerak Maju



Oleh: Mohammad Hidayaturrahman


Saat ini, keberadaan telepon seluler (ponsel) tak hanya

dirasakan oleh kaum profesional yang tinggal di kota-kota

besar. Ponsel juga dirasa sangat besar manfaatnya oleh para

nelayan di pelosok negeri yang berada di wilayah kepulauan,

dimana yang menjadi pengguna ponsel di wilayah kepulauan

adalah para nelayan. Salah satu kepulauan yang nelayannya

banyak menggunakan ponsel adalah Kepulauan Kangean dan

Sapeken.

Meski termasuk wilayah Madura, Jawa Timur, warga

Kepulauan Kangean dan Sapeken tinggal di daerah yang tidak

mudah dijangkau alat transportasi laut, apalagi darat dan

udara. Untuk mencapai kepulauan ini, dibutuhkan sedikitnya

waktu 12 jam perjalanan kapal laut, dari Pelabuhan Tanjung

Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal yang digunakan

adalah kapal perintis, milik Pemerintah Pusat, melalui

Selengkapnya

informasi