artikel baru
“BAM” YES, “BAM” NO !
Oleh : M u a r i f
Ketika saya membaca beberapa komentar kawan-kawan himas di buku tamu Blog tentang BAM/Barisan Anti Maksiat, (meskipun secara pribadi saya lebih enjoy menamakan Barisan Amar Ma’ruf ketimbang Barisan Anti Maksiat, karena “Anti Maksiat” menurut saya seolah-olah mengandung arti pribadi-pribadi yang sempurna yang tidak pernah berbuat maksiat), keinginan saya untuk berkecimpung dan merasa terpanggil berkomentar, sehingga lahirlah tulisan ini.
Secara pribadi, barangkali kawan-kawan himas yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Abu Hurairah sudah tidak merasa asing dengan BAM ini. Seingat saya, BAM ini marak terakhir kalinya ketika saya duduk di kelas I (satu) Mts, setelah itu hilang entah kamana.
Diakui memang bahwa Pembicaraan tentang akhlak tidak jarang menimbulkan perasaan tercampur antara dorongan dan hambatan. Perasaan terdorong untuk “berani” membicarakan akhlak karena keinsafan kemanusiaan universal bahwa memang ada budi pekerti dalam masyarakat. Perasaan terhambat muncul karena khawatir terjebak dalam konotasi negative ejekan “sok moralis”. Tetapi dalam banyak hal, kita sering berhadapan dengan dua keburukan, dengan kemestian moral untuk menempuh mana yang ringan.
Dalam urusan pembicaraan akhlak ini pilihan itu anatara dua keburukan; pertama, membiarkan secara sadar kemerosotan akhlak dalam masyarakat dengan segala konsekwensinya. Kedua, menanggung beban kejiwaan karena disebut sebagai “sok moralis”. Siapapun dengan akal sehat yang wajar tentu akan memilih yang pertama, sebab membiarkan masyarakat hancur karena kemerosotan moralnya adalah suatu tindakan tidak bertanggung jawab dan sikap seperti itu sendiri adalah juga suatu jenis tindakan tidak bermoral. Sementara, menghindarkan diri dari sebutan tidak menyenangkan sebagai “sok moralis” kedengarannya cukup menarik. Tetapi, bukankah suatu jenis egoisme jika kita memilih untuk hidup “tenang” sendiri sementara masyarakat runtuh.
Terlepas dari itu semua, BAM (Barisan Anti Maksiat) yang menjadi fenomenal di sapeken menurut saya menarik untuk dicermati. Menarik karena BAM lahir sebagai respon terhadap permasalahan dekadensi moral (prostitusi terselubung, praktek miras, judi, dan tindakan yang bertentangan dengan moral) yang dirasakan di kepulauan sapeken. Di sisi yang lain, Hadirnya BAM di tengah masyarakat, tidak lepas dari kurang efektifnya kekuasaan negara (dalam hal ini pihak kepolisisan) dalam membangun kultur dan kondisi yang kurang kondusif, termasuk peran aktif polisi di tingkat lapangan. Dalam banyak kasus, polisi tidak mampu mencegah terjadinya kekerasan dan pelanggaran hokum, kemudian datang ketika kasus kekerasan telah selesai
Jika ditarik ke “atas”, BAM lahir sebagai konsekwensi logis dari deklarasi syari’at islam di sapeken beberapa tahun yang lalu. Di Indonesia, beberapa tahun terakhir memang ada upaya untuk mengembalikan tujuh kata dalam anak kalimat yang kemudian di kenal dengan Piagam Jakarta dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar, tetapi sebenarnya ini hanya merupakan isu politis. Jika ditarik ke “atas” tidak lepas dari perdebatan hubungan islam dan Negara sebagaimana yang terjadi dalam sidang konstituante pada saat itu.
Di beberapa literature, ada tiga teori relasi islam dan Negara; pertama, teori integralistik, islam dan Negara adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan ibarat dua sisi mata uang, islam tidak hanya berbicara persoalan ukhrowi tapi juga bicara tentang Negara dan kekuasaan. Dengan kata lain, islam tanpa Negara tidak akan bertahan lama, Negara tanpa islam akan kering. Kedua, teori sekuleristik, yaitu agama dan Negara berdiri secara terpisah. Karena agama adalah wilayah sacral dan Negara wilayah profane. Dengan demikian, penganut paham ini dengan lantang berteriak; ‘serahkan agama pada kaum agamawan, dan serahkan kekuasaan pada raja”. Ketiga, teori yang disebut dengan mutualisme simbiosis yaitu antara agama dan Negara salaing menguntungkan, dengan demikian, secara formal, dasar Negara tidak perlu formal islam, yang penting substansi, masyarakat dalam suatu Negara mencerminkan nilai-nilai islam.
“Sesungguhnya aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan moralitas --bangsa”
(AL HADITS)
Hukum tidak dapat dipisahkan dari aspek moral. bila hukum belum ada secara kongkrit yang mengatur, dan moralitas telah menuntut ditransformasikan, maka moralitas haruslah diutamakan. Kebebasan berekpresi tidak boleh bertentangan dengan moralitas, karena negara kita berfalsafahkan pancasila yang memuat nilai religious, yakni moralitas.
Sebagaimana telah maklum bahwa negara kita adalah negara hukum. Artinya segalanya harus ditundukkan di bawah hukum, tanpa ada diskriminasi. Akan tetapi hukum bukanlah segala-galanya. Hukum bukanlah suatu tujuan. Hukum itu sendiri diciptakan bukanlah semata-mata untuk mengatur, tetapi lebih dari itu untuk mencapai tujuan yang luhur, yakni keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.
Hukum sebagaimana disebutkan di muka, harus mencakup tiga unsur, yakni kewajiban, moral dan aturan. Hukum itu sendiri bukan merupakan tujuan, tetapi sebagai tool untuk menuju tujuan yang tinggi, yakni maqâshid al-syarî`ah. Maqâshid al-syarî`ah ini tidak bertentangan dengan HAM, bahkan meliputi HAM itu sendiri. Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa hak-hak individu itu tidak boleh bertentangan dengan hak-hak agama, yakni tidak boleh mengabaikan aspek moral.
Secara konkrit saya ingin mengatakan, Jika BAM lahir karena rasa prihatin serta didasari panggilan moral untuk memperbaiki moral masyarakat, saya pikir kenapa tidak, dan kita harus dukung. Tetapi penting untuk menjadi catatan, jangan sampai dalil-dalil agama menjadi dasar pembenaran dalam melakukan anarkisme yang berlebihan karena terlalu bersemangat beramar makruf dan nahi munkar. Jika itu terjadi, saya khawatir akan menodai semangat mulia ini dan menambah deret panjang kasus kekerasan dalam agama. Jika demikian kenyataannya, maka harus kita TOLAK DAN LAWAN !.
Oleh karena itu, dalam al qur’an gerakan amar makruf-nahi munkar harus berangkat dari kesadaran iman : “kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah…”.
Kehadiran BAM perlu dilihat secara bijak, tidak dengan penuh kebencian dan merasa kebakaran jenggot karena privasi seseorang misalnya terganggu. mengKritik pada orang lain harus dilakukan secara seimbang dengan mengkritik pada diri sendiri, dengan melakukan perimbangan antara mengkritik pada diri sendri dan orang lain akan memunculkan sikap bahwa tidak ada yang perlu dibela secara mati-matian dan dibenci secara habis-habisan.
RESENSI BUKU HIMAS
RESENSI BUKU
Judul Buku : Dari Kepulauan Untuk Indonesia:
(Segenggam Inspirasi di Pojok Nusantara)
Penulis : Kader dan Alumni HIMAS
Editor : Sudarman, MA, Rahmatul Ummah
Penerbit : PT. Tinta Mas Indonesia
Cetakan : Agustus, 2009
Tebal : 229 halaman
Presentator : M u a r i f
Dalam tulisannya, Elan vital perjuangan, Daoed Joesoef sebagaimana yang dikutip dalam Pengantar Buku “Obama-Obama Indonesia; Yang Muda, inspirasi Perubahan” dengan sangat menarik beliau menulis soal mitos Musais dan mitos Jacobis. Isi utama mitos musais adalah pemberontakan melawan ketidak adilan, sedangkan kandungan utama mitos jakobis berupa pemunculan elit baru, dan karena “baru” adalah “muda”. Demikian Daoed Joesoef menafsir. Musa hadir di tengah-tengah tirani fir’aun, dengan semangat revolusioner, menumbangkan tatanan tirani. Tapi lain halnya Sang Jacob, yang dititahkan untuk membangun kembali, mereformasi sebuah tatanan. Dua mitologi di atas sepasang, bergandengan, tak terpisahkan. Habis Revolusi, terbitlah Reformasi.
Reformasi memang telah usai di ahun 98. Sejarahpun tidak bisa dibohongi bahwa peran pemuda ada di dalamnya. Saat itu kekuasaan Soeharto dan rezim orde baru tumbang. Tapi gerakan pada tahun tersebut sebenarnya adalah sebuah pemberontakan; melawan ketidak adilan, tirani, dan kesewenangan. Artinya, ada semangat revolusioner di sana, melalui upaya peruntuhan segala tatanan lama yang dinilai tidak demokratis. Di tahun itu, élan vital mitos musais telah ditunaikan. Kewajiban selanjutnya adalah mewujudkan semangat mitos jacobis; membangun tatanan Indonesia baru.
Bagaimana Dengan Sapeken ?
Mengkaji akar sejarah gerakan perubahan di kepulauan sapeken pada hakikatnya adalah mengkaji sejarah umat islam sapeken secara mikro dan sejarah bangsa Indonesia secara makro. Sebab, gerakan-gerakan perubahan yang terjadi mempunyai akar histories sekaligus mata rantai yang berkesinambungan.
Masyarakat sapeken tak ubahnya seperti kondisi social masyarakat lainnya. Secara sederhana dapat kita gambarkan ketika itu kondisi masyarakat sapeken telah memiliki konflik horizontal dan jauh tertinggal. Kedua, maraknya praktek agama yang berbau animisme dan dinamisme yang kemudian disebut dengan penyakit TBC (Takhayyul, Bid’ah, dan Churafat) merupakan realitas kondisi nyata yang berkembang di tengah masyarakat.
Tampillah kemudian sosok Ustad Ad Dailamy yang gelisah melihat kondisi masyarakatnya. Beliau adalah sosok reformer sekaligus tokoh representatif pada masanya. Artinya, revolusi musa telah ditunaikan.
Kini, berapa puluh tahun kemudian, mitos sang jacobis menggeliat. Anak-anak muda yang terhimpun dalam wadah organisasi HIMAS yang bertebaran di seantero nusantara. Himas yang lahir dari kegelisahan dan kegundahan generasi muda kepulauan yang sudah lelah dan pengap dengan penjajahan system kebijakan yang irasional dan ekspolitasi sumber kekayaan bahari sekaligus kondisi kepulauan yang termarginalkan. Maka, tugas mereka adalah mewujudkan tatanan baru masa depan kepulauan menuju kemajuan dan kesejahteraan.
Membangun masa depan kepulauan yang lebih baik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Membangun tidak hanya fisik, akan tetapi lebih penting adalah mental. Yang dirubah bukanlah fisik dari pulau itu, tapi yang dirubah adalah mentalitas orang-orangnya. Ini merupakan proyek investasi kemanusiaan. Maka, tugas paling mendasar adalah bagaimana membangun Sumber Daya Manusia yang mumpuni, yakni melalui pendidikan. Dan ini tugas HIMAS sebagai komunitas “terdidik”.
Buku “DARI KEPULAUAN UNTUK INDONESIA; Segenggam Insprasi Di pojok Nusantara” sudah demikian komplit, di dalamnya kita temukan beragam pemikiran; ada harapan, renungan, mimpi, sekaligus tawaran progresif untuk kepulaun sapeken tercinta. Anak-anak muda kepulauan yang tidak hanya pandai menangkap ikan, mendayung perahu, dan merakit jaring. Buku yang ditulis oleh anak-anak muda kepulauan ini merupakan buah pikiran dan renungan di tengah kesibukan kuliah dan bertahan hidup di kota-kota besar.
YANG MUDA, INSPIRASI PERUBAHAN. Begitulah kira-kira kesimpulan dari buku ini.
Puisi
BIAS KENANGAN
(John RF, Banyuwangi 151009)
Bila musin berganti jawabmu, masih kusimpan
Simaklah cahaya yang terbit di rahang senja
Dan jika malam telah tiba
Percayalah mimpi masih bisa mempertemukan kita
Kujinjing waktu, separuh usiaku t'lah berjalan
Dalam kelam yang menawarkan bahaga
Meski jiwa tak ranggas seperti bunga
Namun hati tetap membaja tuk meraih bahagia
Hari-hari berubah mengikuti irama waktu
Dan kenanganpun tertinggal seperti gambar
Tapi hidup bukanlah peristiwa diatas kanvas
Hidup adalah suatu keniscayaan yang berjalan
Dan mengalir seperti air
Yang berjalan dan tak berbekas
Hanya akan kehilangan jejak dan langkah
Yang melangkah tanpa tujuan
Hanya akan kehilangan mata arah
Bunga yang menarikan pesona laut
Laut yang menarikan gelombang
Rembulan tersikap awan
Namun disini, dihati ini yang tertinggal hanyalah kenangan
Artikel NEW
INSAN ULUL ALBAB:
DZIKIR, FIKIR, DAN AMAL SHALEH
(Sebuah Tafsir Penjelasan Tujuan HIMAS)
Oleh : Muarif
(Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Himas)
Pendahuluan
Sesungguhnya kelahiran dan kehadiran gerakan Islam, serta organisasi-organisasi Islam di hampir selruh persada nusantara Indonesia, bermaksud mengenyahkan penjajahan di muka bumi Indonesia serta menjadikan kemerdekaan bagi Indonesia, tidak lain karena diilhami dari suatu risalah yakni ‘risalah Islam’.
Satu risalah yang melahirkan satu kesadaran akan makna kemerdekaan. Satu risalah yang mengajarkan tentang hakikat nilai-nilai kemanusiaan, bahwa sesungguhnya manusia mempunyai kemerdekaan untuk berkeinginan, berbuat, berpikir, melakukan sesuatu tanpa harus punya rasa takut dan ketergantungan.
Dalam konteks pergerakan organisasi Islam di Indonesia, ada NU, Muhammadiyah, PERSIS, dan lain-lain adalah dilatarbelakangi di mana kondisi umat Islam mengalami stagnasi dan kemandegan berpikir, dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran agamanya sendiri. oleh karena itu, tujuan dari organisasi-organisasi Islam di Indonesia adalah untuk mengembalikan umat Islam kembali kepada ajarannya; al Qur’an dan hadits.
Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur. Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar pembentukan, status dan fungsinya dalam totalitas dimana ia berada
Pemantapan fungsi pengkaderan HIMAS ditambah dengan kenyataan bahwa kondisi kepulauan sapeken sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling mendasar.
Atas faktor tersebut, maka HIMAS menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 7. AD/ART HIMAS yaitu :
“TERBINANYA INSAN ULUL ALBAB; RESPON TERHADAP PERSOALAN SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA, AGAMA, DLL, DEMI TERWUJUDNYA KEMAJUAN DAN KESEJAHTERAAN”.
Kualitas Insan Ulul Albab
Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk (al-Tin; 3), karenanya Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (al-Nahl; 125), dan hendaknya diantara umat manusia yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar (Ali Imran; 104), karenanya manusia diperintahkan meluruskan dirinya pada agama Allah yang lurus yaitu fitrah Allah yang telah ditetapkan Allah kepada manusia (al-Rum; 30)
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi. Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Khalik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan.
Dalam konsep khalifah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.
Bangunan konsep Ulul Albab terdiri dari tiga prinsip yang saling berinteraksi satu sama lainnya berupa zikir, fikir, dan amal saleh. Artinya, jika seseorang memiliki tingkat zikir yang tinggi serta melakukan fikir yang mendalam, yang keduanya kemudian menjadi dorongan dasar baginya itu untuk melakukan amal saleh, maka ia akan memeiliki derajad kepemimpinan Ulul Albab yang tinggi di sisi Allah swt.
Konsep Ulul Albab yang dibangun terdiri atas empat kekuatan, yaitu: (1) kedalaman spiritual, (2) keagungan akhlak (ethical conduct), (3) Keluasan ilmu (science broadness) sebagai buah dari upaya memahami konsep-konsep ajaran islam, dan (4) kematangan profesional (professional maturity) sebagai hasil yang diharapkan dari pemahaman dan penguasaan ketrampilan manajerial.
Dengan demikian, manusia Ulul Albab adalah pribadi yang mulia dan sempurna (Insan Kamil) dimana ia memiliki kedalaman spiritual, keluasan intelektual, serta kematangan professional yang bertumpu pada nilai-nilai islam. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain. Mereka adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, mereka melakukannya diwaktu siang dan malam, pagi dan petang, diwaktu susah maupun sempit, disaat sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan..
Insan Ulul Albab Dan Cita-Cita Perubahan
Mahasiswa dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Mahasiswa saya definisikan di sini sebagai segmen pemuda yang tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual. mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif lainnya, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang terlalu besar
Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda dapat memiliki tiga peran, yaitu:
- Sebagai generasi penerus (AthThur:21); meneruskan nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu kaum.
- Sebagai generasi pengganti (Al Maidah:54); menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu'min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
- Sebagai generasi pembaharu (Maryam:42); memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.
Berbicara tentang perubahan, tentunya akan memunculkan pertanyaan mengapa harus ada perubahan. Di sini ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai jawaban:
- Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri bahwa masyarakat (termasuk atau terutama di Indonesia) saat ini masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak di permukaan adalah pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak salah jika ada ulama yang mengatakan kondisi sekarang sebagai jahiliyah modern.
- Perubahan adalah suatu keniscayaan, atau sunnatullah. Artinya suka atau tidak, kita akan menemui perubahan. Kalaupun kita diam, maka ada banyak pemikiran lain (komunis, liberal, dll) yang mencoba mengubah masyarakat sesuai dengan kehendak mereka. Oleh karena itu, diamnya kita berarti membiarkan 'kekalahan' ideologi yang kita yakini kebenarannya dan membiarkan terjadinya perubahan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dalam Ar Ra'd:11, Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi dirinya sendiri.
- Melakukan perubahan adalah perintah di dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam suatu hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa perubahan - apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih buruk - berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan - sebagai sebuah perubahan.
Kesimpulan
Cita-cita dan kualitas Insan Ulul Albab mustahil tercapai jika setiap kader Himas tidak punya tradisi gandrung membaca, gandrung diskusi, gandrung penelitian, gandrung wacana, gandrung kuliah, dan gandrung berorganisasi, gandrung sholat jama’ah dan puasa senin-kamis ?
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, adalah ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal, (yiatu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah ketika berdiri atau duduk ataupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran 190-191).
..
ODONG -ODONG PART 2
Oleh : Roesman Empoe Daeng Kasimpungan
Aku memang pernah di ajarkan oleh orang tuaku untuk selalu mencari tahu apa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Memang mereka tidak pernah mengatakan “Carilah apa yang tidak pernah kamu tahu” “Belajarlah dari apa yang tidak pernah kamu bisa”. Tetapi keinginan itu selalu saja datang mungkin karena aku ada maka aku harus berfikir.
Sekarang aku tahu kenapa odong-odong itu bermacam-macam bentuk dan warnanya, mulai dari odong-odong yang sudah buntut sampai odong-odong yang di modifikasi hanya untuk membedakan siapa para pemilik odong-odong tersebut. Dan sekarang aku tahu kenapa para Mahasiswa itu menaiki odong-odong buntut itu, karena yang punya odong-odong buntut itu adalah orang miskin dan Mahasiswa datang dari Negeri Kemiskinan. Dan sekarang aku mengerti perkataan Bapak itu, kenapa Bapak itu melarang aku naik odong-odong, karena hanya satu odong-odong arang miskin diantara puluhan odong-odong yang ada. Kemudian Bapak itu tidak menceritakan siapa pemilik odong-odong yang sudah buntut itu melainkan siapa yang menumpangi odong-odong buntut itu, bukankah dari setiap odong-odong yang ada itu didorong oleh mesin made in china?
Demikianlah dari hari ke hari odong-odong itu mulai banyak saja tampaknya. Mungkin benar apa yang dikatakan Kakek-Kakek itu, tentang Mahasiswa yang menaiki odong-odong buntut itu akan melakukan perubahan terhadap kepulauan meskipun mereka datang hanya pada bulan puasa dan akan menghilang setelah lebaran.Tetapi kenapa harus Mahasiswa? Merekakan datang dari Negeri Kemiskinan, dan waktunya juga sedikit? Tapi aku tetap salut kepada meraka, mereka tidak pernah menadahkan tangan kepada para Penguasa meskipun mereka datang dari Negeri Kemiskinan. Tampaknya para penguasa yang selalu berlebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu bahwa manusia yang ada di dalam odong-odong buntut itu adalah para Mahasiswa yang memiliki intelektual yang luar biasa yang tidak perlu belas kasihan dari MEREKA.
Demikian juga para Mahasiswa yang menaiki odong-odong buntut itu tampaknya sudah semestinyalah mereka membawa perubahan untuk kepulauan orang miskin dengan memanfaatkan waktunya yang sedikit itu sebelum mereka pulang setelah lebaran.
Begitulah dari hari kehari odong-odong buntut itu selalu ada di tengah ramainya odong-odong yang memenuhi jalan-jalan pulau Sapeken, bahkan sepeda motorku sulit keluar masuk rumah karena odong-odong yang berderet-deret didepan pagar rumahku. Dijalan-jalan odong-odong itu bikin macet, dan ditepi jalan banyak oarng-orang yang jualan itu sudah sangat mengganggu pemandangan. Para Mahasiswa yang ada didalam odong-odong itu menganggap bahwa dunia sudah menjadi milik mereka sendiri, sehingga mereka lupa akan tanggung jawabnya. Sepanjang hari para Mahasiswa mengelilingi pulau Sapeken yang keindahannya sungguh luar biasa. Sewaktu ketika, pembantu di rumah Kakek terlambat mengantarkan tanaman hias, akhirnya tanaman hias itu mati di jalan sebelum sampai kerumah si Kakek.
“Tenang saja,” kata Kakek “Sehabis lebaran mereka juga akan menghilang, biasanya juga begitu”
“Tetapi, sekarang odong-odonglah yang membuat ramai mengalir tanpa habisnya”
“Ya, tapi kapan mereka akan kembali ketempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan.”
PADA hari Lebaran, odong-odong itu ternyata tidak semakin berkurang. Dulu pulau kami selalu sunyi, damai dengan hangatnya nuansa silaturrahmi. Dari rumah kerumah suasana Lebaran begitu terasa setiap kali lebaran tiba. Tetapi, Lebaran kali ini pulau kami penuh sesak oleh odong-odong yang tiap harinya selalu bertambah. Odong-odong itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan-perempuan dekil, di kerumuni para lelaki hidung belang mengelilingi pulauku yang asri dengan keindahan alamnya. Mereka bersorak-sorak, ditambah lagi dengan suara musik dari odong-odong membuat pulauku tak seramah lagi seperti dulu.
Pada Lebaran kali ini. Biasanya satu hari setelah Lebaran banyak anak-anak, pemuda-pemudi, dan tidak ketinggalan pula para bapak-bapak dan ibu-ibu meninggalkan pulau Sapeken untuk sekedar bersilaturrahmi kepada sanak saudara yang berada di pulau sebelah. Pulau Sasi’il misalnya, yang sering kali dikunjungi setiap kali lebaran tiba. Maklum pulau ini selain terkenal dengan pantai Bajonya juga makanan lautnya yang khas yaitu Kepiting. Lebih dari separuh warga pulau Sapeken memadati pulau Sasi’il, ada yang memanfaatkan untuk bersilaturrahmi, bahkan ada yang sekedar rekreasi ke Pantai Bajoe.
Tidak seperti pulau Sapeken yang di padati oleh odong-odong, pulau Sasi’il justru di padati oleh oang-orang yang datang dari gugusan pulau-pulau yang ada di kepulauan Sapeken. Tidak tampak odong-odong di pulau itu, bahkan untuk ke Pantai Bajeo saja mereka jalan kaki padahal jarak yang harus di tempuh kurang lebih tiga kilometer.
Bersambung……
cerpen "NEW"
Oleh : Roesman Empoe Daeng Kasimpungan
Kira-kira dua hari sebelum lebaran aku tiba di pulauku sapeken ikut kapal Amukti Palapa. Tidak ada yang berubah sapekenku masih seperti yang dulu, indah dengan hamparan pasir putih yang mengelilinginya. Ada yang berbeda dengan bulan puasa sekarang, Sapeken ramai dengan odong-odong yang bebagai warna dan bentuk bahkan ada yang di modifikasi dengan tujuan untuk membuat tertarik penumpang di bebagai sudut jalan sapeken. Sementara becak dan gerobak sudah mulai menghilang bak adat yang ketinggalan jaman. Dengan roda tiga dibantu mesin made in china sebagai pendorong, hanya saja odong-odong itu berisikan manusia, dari balik tirai odong-odong akan tanpak sejumlah kepala yg menumpangi odong-odong tersebut, biasanya di penuhi oleh anak-anak.
Karena tidak pernah betul-betul aku mengamati setiap odong-odong yang lewat depan rumahku, ketika sedang bejalan merayapi berbagai sudut keindahan pulau sapeken. dari mana, dan mau kemana odong-odong itu? Tapi yang jelas aku tidak pernah menaiki odong-odong itu untuk melihat setiap keindahan sudut pulau sapeken. Silih berganti dari odong-odong yang satu datang odong-odong yang lain tiba-tiba saja sudah berlalu, kadang terlihat berhenti didepan rumahku kadang juga berhenti dibawah rindahan pohon hanya untuk beristirahat bahkan tidak banyak odong-odong yang berhenti di pantai karangkongo, maklum setelah lebaran banyak pengenjung kekarangkongo hanya untuk menghilangkan kepenatan dari aktifitas yang melelahkan, dan tak jarang juga di jadikan tempat pertemuan untuk saling ma’af memaafkan, eh…. Tapi ada yang aneh lho? Pantai karangkongo yang ramai akan pengunjung itu dan sekaligus jadi tempat mengeruh rezeki buat meraka yang miskin jadi TPO alias Target Operasi ehm.. tapi jangan salah ini bukan Densus 88 yang selalu siaga terhadap bentuk teroris yang memiliki kapasitas sebagai penegak hukum melainkan “GAM” alias Gerakan Anti Maksiat… Serem lah pokoknya. Tidak jarang, banyak pengunjung datang dengan menggelar tikar di hamparan pasir putih pantai karangkongo semuanya bahagia mulai dari yang miskin sampai yang kaya layaknya sebuah ikatan persaudaraan antara si miskin dan sikaya yang hanya beralaskan tikar dan beratapkan langit biru serta dinding-dinding pemandangan yang memiliki estetika yang maha dahsyat. Aku berada di pinggiran jalan sama dua orang kakek-kakek yang sudah renta dan tiba-tiba ada odong-odong yang lewat kemudian berhenti didepanku, kemudian kakek yang satu bertanya.
“Kek, siapakah yang datang dengan odong-odong itu? Dari mana mereka datang?”
Kakek yang kedua menjawab sambil menghela nafas.
“Oh, mereka selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah lebaran. Mereka adalah para Mahasiswa.”
“Mahasiswa?”
“Yah, mereka datang dengan memberikan perubahan untuk kepulauan sapeken”
Kakek yang satu itu tidak bertanya lagi, karena sikakekek yang kedua sedikit punya kelainan gangguan psikososial dan orangnnya super sibuk dengan tanaman hiasnya. Waktu berlalu. Senja sudah tiba dan matahari sudah mulai malu menampakkan sinarnya itu menandaka hari sudah mulai gelap. Keesokan harinya, di depan rumah aku mulai mengamati setiap odong-odong yang lewat, didalam sebuah odong-odong aku melihat sekumpulan anak-anak kecil yang asyik menikmati odong-odongnya. Kadang-kadang aku juga sempat kepikiran untuk menaikinya kemudian bersenda gurau di dalamnya, tetapi aku malu sama umurku. Tiba-tiba saja seorang bapak-bapak datang menghampiriku, kemudian bertanya kepadaku.
“Apa yang sedang mereka lakukan di dalam odong-odong itu?”
“Coba saja kamu setiap hari ikut naik didalam odong-odng itu. Apa yang akan kamu rasakan jika berada di dalam nya, apakah kamu akan mendapatkan sebuah kehangatan dan kedamaian, berada dalam kerumunan anak-anak kecil yang memakai baju putih bersih dan rapi sambil ngemut es dondong pak Edi dan makan puding warna-warni?”
Aku tertegun. Apa maksud bapak itu? Apakah bapak itu tidak suka melihat orang yang seusia aku menaiki odong-odong?
Bersambung…
PUISI TERBARU
(John RF, waktu limongan 080909)
Malam ini aq melihat bayangmu di antara gelombang cahaya yg berpendaran
Terdiam di antara suara yg menghukumku
knp kau membisu..??
Aku rindu akan wajahmu
Aku rindu suaramu
Adakah malam ini kau akan pulang membawakan lagu surga untukku..??
Mama...
Aku merindukanmu
Aku rindu pada ketika sama2 kita berkumpul
Kau tuangkan bergelas-gelas air kasih sayang
Dan kau hidangkan makanan ketulusan bagi kami anak2mu
Lalu aku bergayut di pundakmu
Kau membelai rambutku selembut angin
Mama....
Engkau puisi hidup bagi perenungan yg panjang
kasih sayangmu sumber yg tiada pernah habis kukuras setiap waktu
Tapi mama...
Engkau telah berlalu bersama keabadian
Ma'afkan aku mama
Do'aku selalu untukmu
Artikel baru
Menuju Kejayaan Sapeken Tahun 2020
(Perspektif Baru Kebangkitan Kepulauan Sapeken)
OLEH: HUSAMAH
(Pegiat Pendidikan di Malang, Instruktur Lab Biologi UMM)
”Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpi-mimpimu” (Novel Laskar Pelangi)
Prolog
Sebuah artikel lama yang berjudul “The Global Economy” (The Economist, 1/10/1994) menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia pada tahun 2020. Menurut artikel tersebut, pada 2020 urutan kekuatan ekonomi yang ada sekarang akan berubah. Diperkirakan China akan menjadi 140%, AS (100%), Jepang (42%), India (30%), Indonesia (25%), Jerman (23%), Korea Selatan (21%), Thailand (20%), Perancis (19%), dan Taiwan (18%). Menarik bahwa di antara lima besar terdapat empat negara Asia dan di antara sepuluh besar terdapat tujuh negara Asia.
Pengusaha Ricky Sutanto bahkan lebih optimistis lagi. Sebagai mana dikutip oleh Salahudin Wahid (Indonesia Tahun 2020, Optimistis atau Pesimistis?, Kompas/25/06/2005), tahun 2004 pengusaha ini menulis buku berjudul “2015, Kita Terkaya No.5” untuk membuka wawasan dan menumbuhkan semangat bangsa yang seakan hancur lebur ini. Tahun 2005, The National Intelligence Council (Amerika Serikat) mengumumkan prediksi The 2020 Global Landscape (Penampilan Dunia Tahun 2020) yang menyinggung Indonesia. Dikatakan bahwa ada kemungkinan Indonesia bisa meningkat seperti negara-negara besar Eropa dan menjadi kekuatan ekonomi kelas menengah setelah AS, China, Uni Eropa, dan negara tokoh besar Mahatma Ghandi, India.
Modalitas Sapeken
Namanya juga prediksi (ramalan), apa yang dikemukakan sumber di atas bisa salah tetapi juga bisa benar. Di sini, penulis akan menganggap bahwa ramalan tersebut di atas benar. Alasannya, tengoklah novel hebat Laskar Pelangi yang menyuruh bermimpi karena suatu saat Tuhan akan memeluk mimpi itu. Bagi penulis mimpi adalah optimisme-produktif yang menuntut teknik jitu dan keuletan untuk menggapainya. Maka banyaklah bermimpi dan bangunlah untuk menggapai mimpi itu. Sebagai putra Sapeken rasanya tidak salah jika penulispun memiliki mimpi bahwa Kecamatan (Kepulauan) Sapeken akan mencapai kejayaannya tahun 2020 atau 11 tahun yang akan datang.
Setidaknya penulis mengajukan dua kekuatan utama untuk mencapai atau menuju kejayaan tersebut. Pertama, dari sudut pandang Sumber Daya Alam (SDA). Memang, saat ini Kecamatan (Kepulauan) Sapeken memang (masih?) kaya. Lihat saja minyak dan gas yang setiap hari dieksploitasi dari perutnya. Kekayaan baharinya pun (masih?) melimpah. Berbagai jenis hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi tersedia di laut dan pesisirnya. Laut dalam dan zona pasang surutnya sama-sama menjanjikan. Hasil penelitian pendahuluan tugas akhir tentang Holothuroidea (keluarga Teripang/bala’) di Pulau Pagerungan Kecil yang penulis lakukan menunjukkan besarnya potensi tersebut.
Kedua, dari sudut pandang Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan sudah mulai dirasa penting oleh masyarakat. Terbukti, mulai banyak yang menyekolahkan anaknya dan telah banyak pula lembaga pendidikan yang ada. Mahasiswa asal Kepulauan Sapeken sudah mulai bertebaran di seantero negeri. Sarjana-sarjana baru mulai menetas dan siap berkiprah di dunia nyata.
Menyadari Kesalahan
Orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya. Selain memiliki potensi di atas, banyak sisi negatif, kealfaan atau kekurangan yang mendesak untuk diperbaiki. Potensi kekayaan SDA ini kini sudah “lampu kuning”. Penggunaan bahan peledak, racun ikan (potas), dan pukat harimau telah membawa malapetaka. Terumbu karang sebagai habitat ikan banyak yang hancur. Pola regenerasi ikan tidak terjadi karena ikan-ikan kecil pun juga ikut mati dan tertangkap. Hewan-hewan lainnya ikut menghilang. Praktis, pendapatan nelayan (profesi sebagian besar penduduk Kecamatan Sapeken) semakin menurun drastis. Hasil dari eksploitasi minyak bumi dan gas justru tidak dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Sapeken, meskipun ada jumlahnya sangat sedikit.
Pendidikan belum memiliki kontribusi yang besar, selain hanya memberi kemampuan membaca, menulis dan menghitung (calistung) masyarakat. Pendidikan yang ada belum masuk pada penciptaan daya kritis, dan belum berorientasi pada potensi lokal dan nasib masyarakat lokal. Seperti umumnya pendidikan di Indonesia, kurikulum pendidikan Sapeken selalu berkiblat kepada apa yang diinginkan kota/daratan tanpa sekalipun melihat kondisi riil di daerah setempat.
Lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan agama yang kian banyak menjamur di Kecamatan Sapeken lebih mengajarkan anak didik untuk manut-manut saja, dogmatis, simbolik dan irrasional. Oleh sebab itu, setelah mereka tamat, bukannya nilai agama itu terejawantahkan atau teraplikasi dalam kehidupan, justru tampilan lain yang mereka tunjukkan. Bahkan ironisnya, merekalah yang menjadi agen perusak norma masyarakat. Parahnya lagi, kondisi ini dipersubur dengan masuknya budaya televisi dan sinetron yang setiap waktu ditonton secara berjamaah.
Para ulama dan tokoh masyarakat (tokoh agama) Sapeken juga seakan kian jauh dari umat. Apakah mereka telah terjebak? Jawabannya mungkin saja ‘ya’. Ketika para ulama lebih mementingkan bagaimana menjadi calon legislatif dan bagaimana memajukan partai tertentu di wilayah Sapeken, mereka kemudian mengabaikan fungsi sebagai agen perantara, pendidik, sekaligus pencerah masyarakat. Salah satu faktor lain yang berperan yaitu adanya prinsip yang menganggap golongan ormas tertentu lebih benar. Hal itu ditambah dengan ketidakinginan para ulama tersebut untuk berdakwah lintas kelompok (misalnya, orang Persis hanya untukk Persis dan NU untuk NU saja). Bisa saja, kasus kekerasan, barbarisme dan brutalisme yang terjadi beberapa waktu lalu di Sapeken (Tanjung Kiaok) merupakan wujud kelalaian para ulama yang telah jauh dari umat. Ingatlah, kekerasan yang muncul tersebut hanya contoh kecil (teori gunung es).
Pengusaha dan pemilik modal di Sapeken ternyata lebih kapitalis dan cenderung mengeruk keuntungan besar, tak peduli apakah itu merugikan masyarakat lain atau tidak. Kekayaan hanya dimiliki segelintir orang. Akhirnya mereka tak ubahnya raja-raja kecil. Ekonomi kapitalis itu telah keluar dari konsep ideal, dimana ekonomi kerakyatan (termasuk yang melibatkan dan menyejahterakan segala lapisan masyarakat) yang sebenarnya harus disemai.
Mahasiswa Sapeken yang bertebaran belum memiliki kontribusi riil terhadap daerahnya. Bahkan kebanyakan mahasiswa itu terjebak pada budaya gaul dan fashion kota. Dalam bahasa kasarnya, ini dinamakan sok metal, sok gaul dan sok pinter. Cobalah kita renungkan! Sebagai ungkapan rasa memiliki HIMAS, kembali ada pertanyaan menarik yaitu sucikah HIMAS dari kepentingan-kepentingan? Satu hal yang menggelitik, ironis dan belum sempat di sampaikan penulis adalah masalah jebakan partai politik dan Ormas Islam tertentu. Mungkin dalam niat para pengurus tidak demikian, tetapi dengan mendatangkan salah satu narasumber yang memiliki background politik tertentu dan ormas tertentu sama saja dengan mematikan peran dan potensi HIMAS sebagai pihak penengah. Sekali lagi, para punggawa HIMAS harus menyadarinya karena nyatanya itulah yang terlihat dari luar.
Epilog
Apakah waktu yang hanya tinggal 11 tahun ini dapat kita manfaatkan secara cerdas untuk bisa menggapai mimpi tersebut? Sudah saatnya kita sadar dan bergerak untuk berubah. Jika tidak, bayangkan sendiri wajah Sapeken 11 tahun mendatang. Tentu saja semua perubahan tak mungkin kita capai hanya dengan berpangku tangan. Jalan menuju ke cita-cita mulia kita tidak akan pernah mudah. Bangkit, berbuat memperbaiki kesalahan dan menggunakan semua potensi harus dilakukan semua stakeholders. Penulis juga berharap banyak pada Caleg asal Kepulauan Sapeken yang terpilih pada Piled 9 April 2009 lalu. Saatnya membuktikan janji pada para konstituennya. Jangan "menjual" masyarakat kepulauan hanya pada saat kampanye.
Akhirnya, artikel ini mungkin terlalu dangkal, apalagi melihat seriusnya permasalahan yang dihadapi. Namun harapannya, artikel ini akan menjadi perspektif baru, sebuah tonggak awal optmisme masyarakat Kepulauan Sapeken untuk bangkit. Insya Allah.
Untuk Perempuan Kepulauan
Quo Vadis Perempuan Kepulauan Sapeken
dari Hartini Sampai Iing Hj. Meing
oleh : Minhadzul Abidin
kalian memang butuh laki-laki, tetapi jangan hidup dibawah
penindasan dan kekuasaan laki-laki
(Kutipan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia
-Pramoedya Ananta Toer-)
PENDAHULUAN
Ketika membaca buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, ada hal yang menjadi gugatan dalam pikiran saya yang harus segera tuangkan dan mencoba mengelaborasi terhadap kondisi Perempuan di Kepulauan dari dulu sampai sekarang. Secara umum kondisi Perempuan Kepulauan adalah sub narasi Perempuan di Indonesia. Dimana kondisi Perempuan di Indonesia masih di dominasi budaya patriaki dan hegemoni patriarki tersebut bersekutu dengan agama yang ditafsirkan secara tekstual, tetapi hal itu sudah mulai diimbangi dengan munculnya gerakan Perempuan yang menyuarakan persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi gender, tetapi semua masih kontra produktif penuh perdebatan dan dialektika.
selengkapnya
...
KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN
Golput ala Sujiwo Tedjo
Oleh : Minhadzul Abidin
Sujiwo Tedjo tokoh nyentrik yang memiliki nama lengkap Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962). Dia juga seorang dalang dan kalau bisara sangat ceplos-ceplos tanpa perhitungan apa adanya dalam bahasa jawanya disebut tanpa aling-aling, selalu mendeskripsikan sesuatu dalam konteks pewayangan jawa. Sujiwo Tedjo mulai terkenal sejak membintangi film KAFIR bersama Artis salah satu trah Azhari yakni Ayu Azhari. Ada hal yang mengganjal dalam pikiran saya ketika mengambil preference kepada sosok yang tidak jelas dan terlalu imajinatif dan melampaui batas dialektika rasional yang bersifat umum dan sangat kontroversial ini bahkan banyak menyebut nya sebagai orang senewen atau gila, tetapi ada yang menarik dari sosok yang satu ini ketika dalam suatu acara talkshow Pemilu disebuah stasiun televisi swasta setelah bertajuk Pemilu Indonesia sehari setelah Pemilu 2009 digelar yang membahas tentang prsentase golput di Pemilu 2009 yang mencapai 40%.
artikel baru
OPTIMISME PEMILU 2009
(Menjawab Kegalauan Terhadap Demokrasi Prosedural)
Oleh : Rahmatul Ummah
(Mahasiswa S2 FISIP Unila/Anggota KPU
Ada beberapa pertanyaan penting yang harus saya ajukan untuk setiap orang yang menolak pemilu, apalagi jika argumentasinya itu dibangun di atas klaim akademis. (1) Mungkin atau adakah negara demokratis tanpa pemilu? (2) Apakah demokrasi substansial itu bisa dicapai tanpa demokrasi prosedural? (3) Dalam sejarah perjalanan negara, peroses peralihan kekuasaan hanya bisa dilakukan dengan 3 cara, REVOLUSI, KUDETA dan PEMILU?, Adakah cara yang lebih aman untuk peralihan kekuasaan selain Pemilu?
Selengkapnya-
PEMILU 2009 AKAN MELAHIRKAN PEMIMPIN YANG MEMILIKI
SENSE OF POOR
APRIL MOP!!
Oleh : Minhadzul Abidin
Mungkin ketika kita mendengar kata APRIL MOP mungkin kata tersebut masih terasa asing di telinga kita, karena sejarah peradaban kebudayan Indonesia atau islam yang mendominasi kehidupan kita tidak pernah mengenal kata tersebut, mengapa saya menggunakan kata tersebut dan apa hubunganya dengan Pemilu 2009 yang akan dilaksanakan di bulan april. April Mop, dikenal dengan April Fools' Day dalam Bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari ini, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap teman dan tetangga, dengan tujuan mempermalukan mereka-mereka yang mudah ditipu. Di beberapa negara, lelucon hanya boleh dilakukan sebelum siang hari (sumber: wikipedia), jadi pada hari tersebut dilegalkan untuk berbohong dan menipu orang lain karena akan dianggap sebagai bahan lelucon.
-
MENGAPA KITA HARUS TOLAK PEMILU 2009 (Sebuah Ikhtiar Pribadi)
Oleh : Minhadzul Abidin
Tulisan ini merupakan penjelasan dari pendapat saya di buku tamu blog HIMAS pusat, tentang mari cerdaskan
rakyat untuk menolak pemilu 2009 dalam konteks calon legislatif daerah pemilihan tujuh (DAPIL 7) DPRD kabupaten Sumenep, karena Caleg-Caleg yang muncul adalah pemain lama yang telah gagal dalam PEMILU 2004. kemudian banyak ditanggapi dengan pro kontra oleh alumni dan sebagian Anggota HIMAS. Mungkin namanya era keterbukaan demokrasi tidak ada ruang atau space khusus untuk membatasi hak berpendapat di muka publik dan pendapat tersebut tidak bermaksud atau dengan sengaja memprovokasi masyarakat. ......selengkapnya
-
HIMAS PENGGUGAT ATAU TERGUGAT
(Sebuah Dialektika Sosial dan Kebebasan Berfikir)
By.Syaifuddin
(Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)
Disaat semua bungkam dan diam dalam panatisme dan kesalehan individual, pada saat itu kelompok minoritas bergerak dalam dinamika kebungkaman itu, berangkat dari dhaurah ramadahan (th.2005 M), tradisi tahunan yang dilakukan oleh Alumni Pesantren Abu Hurairah sebagai bentuk penggodokan mentalitas dan pengembangan intelektualitas yang kental dengan kajian-kajian religius yang monologis (peserta hanya menjadi pendengar dari pemaparan pemateri), pada tahun itu, nampak aroma kesegaran berfikir, agresif, terbuka, dinamis dan ilmiah dibanding tahun-tahun sebelumnya , hal ini karena dominasi para mahasiswa sapeken yang tersebar di berbagai perguruan tinggi se Indonesia berkumpul untuk mengikuti acara tersebut. selengkapnya
“LUMPUR HEDONISME ;
Dalam Sindromatika Politik 2009-2014”
By. Syaifuddin
(Alumni HIMAS/ Pemuda Muhammadiyah)
selengkapnya
Artikel Baru
REFLEKSI MILAD KE-8 HIMAS
MEREKONTRUKSI KEMBALI SEBUAH NARASI BARU
Oleh : Mu’arif Rahmatullah
(SEKJEND PW HIMAS SURABAYA)
Beberapa hari lagi, tanggal 24 Februari 2009 M, merupakan hari bersejarah bagi HIMAS. tepatnya tanggal 24 Februari 2001 yang silam organisasi mahasiswa kepulauan ini lahir di sapeken. Tidak terasa waktu terus bergulir membawa sejarah tersendiri bagi perhimpunan anak-anak “muda terdidik” kepulauan ini (baca; mahasiswa). Dinamika perubahan yang setiap saat bergerak dalam ketidakpastian, sedikit banyaknya mengubah pola alir gerakan HIMAS dalam merespon dinamika perubahan tersebut. terkadang HIMAS tertinggal, terkadang pula larut dalam dinamika tersebut.
Sesungguhnya kelahiran dan kehadiran gerakan Islam, serta organisasi-organisasi Islam di hampir selruh persada nusantara Indonesia, bermaksud mengenyahkan penjajahan di muka bumi Indonesia serta menjadikan kemerdekaan bagi Indonesia, tidak lain karena diilhami dari suatu risalah yakni ‘risalah Islam’.
PEMUDA DAN PESTA DEMOKRASI PEMILU 2009
usman adhim (Presidium I PP HIMAS)
Aku tak bisa untuk tak peduli, Hati ini tersiksa,
Aku bersumpah, Untuk berbuat yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan, Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali, Uku tak mau hidup dalam keraguan
(Iwan fals – 15 Juni 1996)
Momentum penting kebangsaan, yakni pemilihan umum (pemilu), kian hari kian dekat hadir ditengeh-ditengah kita. Dalam penantian harap-harap cemas ditengah janji-janji politik mengumbar prestasi mengharap simpati lewat iklan-iklan suksesi politik klaim bukti, kelabui masyarakat. Kaum muda indoneaia harus menjadi faktor penentu bukan pelengkap penderita dalam momentum itu, kita harus menjadi bagian solusi bagi permasalahan bangsa. itulah peran utama kaum muda dari agama apapun atau organisasi apapun mereka berasal.
Sebaliknya kalau kaum muda justur menjadi bagian dari masalah atau Cuma pelengkap penderita dan penyerta, maka bukan lagi berjiwa pemuda tapi sedah tergolong genersi yang harus pensiun. Tinggal menunggu malaikat maut memanggil kehadapan Tuhan, karena pemuda identek dengan perubahan dan bila kata pemuda disandingkan dengan kata perubahan maka inter pretasinya bukan lagi usia sebagai parameternya tapi semengat remormasi pemuda sebagai agen of change, agen of conrol dan agen of reformasi. Oleh karena itu Ali bin abi thalib berkata, himmaturrizal tahrikul jibal: semangat para pemuda dapat menggoncang dan merontokkan gunung. Karena, izda kanati nnufusu kibaran muradhihal ajsam: apabila semangat itu telah berkobar maka jasad tidakkan pernah mampu melayaninya. Pertanyaanya, selama ini jasad kita dicapekkan oleh hal-hal apa, bagaimana dan untuk apa?
Kita kaum muda, semua sudah pernah merasakan bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa selama masa transisi. Kita telah menghitung sisi positif dan negatifnya, kita juga mengetahui kemunduran dan kemajuan bahkan stagnasi yang terjadi. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pemimpinnya. Tapi jangan lupa, munculnya seorang pemimpin juga sangat terkait dengan kualitas bangsa secara keseluruhan.
Bangsa yang berjiwa besar dan bertekad untuk terus maju, mustahil melahirkan pemimpin yang berjiwa kerdil dan berorientasi jangka pendek. Bangsa yang ingin mewujutkan cita-cita yang digariskan para founding father (pendiri bangsa), maka akan memilih pemimpin yang mampu merealisasikan tekad luhur itu.
Sebaliknya bangsa yang pemalas dan tak produktif, dan orientasinya pada pencarian kekuasaan yang egoistic, maka mustahil akan memilih pemimpin yang suka bekerja keras dan mendahulukan kepentingan rakyat demi demi tercapainya kemajuan bersama. Bangsa yang menjunjung agenda reformasi demi terwujudnya Negara yang makmur dan bersatu, yang berdaulat dan berwibawa dimata bangsa lain, pasti mereka akan memilih sosok pemimpin yang mampu memenuhi harapan itu.
Itulah kaedah umum yang berlaku dalam sejarah politik tentang lahirnya sebuah kepemimpinan nasional yang mengakar. UUD 1945 yang telah diamandemen menyatakan kedaulatan diserahkan seoenuhnya kepada rakyat. Kita semua memiliki hak yang setinggi-tingginya untuk menentukan corak pemimpin masa depan.
Oleh karena itu, agar kita memperoleh pemimpin yang baik, mau tidak mau kita harus menentukan: posisi apa yang kita ambil?. Bila kita memang anak bangsa yang dikenal malas dan hanya memikirkan dirinya sendiri larut dalam hedonisme kehidupan, maka sikap yang lahir adalah acuh tak acuh, dan cenderung jadi tukang kritik, atau bahkan kita akan memilih pemimpin yang malas. Tidak ada anak bangsa yang pemalas yang mau memilih pemimpin yang rajin, kapabil dan berdisipplin, karena merasa akan kena sangsi sifat hedonisnya, tapi alangkah tragisnya dampak buruk yang akan menimpa masyarakat yang jadi korban politik para gerombolan prakmatisme.
Pemilu yang akan dating ini merupakan momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai anak bangsa, menyelamatkan nasib masyarakat, ekonomi dan pendidikannya. putra daerah yang tahu betul nasib prekonomian masyarakatnya, tahu betul pekerjaan orang tua mereka dan tahu betul nasib pendidikannya dan tahu betul bagaimana putra daerah yang kaya sumber daya alamnya, mengundi nasib menuntut ilmu nyambi jadi marbot masjid, pelayan toko dan restoran, jualan, dan lain-lain. Seberapa keras hati kita bila tidak tersentuh dengan fonomena itu. Pemilu akan datang ini disamping menjadi faktor pendidikan politik yang sangat krusial dan urgen sekali juga menjadi penentu nasib bangsa untuk menjadi lebih baik atau makin terpuruk, kita kaum muda lebih bertanggung jawab membaca dan memfirasati kemunggkina-kemungkinan itu untuk mengarahkannya sebelum nasi menjadi bubur, Sebab tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan pemilu lima tahun yang akan datang.
Intensitas pengawalan dalam perjuangan sepenuh hati kaum muda khususnya sangat ditutut di tengah-tengah masyarakat yang dibingungkan oleh kontaminasi para calon pemimpin dengan berbagai janji politik. Pemilu yang jujur dan adil kita perlukan, agar kita bisa membayangkan daerah kita, masyrakat kita, orang tua kita dan adik-adik kita dimasa datag hidup dalam keadilan sosial dan kesejahteraan. Hal itu, suka atau tidak suka, sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan kita, pemimpin yang berkualitas dan peduli terhadap nasib rakyat serta generasi mas datangakan menciptakan bangsa yang makmur, dal dan sejahtera, damai dan tentram.
Semestinya kita semua menyambut kesempatan yang baik dalam pemilu untuk mengoreksi faktor negative yang terjadi selama ini sebagai sebab terjadinya krisis yang menjerat masyarakat miskin kepulauan. Kita melihat beberapa partai diprotes dan didemonstrasi oleh anggota dan kadernya sendiri, kita melihat beberapa partai terpecah dan mengalami konflik ataupun folemik inernal yang berkepanjangan. Apapun alasannya,subyaktifitas soliditas internal, merekomendasikan obyaktifitas-soliditas ekternal secara orientataif dalam mengelola hubungan secara horizontal yang lebih luas dan fertikal yang lebih profesianal.
MERINDUKAN HIMASWATI BERJIWA RADIKAL BERFIKIR EMANSIPATORIS
(Semangat Anisa` dalam Film Perempuan Berkalung Sorban)
By.SYAIFUDDIN
(Alumni HIMAS / Pemuda Muhammadiyah)
Dari waktu-kewaktu perjalanan dan pergerakan perempuan mengalami pasang surut karena harus berhadapan dengan patriarkis yang diangap lebih unggul dari perempuan, perempuan di gambarkan oleh Abidah el Khalieqy, dalam Novelya, Perempuan Belkalung Sorban (PBS) yang telah di visualkan dalam bentuk film, sutradara, Hanung Bramantyo, film kontoversial ini menyedot perhatian MUI dan tokoh agama konservatif lainya, PBS dalam tradisi PP. Al-Huda (Institusi Pengkajian Islam) diletakkan sebagai obyek terhadap laki-laki, istri hanya menjadi pemuas nafsu seksualitas suaminya, bahkan terpasung atas nama agama “istri akan dilaknat oleh Tuhan jika istri tidak mau melayani suaminya”, paradigma kultural yang berkambang di institusi pendidikan yang mengajarkan kitab kuning dan penanaman nilai-nilai religiusitas pada santriwatinya itu, mendapat perlawanan keras Annisa` (Revalina S Temat) karean perempuan tida diberikah hak proporsional dalam keperempuanannya sebagaimana hak laki-laki. Selengkapnya
VALENTINE OH VALENTINE
Oleh : Rina Hafidz
If there were no words…. No way to speak
I would still hear you
If there were no tears
No way to feel inside, I’d still feel for you
And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of time
You’re all I need, my love, my Valentine.
( Penggalangan lagu diatas adalah lagu wajib di Bulan Pebruari yang dinyanyikan oleh Martina McBride diiringi lantunan piano Ciamik dari Jim Brickman dengan judul Valentine).
Asal Muasal Valentine
Kalau mau mencari tahu sejarah mengapa ada acara valentine itu sangat mudah sekali bagi kamu yang terbiasa mengakses internet cukup ketik “ sejarah valentine ” dimesin pencari Google maka kita akan temukan artikel / tulisan yang melimpah ruah yang membahas masalah ini. Sekilas penulis memberikan penjelasan tentang asal muasal valentine dari berbagai versi. Ada versi yang mengatakan, dulu sebelum masa kekristenan, jaman Yunani Kuno Dan Romawi kuno ada tradsi pesta yang dilakukan tiap pertengahan Pebruari. Di jaman Athena kuno, tradisi ini disebut sebagai Bulan Gamelion yaitu masa menikahnya dewa Zeus dan dewi Hera. Sedangkan di jaman Romawi Kuno, disebut hari raya Lupercalia sebagai peringatan terhadap dewa kesuburan Lupercus, yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba, dan dewi cinta Juno Februata. Dimana pada hari raya ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Lotre pasangan, yaitu para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah benjana lalu para pria mengambil satu nama dalam benjana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Tradisi inipun menyebar dengan cepat keseluruh Eropa. Kemudian Kristen pun masuk ke Eropa, namun penyebarannya terhambat ketika benturan dengan tradisi dibulan Pebruari ini. Dicarilah cara agar bisa menarik orang masuk agama Kristen sehingga diadopsilah perayaan kafir pangan ini dengan memberi kemasan kekristenan. “ jadilah Paus Gelasius I pada 14 Pebruari 469 M mengubah upacara Romawi Kuno Lupercalia ini dan meresmikannya menjadi Saint valentine’s Day ”, hal ini juga dilakukan untuk menghormati Pendeta Valentino yang dihukum mati oleh Raja Claudius II ( 268- 270 ) karena memtertahankan keyakinannya dan ada juga yang mengatakan Pendeta ini mati karena membela kisah cinta 2 anak manusia padahal gereja telah melarangnya. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa tanggal 14 Pebruari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu.
HIMAS: MEMBEDAH REALITAS MENJAWAB
PROBLEMATIKA SOSIAL KEPULAUAN
(by. Syaifuddin,
Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)
“Untuk mebangun masyarakat kepulauan maka pemerintah harus boros jika tidak maka selamanya masyarakat akan ketinggalan dan akan terjadi ketimpangan yang berkepanjangan antara daratan (kota) dengan kepulauan……” (Dr. Suekarwo, M.Hum)
Pernyataan ini bukan pernyataan yang kering dan kosong dari realitas tapi merupakan koreksi kebijakan terhadap pemerintah tertama pemerintah Kabupaten Sumenep, dalam kebijakanya tidak “sudi” kalau kepulauan maju dan berkembang dalam sosial ekomomi, distorsi kebijakan ini merupakan kepicikan pemerintah Kabupaten Sumenep.
Sumur gas di Pagerungan dieksplorasi BP Kangean sejak 1993. Mula-mula bisa memproduksi 225 juta kaki kubik per hari. "Tapi, lambat laun mengalami pengurangan alami dan sekarang 14 sumur yang aktif dari 18 sumur dengan hasil produksi pada tagun 2003 hanya 180 juta kaki kubik per hari" Sedangkan Sumur minyak di Sepanjang cukup besar. Saat ini ada tiga sumur yang sudah dieksplorasi dan siap untuk dieksploitasi. Tiap sumur itu diprediksi memiliki kandungan 350 barel per hari. "Jadi, 1.050 barel per hari bisa dihasilkan dari tiga sumur itu," dan 80% - 85% untuk Pendapatan Daerah Kabupaten Sumenep, dengan jelas bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep bisa bertahan hidup karena adanya subsidi dari kepulauan.
Selengkapnya
REVOLUSI KURIKULUM
Menuju Pendidikan yang Mencerahkan
By: Umar Hadi bin Makka
(KETUA DEPT PENDIDIKAN PP HIMAS)
Dan ketika Allah Swt. berfirman dalam kitab-Nya “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS: 4. 141), maka masyarakat yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan mulia; sebuah masyarakat yang memiliki semua persyaratan sebagai masyarakat terbaik, sebuah masyarakat yang tidak menyisakan tempat bagi sebuah kelemahan. Masyarakat Islam bukan kumpulan individu para pecundang yang terpinggirkan dalam sejarah. Islam menghendaki umatya tidak mengalami marginalisasi periferalisasi dalam percaturan peradaban dunia. Karena itu saya ingin menegaskan doktrin teologis kita sebagai masyarakat terbaik yang harus keluar menjadi pemenang dalam semua epos sejarah kemanusiaan. Ayat itu , secara implisit, berusaha menjelaskan visi eksistensial kita yang harus menjadi pemimpin dan soko guru peradaban umat manusia. Dalam ayat lain, al-qur’an menyebut masyarakat terbaik itu dengan kata “khaira ummah”.
Selengkapnya
.
(Inspirasi Film Perempuan
Berkalung Sorban)
(dialog Annisa-perempuan berkalung sorban)
ketika saya diajak oleh seorang
teman untuk menonton film yang diadaptasi
Novel dengan judul yang sama karya Abidah el
Khalieqy, yang disutradai dengan apik dan
penuh kontroversial oleh Hanung Bramantyo,
saya langsung menyanggupinya, ada hal yang
membuat saya penasaran dan terlalu (meminjam
istilah andrea hirata) obsesif kompulsif
dengan film Perempuan Berkalung Sorban
(PBS), apalagi setelah membaca resensi film
tersebut di salah satu surat kabar ibukota.
selengkapnya
ekonomika
EKONOMI SAPEKEN
DIANTARA MUSIM BARAT, KEYNESIAN DAN MA SUREBE
Oleh : Minhadzul Abidin
PENDAHULUAN
Musim barat di Kecamatan Sapeken yang biasa disebut sebagai musim penceklik, yang ditandai dengan angin dan gelombang tinggi membuat perahu dan kapal harus karam di Pelabuhan sampai waktu yang lama, pada musim barat tersebut tersebut roda dan gairah perekonomian masyarakat lemah, karena tingkat pendapatan yang menurun, daya beli rendah dan implikasi pada semua sektor kehidupan masyarakat. salah satu yang terkena dampaknya adalah Pedagang, ditengah permintaan (demand) yang semakin menurun dan daya beli masyarakat rendah, Pedagang akan mengalami kerugian yang sangat signifikan, karena pada saat itu Pedagang akan menjual barang dengan harga murah atau memberikan hutang kepada konsumen dan arus perputaran modal akan mengalami hambatan yang besar. Penurunan daya beli masyarakat disebabkan karena sumber mata pencaharian terbesar masyarakat yaitu Nelayan mengalami hambatan (weakness)karena Nelayan tidak berani melaut Dan pada situasi inilah deflasi semakin meningkat dimana jumlah barang melebihi jumlah uang yang beredar.
Selengkapnya
artikel baru
oleh : Moh. Sarip Hidayatullah
(Anggota UKM FDI UMM, Mahasiswa Sosiologi UMM)
Percayakah anda jika di Kabupaten Sumenep yang mayoritas suku Madura terdapat sebuah kecamatan yang justru dihuni oleh suku lain? Kecamatan tersebut bernama Sapeken, sebuah kecamatan kepulauan di Sumenep. Inilah sebuah keunikan yang justru jarang dikenal orang.
selengkapnya
cerpen
Sheina
Jadi Pelacur Untuk koruptor
Chapter 4
Oleh : Minhadzul Abidin
Dari penjelajahan ku di karang kongo dan melihat potret sebenarnya yang terjadi di kampung halamanku yang terkenal sangat menjujung nilai-nilai syari’at islam, Aku mulai mendengus panjang, tubuhku lunglai, tatapan mataku mulai tidak terfokus, ada duri yang menusuk lerung hatiku, inikah potret kehidupan yan tidak bisa kita pandang sebagai sebuah paradigma hitam putih, niatku untuk mencari Sheina di kegelapan malam ini tidak lagi tumbuh, menurutku Sheina adalah bagian simpul dialektika kehidupan yang mulai terpusat pada titik antitesis kehidupan fatamorgana ini, “ ayo kita pulang” begitu aku berucap dengan suara lirih kepada Muse yang sejak dari tadi menemaniku, entah apa dipikirannya melihatku duduk tersungkur di pasir putih yang baunya menyegat seperti kotoran manusia, “ kamu tidak apa-apa Ril?” dengan nada yang polos tanpa beban, “ “gak, apa-apa koq, ayo kita pulang” dengan nada yang seadanya dan hatiku menerawang tidak tahu entah kemana.
ARTIKEL AWAL TAHUN
PERLUNYA “HIJRAH POLITIK”
DALAM MENYONGSONG TAHUN POLITIK
Oleh : Mu’arif
“Kemarin adalah sejarah. Hari ini adalah realita. Dan esok adalah misteri” (Sejarawan)
“independensi himas bukan berarti a politik ataupun anti politik, karena bagaimanapun himas memiliki tanggung jawab political Question (kecerdasan dan mencerdaskan politik) di kepulauan Sapeken”.
Kita telah berada di penghujung perjalanan tauhun 2008, dan kini sedang menanti pergantian tahun ke 2009. Ketika disebut tahun 2009, para tokoh menyebutnya sebagai “tahun politik”.
Pondok; How long can you go?
(Memahami Peran Politik Pondok Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah )
Oleh ; Minhadzul Abidin
Pesantren PERSIS Abu Hurairah yang lebih akrab disebut Pondok, memang tidak ada istimewanya kalau dibandingkan dengan sejumlah pesantren modern di Indonesia yang sudah memiliki kurikulum yang canggih, akses informasi yang luas dan alumni yang bertebaran menjadi tokoh nasional, tetapi ada hal yang menarik terutama bagi masyarakat kecamatan sapeken, Pondok memiliki nilai historis panjang dengan masyarakat kecamatan sapeken, dan mempunyai hubungan ikatan mutualisme yang relevan dan konstruktif terhadap perkembangan dinamika sosial kultural masyarakat se-kecamatan sapeken. Pondok meruapakan basis perjuangan masyarakat, benteng terakhir aqidah dan tuntunan syari’at, Pondok hadir menjadi sebuah fenomena yang menjelma menjadi dialektika kehidupan merekonstruksi pola keagamaan dan pengetahuan primitf masyarakat.
CATATAN AKHIR TAHUN
KABUPATEN SUMENEP
DALAM MENGHADAPI TANTANGAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2009
Pada tanggal 22 Desember 2008 bertepatan dengan hari ibu kemarin pemerintah mencanangkan ekonomi kreatif tahun 2009, yang menjadi solusi tepat dalam mengatasi krisis keuangan global yang menyebabkan PHK besar-besaran yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi. Ekonomi kreatif lebih memprioritaskan pada pengembangan usaha sektor riil yang berbasis kemandirian dengan pola manajemen ekonomi modern, seperti pola pemasaran dan peningkatan mutu dan kwalitas barang hasil produksi yang lebih kreatif, ekonomi kreatrif lebih menekankan produksi pada barang disekitar kita yang dianggap sebagian orang tidak berguna, Ekonomi kreatif yang mulai diperkenalkan oleh John Howkins, dalam bukunya yang berjudl "The Creative Economy - How People Make Money from Ideas", kemudian dipertegas pengusaha Microsoft corp bill gates pada forum WTO tentang kapitalisme kreatif cara mengatasi krisis keuangan dunia, bagaimana sektor usaha besar harus mulai menyusun strategi dan mulai menekankan aspek kreatifuitas ekonomi kecil, sehingga mempunyai fungsi yang lebih dekat dengan masyarakat secara langsung dan tingkat resikonya kecil, meskipun keuntungan sedikit tetapi akan lebih bersinergi. selengkapnya
Dicari: Feminis Moral Untuk
Oleh : Abdul Qodir Qudus
Sebenarnya, saya enggan memakai kata "feminis". Tapi bagaimana lagi, kata itu kadung menjadi sebutan bagi perempuan yang "gelisah" terhadap hak perempuan dan memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masalah-masalah kaum perempuan.
Perbincangan mengenai masalah perempuan yang terus bergulir hingga kini, tidak pernah lepas dari semua aspek kehidupan. Semua hal selalu nampak "bias gender" ketika kita telah menyentuh ranah pembelaan hak terhadap perempuan. Memang, kita tidak memungkiri bahwa masih banyak para perempuan yang terlilit oleh ketidakpekaan lingkungan sosial mereka (termasuk didalamnya perempuan yang lain dan laki-laki) terhadap keharmonisan dan kesadaran akan tanggungjawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih humanis. selengkapnya
Berkah Ponsel, Ekonomi Nelayan
Bergerak Maju
Saat ini, keberadaan telepon seluler (ponsel) tak hanya
dirasakan oleh kaum profesional yang tinggal di kota-kota
besar. Ponsel juga dirasa sangat besar manfaatnya oleh para
nelayan di pelosok negeri yang berada di wilayah kepulauan,
dimana yang menjadi pengguna ponsel di wilayah kepulauan
adalah para nelayan. Salah satu kepulauan yang nelayannya
banyak menggunakan ponsel adalah Kepulauan Kangean dan
Sapeken.
Meski termasuk wilayah Madura, Jawa Timur, warga
Kepulauan Kangean dan Sapeken tinggal di daerah yang tidak
mudah dijangkau alat transportasi laut, apalagi darat dan
udara. Untuk mencapai kepulauan ini, dibutuhkan sedikitnya
waktu 12 jam perjalanan kapal laut, dari Pelabuhan Tanjung
Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal yang digunakan
adalah kapal perintis, milik Pemerintah Pusat, melalui
Selengkapnya









