ARTIKEL BARU

MENYOAL KRISIS KEPEMIMPINAN HIMAS;

Ikhtiar Mencari Pemimpin Alternatif

Oleh: Muarif

(Mantan Ketua Umum Pjs. Himas Pusat Periode 2009-2011)

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah. Kalimat tersebut berlaku untuk seluruh bangsa, tak terkecuali bagi organisasi yang kita cintai, HIMAS. HIMAS harus belajar dari sejarah, terutama sejarah para pemimpin-pemimpin terdahulu. Apalagi, HIMAS saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan dan kekurangan panutan.

Sejarah membuktikan bahwa, keadaan bangsa dan karakter pemimpin merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan. Dalam sejarah bangsa Indonesia misalnya, karakter pemimpin yang dipercaya oleh rakyat adalah karakter manusia yang memang sedang diperlukan bangsa dalam keadaan yang ada saat itu. Bangsa ini menjadi saksi, betapa bervariasinya karakteristik para pemimpin terdahulu dengan keadaan bangsa pada masa yang berbeda pula. Contohnya, Soekarno dengan nasionalisme-nya diangkat menjadi presiden pertama RI, tidak lain karena karakter yang ia miliki memang sedang diperlukan oleh keadaan bangsa saat itu. Belajar dari hal tersebut, Kita diharapkan dapat mencari karakter pemimpin yang diperlukan oleh kita saat ini.

Secara umum, Pemimpin secara langsung berperan sebagai lokomotif (penggerak) langkah masyarakat. Sehingga kemajuan dan kemunduran yang dialami dapat dipengaruhi karakter pemimpin. Pengaruh pemimpin akan memberi jalan bagi pemimpin untuk menjadi penentu kebijakan yang akan diterapkan. Inilah yang sering menjadi polemik tajam akibat timbulnya ketidakselarasan antara pemimpin dan yang dipimpin dalam penerapan kebijakan. Hal ini yang juga terus melekat pada sejarah pembangunan bangsa Indonesia, dan HIMAS pada khususnya hingga kini. Untuk itu, perlu penyaringan karakter pemimpin yang cerdas dalam arti dapat menjadi penentu kebijakan yang bijaksana. SELENGKAPNYA

Artikel Baru

UNTUKMU KADER HIMAS
(Membangungun Identitas Kader untuk Menyongsong Masa Depan)

Oleh : Umar Bayaksut Hs (Himas Bandung)

Se-iring dengan perputaran waktu begitu cepat, yang setiap saat meyilimuti kehidupan ummat manusia di dunia, dan berharap setiap lorong-lorong waktu yang dilewati, bisa menjadi saksi sejarah dalam nafas yang setiap saat kita hembuskan. Umur kita bertambah dari waktu ke waktu bersamaan dengan krisis dan problem masyarakat yang setiap saat selalu di pertontonkan secara gratis yang disajikan untuk masyarakat. Masyarakat seakan-akan mengemis makna dari arti sebuah kemerdekaan. Karena yang mereka tahu saat ini bahwa kebebasan yang mereka rasakan adalah kebebasan yang terpenjara…!!


Selengkapnya

artikel KLB

HIMAS DI PERSIMPANGAN JALAN

Sekali Lagi Tentang Kongres Luar Bi(n)asa HIMAS

Oleh : Rahmatul Ummah

“Benci adalah klimaks dari cintaku, benci artinya aku benar-benar mencintai, karena jika tak cinta untuk apa aku peduli, dan benci adalah kepedulianku.” (Sebuah pesan pendek yang nyasar di HPku)

Ada beberapa alasan kenapa saya menyebut HIMAS masih berada pada fase konsolidasi dalam tulisan Menakar Kemimpinan Kader HIMAS, salah satunya adalah karena seluruh perangkat aturan internal organisasi yang belum terjabar dengan baik. Silahkan telaah baik-baik, apa yang termasuk kategori pelanggaran oleh pengurus, apa sanksi jika PP tidak menjalankan program kerja dalam satu semester, bagaimana mekanisme pengambilan keputusan di tingkat PW dan PD, apa yang menjadi dasar PW melaksanakan pergantian pengurus dan Raker, dan apa nama institusi pengambilan keputusan yang menghasilkan ketua PW HIMAS, konstitusional atau inkonstitusional, dan masih berderet beberapa pertanyaan yang lain yang jawabannya tidak akan pernah ditemukan dalam peraturan-peraturan organisasi HIMAS.


Selengkapnya


artikel pilkada

MEMILIH KEPALA DAERAH/BUPATI HARUS DENGAN DEMOKRASI YANG BERADAB.

Oleh: Roesman Empoe Daeng Kasim

244 pemilihan umum kepala daerah/pemilukada di tahun 2010 dengan rincian 237 kabupaten/kota sudah tentu sebuah proses politik akan terjadi didalamnya dan akan menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Pertanyaannya: Apakah proses politik itu akan berjalan secara demokratis atau mungkin penuh dengan manipulasi dan politik uang?

Hal itu akan menjadi perhatian khusus karena terlalu banyak kasus yang pernah terjadi dalam pemilukada sebelumnya dan sedikit yang bisa menerapkan demokrasi yang beradab. Demokrasi beradab adalah sebuah persistiwa politik yang didalamnya ada penghormatan atas semua warga negara untuk menjadikan partisipan politik. Apakah partisipasinya sebagi kandidat (Calon) kepala daerah ataukah menjadi pemilih. Namun yang paling penting dalam keadaban demokrasi, warga negara harus mendapatkan pengakuan dan penghormatan untuk turut berpartisipasi dalam proses politik yang terselenggara dalam sebuah negara.

Selengkapnya

artikel baru

Duh… HIMAS
Oleh : EDI SUSANTO ABIDIN
(Alumni HIMAS JOGJA Tinggal di Sumenep)

Kalaulah boleh saya ikut nimbrung dan mencermati perkembangan HIMAS pasca kongres 3 akhir-akhir ini semenjak dilantik sampai sekarang saya pribadi belum begitu tahu apa saja rencana atau capaian program yang sudah di laksanakan? Rekomendasi saat di kongres yang sudah di susun rapi apa sudah di flow up dalam bentuk raker atau tidak,sampai sejauh ini saya pribadi belum tahu itu atau jangan-jangan saya kuper tentang progresivitas HIMAS yang ter-update.

Idealnya HIMAS yang di nahkodai oleh saudara Hamdi yang terpilih secara demokratis,publik HIMAS mengaharapkan ada semangat dan arah baru memainkan peran-peran sosial di masyarakat dan kita menunggu kebijakan apa yang bisa menginjeksi HIMAS agar stake holder bisa bersama-sama,bahu membahu memajukan dan meneruskan apa yang sebelum atau sudah dilaksanakan bahkan justru yang lebih baik lagi, itulah sebuah mimpi kita.saya pribadi mengaharapkan ada prestasi cemerlang untuk kepengurusan baru ini dimana mengingat sambutan Ketum HIMAS saat itu, setelah di lantik cukup memukau dan retoris seingat saya ada langkah optimalisasi baik peran ataupun sinergitas komunikasi di internal HIMAS

Selengkapnya

artikel paling baru

KENAPA HARUS KLB ?
(Sebuah ajakan diskusi buat kawan-kawan Himas)

Oleh : Muarif Rahmatullah
(Sekretaris Jenderal PP HIMAS)


Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh keluarga besar himas, karena keterlambatan tulisan saya mengenai penjelasan lebih lanjut tentang Tuntutan 100 hari pertama himas beberapa waktu yang lalu di FB saya, yang diantara tuntutannya adalah: 1) melaksanakan KLB (Kongres Luar Biasa). 2) mengganti Ketua Umum Himas terpilih periode 2009-2011. 3) merombak seluruh kepengurusan dan jajaran-jajarannya. Secara teknis, tulisan ini sudah saya persiapkan, namun dibenturkan dengan beberapa kesibukan dan kegiatan akademik dan organisasi. Di samping itu, sebelumnya saya beberapa kali mengirimkan pesan, meminta pandangan dari alumni mengenai KLB ini, namun sama sekali tidak ada respon. Sehingga pada akhirnya saya pun menunda dan mengurungkan niat untuk menampilkan tulisan ini.

Wacana ini sudah menyebar, saya pun merasa “berdosa” jika saya tidak memberikan pertanggungjawaban atas ini. Saudara Minhajul Abidin (mantan ketua umum Himas 2007-2009) selaku orang yang intens saya ajak diskusi masalah ini menyampaikan kepada saya bahwa respon dari para alumni beragam/berbeda-beda, ada pro dan ada juga yang kontra. Terlepas dari argumentasi pro-kontra itu, sekaligus saya mengklarifikasi karena ditengarai bahwa dibalik wacana KLB ada muatan sakit hati atas kekalahan saya di kongres himas-3 kemarin. Saya tegaskan sama sekali tidak benar.

Pertanyan yang menarik sebagaimana dalam tulisan Rahmatul Ummah: apakah hanya karena kebuntuan komunikasi lantas solusinya adalah KLB? Saya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan melalui pendekatan fungsi seorang ketua umum (saya tidak bermaksud mengajari siapapun bagaimana berorganisasi yang baik). Memasuki 10 tahun Himas bukanlah waktu yang relatif singkat, Himas dalam fase-fase ini menurut saya adalah memasuki fase perkembangan. Di samping melakukan koordinasi internal, juga seharusnya melakukan upaya revitalisasi eksternal. Ditambah lagi dengan kesalahan masa lalu yang mungkin sulit untuk dimaafkan. Oleh karena itu, saya berani mengatakan bahwa seorang ketua umum harus lebih progresif dan visioner dalam membawa Himas. Seorang pemimpin yang miskin ide, tidak kreatif, tidak progressif adalah pemimpin yang tidak layak untuk didukung. Kedua, memasuki 100 hari pertama, PP Himas belum melakukan Rapat kerja (RAKER). Rapat Kerja/RAKER adalah rapat yang dihadiri oleh semua pengurus pusat, tujuannya adalah merumuskan program kerja ke depan baik dalam jangka pendek atau pun dalam bentuk jangka panjang selama satu periode. Ini artinya bahwa program/agenda Himas Pusat “tidak jelas”. Ketiga, tidak adanya koordinasi yang baik antara PP dan PW, sehingga HIMAS PW terkesan berjalan sendiri-sendiri, bahkan ada yang vakum.

Hal-hal tersebut di atas disebabkan bertumpu pada peran dan fungsi seorang ketua umum, kebuntuan komunikasi, koordinasi yang kurang efektif serta kebijakan yang terkesan lambat. Saya tidak bermaksud menguak kelemahan seorang ketua umum dan kebobrokan intrnal Pengurus Pusat Himas. Tapi itulah realitas yang terjadi dan perlu kita sikapi secara bijaksana. Dengan apa? Tentunya dengan melalui evaluasi dan proyeksi ke depan.

Sesungguhnya persoalan mendasar kenapa harus KLB memang sangatlah sederhana, yang kemudian menurut istilah Rahmatul ummah karena terjadi kebuntuan komunikasi. Tapi saya pikir, bukankah hanya persoalan sepele akibatnya bisa menjadi fatal? Apalagi sebuah organisasi..

Secara konstitusional, KLB tidak melanggar AD/ART Himas. Oleh karena itu, KLB bukanlah tanpa alasan. Dalam pasal 9 ayat 1 Anggaran Rumah Tangga (ART) Himas disebutkan: “Dalam keadaan mendesak Pengurus HIMAS dapat mengadakan Kongres Luar Biasa”. Pertanyaannya, dalam keadaan mendesak yang bagaimana Himas dapat mengadakan KLB? Secara eksplisit memang tidak ada penjelasan apa yang dimaksud dengan keadaan mendesak itu.

Menurut saya, beberapa alasan yang saya kemukakan di atas sudah cukup memberi penjelasan mengenai “dalam keadaan mendesak” itu, tujuannya untuk menghindari semua kemungkinan yang terjadi di Himas.

Tuntutan KLB adalah usulan absurd. Maka wajar ada yang pro dan kontra. Keputusan Kongres sudah terlanjur memilih saudara Hamdi sebagai ketua umum. Saya pun tidak berani menganggu gugat keputusan itu. KLB ini harus diartikan justru karena saya ”sayang” dengan HIMAS. Tatkala saya melihat HIMAS telah kehilangan daya kreatifnya dan inovatifnya di tengah-tengah dinamika keumatan, kepulauan dan kebangsaan yang kompleks, maka wajar bila saya gelisah. Saya sendiri memaksudkan usulan KLB itu sebagai cambuk yang keras agar HIMAS bangkit kembali.

Bagaimanapun HIMAS tetap merupakan aset Kepulauan. Jelas, kita menghimbau agar HIMAS mampu hadir lebih ”segar” lagi. Syaratnya, internal harus diperbaiki dan sesekali melakukan gebrakan keluar. Momentum kongres harus dipakai untuk memperbaiki sistem.

Artikel Baru

MENAKAR KEPEMIMPINAN KADER HIMAS

(Meretas Kebuntuan dan Kejumudan Berpikir tentang KLB)

Oleh : Rahmatul Ummah

(Alumni HIMAS, Sementara menetap di Lampung)

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan tentang wacana Kongres Luar Biasa (KLB) HIMAS, awalnya saya tidak begitu tertarik untuk membahas wacana tersebut, karena saya berpikir itu adalah ide-ide nakal yang niscaya ada hampir di setiap organisasi, dan hal itu biasa dan bisa berdampak positif pada pendewasaan dan pematangan organisasi.

Wacana KLB dalam organisasi HIMAS tentu saja hal yang baru, dan menjadi hal luar biasa jika terus menjadi isu utama dan terus menerus menguras energi dan pikiran, jujur saya sendiri merasa terganggu.

HIMAS belum lagi berusia lebih dari satu dasawarsa, Kongres III terakhir yang digelar tanggal 3 Oktober 2009, pun belum genap enam bulan, tiba-tiba muncul desakan untuk melaksanakan KLB. Kecewa dalam berorganisasi adalah hal yang lumrah, luapan kekecewaan itu bisa diekspresikan dalam bentuk cacian, mosi tidak percaya, atau cara paling ekstrim mengorganisir anasir-anasir organisasi untuk menjatuhkan kekuasaan Ketua Umum atau sebutan sejenis atau kudeta merangkak menurut istilah saudara Minhadzul Abidin.

Sebelum membahas kekecawaan yang diharapkan bermuara pada KLB itu lebih jauh, saya bermaksud menjelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan mendasar HIMAS dengan organisasi-organisasi yang lain yang selama ini dikenal. Hal ini penting, agar semua kader HIMAS bisa meletakkan pandangannya secara obyektif dan rasional dalam melihat HIMAS, khususnya Pimpinan Pusat HIMAS.

Bahwa, Pertama, HIMAS adalah organisasi yang keanggotaannya adalah mahasiswa yang berasal dari kepulauan Sapeken, yang kuliah di berbagai Perguruan Tinggi (PT) yang tersebar di Indonesia, mulai dari Sulawesi sampai Sumatera. Kedua, anggota atau mahasiswa yang berhimpun di HIMAS bukan lahir dari sebuah sistem kaderisasi yang terencana berdasarkan materi, kurikulum, tujuan dan sistem sebagaimana kaderisasi di organisasi yang lain, tapi kaderisasi HIMAS adalah kaderisasi yang cair, berhimpun dan bersatu karena keinginan dan kepentingan bersama untuk memajukan daerah. Ketiga, pengurus PP HIMAS terdiri dari mantan pengurus Pimpinan Wilayah yang masih melanjutkan kuliah, dan harus kembali ke daerah PT-nya masing-masing. Keempat, Kedudukan sekretariat atau kantor PP HIMAS berada di Sapeken. Kantor idealnya menjadi pusat interaksi, komunikasi dan bertemunya gagasan-gagasan pengurus untuk memajukan organisasi, padahal tidak setiap saat liburan dan setiap liburan tidak semua pengurus memiliki kesempatan untuk pulang ke Sapeken.

Beberapa hal di atas harus menjadi pemakluman jika ternyata ada kendala tidak efektifnya interaksi dan komunikasi gagasan-gagasan cerdas HIMAS yang berujung pada kinerja HIMAS yang tidak ideal, karena HIMAS memang tidak diidealkan sama seperti HMI, PMII, IMM, KAMMI atau organisasi-organisasi lain. Lantas pertanyaannya, jika begitu apa urgensi PP HIMAS dalam organisasi HIMAS? Fungsi utama PP HIMAS adalah koordinator, fasilitator, dan katalisator seluruh PW dan PD HIMAS, dan fungsi inipun belum terumuskan dengan baik, sehingga perlu menjadi konsen dan interest kita semua.

Oleh karena itu, saat terjadi wacana KLB saya sangat tidak tertarik menanggapinya. Bahkan beberapa pesan yang masuk tidak pernah saya jawab, dan tulisan ini kembali ingin menegaskan jawaban saya terhadap Saudara Minhadzul Abidin (sesama alumni), “pahami problem dasarnya apa? Mengurus organisasi tidak hanya dengan modal kecerdasan intelektual tapi juga kematangan emosi...”

Pernyataan itu bukan cetusan yang sekonyong-konyong, tapi lahir dari beberapa pesan yang sengaja dikirim ke saya tentang KLB, tapi hampir saya tidak temukan alasan mendasar yang logis yang melatarbelakangi wacana tentang KLB. Jika harus bicara jujur, saya adalah alumni yang sebelumnya tidak berada dalam posisi mendukung saudara Hamdi pada Kongres III HIMAS, saya lebih menginginkan saudara Mu’arif karena beberapa alasan, termasuk karena saya sering berinteraksi dengan beberapa tulisannya di blog. Tetapi, karena akhirnya Hamdi terpilih secara demokratis di forum Kongres III, saya harus menghormati dan berkewajiban ikut menjaga keputusan itu.

Maka sekali lagi, mari kita coba dekati permasalahan ini dari dasar masalahnya, tidak tepat hanya karena kebuntuan komunikasi, tiba-tiba solusinya adalah KLB sehingga seolah-olah suara dan pendapat pada Kongres III yang menghasilkan keputusan saudara Hamdi sebagai Ketua Umum, menjadi tidak bermakna sama sekali. Selanjutnya, apakah ada jaminan jika pelaksanaan KLB ini terlaksana mampu menghadirkan peserta sejumlah Kongres III yang menghantarkan saudara Hamdi jadi Ketua Umum? Sehingga legitimasinya setara, pernahkah dihitung secara matang berapa cost (biaya) yang akan dihabiskan?

Maka jika saya memang masih dianggap layak untuk urun rembug, seharusnya yang penting untuk kita pikirkan adalah bagaimana menggagas komunikasi yang efektif antar pengurus, saling melengkapi, membuat kertas kerja tentang penataan organisasi, posisi, fungsi dan wewenang PP HIMAS, grand design sistem kaderisasi, blue print kepulauan, posisi paska menjadi aktifis HIMAS, dan hal-hal lain yang lebih memberi manfaat buat organisasi dan masyarakat kepulauan.

Bahwa harus diakui, periodisasi HIMAS masih pada tahap konsilidasi internal, untuk itu tidak ada untungnya sama sekali menghabiskan energi untuk mencari kesalahan dan kelemahan orang lain, semua kita memiliki kelemahan dan keterbatasan, untuk itu kita berorganisasi untuk bisa bekerjasama dan saling melengkapi. Jika saudara Hamdi mengalami kesulitan, maka ada beberapa Ketua Bidang yang bisa diajak komunikasi. Toh, jika semua bidang menjalankan fungsi dan kewenangannya dengan baik, maka organisasi juga bisa berjalan baik.

Sekretaris Jendral, sebagai “bos” yang bertanggungjawab terhadap seluruh kesekretariatan akan lebih bermanfaat jika energinya yang luar biasa itu disalurkan untuk mengurusi hal-hal yang terkait dengan kesekretariatan, seperti membuat format surat-menyurat yang baku, mendata jumlah kader dan seluruh potensinya, menyusun rencana kerja saat liburan, yang disosialisasikan lewat mailing list untuk seluruh anggota HIMAS, dll.

Dan kepada saudara Hamdi, hingga saat ini saya selalu mengedepankan prasangka baik, bahwa di samping benar-benar sibuk karena urusan kuliah, secara psikologis bisa dipahami bahwa ‘mungkin’ ada perasaan bersalah sehingga ‘enggan’ untuk berkomunikasi, atau bisa saja karena wacana KLB terlanjur merebak, hingga mendorong saudara Hamdi untuk tidak muncul, tentu saja sikap seperti ini juga bukan sikap dewasa, menarik diri dari pergaulan organisasi dan tidak berusaha mengurai masalah secara ksatria, tentu saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Terakhir, mohon maaf jika kemudian saya harus memberikan penilaian terhadap ide-ide yang muncul baik wacana tentang KLB maupun sikap saudara Hamdi yang tak muncul mengurai masalah-masalah ini adalah perilaku kekanak-kanakan yang sudah harus mulai ditinggalkan, mari kita membiasakan berfikir lebih arif dan dewasa. Sehingga, tindakan yang dihasilkan selalu memberi maslahat lebih besar dibanding mudharatnya.

Tak ada yang perlu dikorbankan, sebagaimana yang diinginkan secara tekstual dalam tulisan Minhadzul Abidin – walaupun saya memaknainya lebih pada penyemangat sebagaimana juga saya memahami wacana KLB ini – kita semua berhimpun di HIMAS bukan dalam kerangka sok hebat, sok gagah dan sok pintar, sehingga menjadi Ketua Umum atau Pimpinan tertinggi di HIMAS sebagai tujuan utama, tetapi lebih pada cita-cita luhur, ingin membangun kepulauan kita, menghadirkan keadilan dan kesejahteraan di Kepulauan Sapeken, maka marilah berfikir melampui realitas. Wallahu a’lam

Lampung, Medio Januari 2010

Pukul 01.05 – 02.15 pm

Artikel Untuk HIMAS yang lagi tidak keren










KONGRES LUAR BIASA;
Diantara Kudeta merangkak atau Penyelamatan Organisasi?, sebuah tanya

Oleh : Minhadzul Abidin (Mantan Ketum PP HIMAS)

Bahwa segala yang hidup adalah hasil daripada perrtentangan, ada yang menarik dan ada yang menolak (Heraclitus ; Dikutip dari Pidato Inaugurasi Mohammad Hatta waktu diangkat menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia)

Ada yang menarik ketika saya mencantumkan Kutipan Pidato Inaugurasi Mohammad Hatta waktu diangkat menjadi ketua Perhimpunan Indonesia yang pada waktu berdiri bernama Indische Vereeniging kemudian diubah kembali menjadi Indonesische Vereeniging dan pada tahun 1925 berganti nama menjadiPerhimpunan Indonesia, menurut Hatta segala sesuatu dimulai dengan pertentangan dan Realisasi dari pertentangan menurut pendapat hearclitus tadi adalah Perjuangan, ya kita mungkin berbeda dalam konsep dan bahkan mengalami pertentangan tetapi tujuan kita satu Untuk Perjuangan Indoensia Merdeka.

saya rasa kata-kata diatas sangat cocok untuk memahami kekisruhan internal Pengurus Pusat HIMAS periode 2009-2011, yang melibatkan dua pusat sentral HIMAS yaitu Ketua Umum (Ketum) PP HIMAS dengan Sekretaris Jendral (Sekjend) PP HIMAS dan kepengurusan mereka berdua yang baru menginjakkan kaki dalam seratus hari pertamanya, kekisruhan itu dimulai dengan status update Saudara Muarif Rahmatullah disitus jejaring sosial Facebook (FB) yang berisi TIGA TUNTUTAN 100 HARI PERTAMA HIMAS : 1) Kongres luar Biasa. 2) ganti ketua umum himas. 3) rombak kepengurusan dan jajaran-jajarannya. tanggal 27 Desember 2009 jam 0:41. memang saya sedikit terkejut dan ahistoris dengan status update tersebut, apakah itu cuma sekedar iseng atau ikut-ikutan Aktris cantik Luna Maya yang menulis status yang kontroversial di Twitter, tetapi besoknya saya teruskan (forward) ke dinding (Wall) FB, dua senior yang rajin nge-FB (Facebookers) dan masih peduli dengan HIMAS Saudara Rahmatul Ummah dan Saudara Soedarman.

Kemudian Rahmatul ummah membalas kedinding saya juga dengan menulis Pahami problem dasarnya apa, mengurus organisasi tidak hanya dengan modal kecerdasan intelektual tapi juga kematangan emosi... Problemnya hanya kebuntuan komunikasi.. Kembali buat komunikasi yang efektif...28 Desember 2009 jam 20:49 · Berbeda dengan Soedarman yang mengomentari kiriman dinding saya dengan menulis Saya setuju diadakan kongres luar biasa dengan agenda pergantian ketua himas, buatlah kepngurusan seramping mungkin, fungsi pusat sebagai jembatan bagi pw yang ada di wilayah. ujung tombak kita adalah pw himas. 29 Desember 2009 jam 11:28. Dan selanjutnya saya juga buat status di FB saya dengan menulis Perubahan atau Kudeta Merangkak...semuanya harus di komunikasikan..."untuk HIMAS yang lagi tidak keren"
28 Desember 2009 jam 21:02, dan dapat komentar dari berbagai pihak. setelah itu saya terkejut dengan SMS yang mengaku HIMAS Bandung mengenai ketidak setujuaanya kira-kira bunyinya seperti ini " anda jangan gegabah semua harus dikomunikasikan dan ini bukan hanya kesalahan Ketum PP , dan kami HIMAS bandung tidak setuju dengan Kongres Luar Biasa" kemudian saya balas bahwa itu bukan saya yang buat melainkan saudara Sekjend PP HIMAS kemudian dia membalas kira-kira bunyinya seperti ini "Ada muatan politis dari Pak Sekjend yang kalah di Pemilihan Kongres 3 HIMAS, dan sebanarnya bukan hanya kesalahan PPtetapi harus diperkuatnya PW" setelah itu mungkin wacana itu tidak kedengeran lagi karena mungkin teman-teman lagi berkabung atas kematian guru bangsa GUS DUR dan sibuk dengan Perayan tahun baru 2010, tetapi sekali lagi saya terkejut ketika melihat status Update HIMAS JOGJA JATENG yang menulis : Menanggapi soal isu tentang masa kerja 100 hari Ketua HIMAS PUSAT yang dirasakan kurang efektif dan efesien, maka HIMAS WILAYAH JOGJAKARTA-JAWA TENGAH mengeluarkan TIGA TUNTUTAN: pertama, KONGRES LUAR BIASA. Kedua,TURUN KANKETUA HIMAS. ketiga, ROMBAK KEPENGURUSAN DAN JAJARANNYA 3 Januari jam 23:59, yang juga dapat komentar dari berbagai pihak ditengah pro dan kontranya.


Tidak bisa kita pungkiri PP HIMAS sekarang mengalami kekisruhan Internal dan harus segera dicari jalan solusi terbaiknya oleh seluruh orang yang mengaku peduli dengan HIMAS, masalah ini sudah menjadi konsumsi publik dan akan menjadi preseden buruk ditingkat massa bawah (garss root), dan peneyelesaianya harus melalui mekanisme organisasi yang baik dan benar (AD/ART), mungkin saya sedikit ahistoris dengan masalah ini, tetapi pertanyannya apakah sebegitu parah masalahnya karena wacana kongres luar biasa adalah forum terhormat sebagaimana dijelaskan pada pasal 8 AD/ART (versi kongres 2, yang saya rasa tidak mengalami perubahan untuk pasal ini cuma urutan pasalnya saja berubah dan kata-kata presidium pusat karena diganti ketua Umum Pengurus Pusat HIMAS), Pasal 8 Dalam keadaan mendesak pengurus HIMAS dapat mengadakan kongres luar biasa Kongres luar biasa dihadiri sebagaimana tercantum dalam Bab III pasal 7 ayat 2Kongres luar biasa dilaksanakan untuk hal-hal sebagai berikut:Perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tanggaPergantian presidium HIMAS),

Kongres Luar Biasa sebagaimana dijelaskan dalam pasal tersebut tentang keadaan mendesak, keadaan mendesak dalam wilayah formal organisasi sangat sensitif, karena bagian agenda dari Kongres luar biasa adalah pemakzulan yaitu mengganti ketua pengurus pusat yang telah dipilih secara demokratis dan terbuka pada waktu kongres 3 Oktober kemarin, dan secara general adalah pemakzulan seluruh kepengurusan PP HIMAS 2009-2011 yang baru mencapai 100 hari pertamanya , dan ini harus dipertimbangkan secara mendalam tidak terpengaruh dengan kondisi emosional atau karena atas dasar pertimbangan like or dislike, karena kondisi semacam ini semacama mempertemukan kedua kubu yang bertentangan (vis a vis) siapa yang yang benar dan salah dan yang benar adalah yang benar menurut konstitusi HIMAS.

Kalau kita sedikit review ulang dan refleksi dengan kondisi PP HIMAS 2007-2009, sebenarnya secara internal sangat goyah, masalah komunikasi dan hubungan yang tidak terlalu signifikan, menyebabkan hubungan antara ketua presidium dalam hal ini saya sendiri dengan sekretaris jendral pada saat itu saudara Tahta Amrullah, banyak hal atau maneuver yang juga membahayakan dilakukan oleh Saudara Tahta Amrullah, tetapi tidak tidak berbuntut panjang karena Saya yakin pada saat itu saudara Tahta Amrullah berjiwa besar dan bisa mengerti kondisi yang ada dan saya juga sebagai ketua Presidium Pusat bisa membuktikan Arogansi (dalam pengertian Saudara Tahta Amrullah) dengan program-program kerja konkrit yang bisa membesarkan HIMAS.

Ketika berbicara dengan Saudara Sekjend 2009-2011 Muarif Rahmatullah creator dan inisiator kongres Luar Biasa ini dan beliau berjanji akan menulis artikel di blog mengenai masalah yang saya tanyakan, yaitu “Apa sih dosa besar yang dilakukan Ketum sehingga Kongres Luar Biasa Harus terlaksana? “ kemudian Dia menjawab “ banyak, salah satunya tidak optimalnya dan tidak ada komunikasi yang dilakukan oleh Ketum dan ketum setelah dilantik seperti ditelan bumi” begitu kira-kira jawaban dari Saudara Muarif, selaku inisiator dan orang yang pertama harus bertanggung jawab terhadap Kongres Luar Biasa ini. Inilah yang menjadi masalah disaat wacana atau upaya menggoyang Ketum Pusat HIMAS tidak ada tanggapan oleh Ketum PP HIMAS (Saudara Hamdy), minimal upaya untuk menjelaskan ketidak beradaannya selama beberapa bulan setelah kembali ke tempat akademiknya di Palopo, Sulawesi Selatan. Pertanyaanya apakah Saudara Ketum orangnya easy going atau enjoy aja atau meminjam istilah Alm Gus Dur “gitu aja kok repot!”, sampai kebingungan saya itu di jelaskan oleh Saudari Rina Hafidz (Bendahara Umum PP HIMAS 2009-2011), “bahwa Ketum lagi sibuk skripsi, ntar kalau skripsinya sudah selesai dan wisuda dia akan kembali mengurusi HIMAS kembali” begitu kira-kira pernyataan Saudari Rina, Bendum yang merangkap Juru Bicara Ketum, dan itu saya sampaikan sendiri Ke Saudara Muarif dan Dia megatakan “ itu adalah ketidak siapan Saudara Ketum menjadi Ketum”.


Mungkin posisi tulisan saya disini bukan untuk mengkisruhkan (baca :memprovokasi) suasana internal HIMAS dan terlalu ikut campur urusan rumah tangga PP HIMAS sendiri, tulisan ini mungkin bagian untuk memperjelas masalah kekisruhan internal PP HIMAS dan tidak bermaksud untuk mendukung siapa-siapa dalam hal ini, isu kongres Luar biasa yang terhormat dan sangat sensitif ini menjadi tidak terhormat lagi, ketika Para stack holder HIMAS tidak bisa menanggapinya dengan serius masalah ini, bahkan mengacuhkannya dan dianggap Cuma sandiwara belaka atau seperti keisengan Luna maya di twitter maka tunggulah kehancurannya HIMAS sebagai organisasi yang menjunjung tinggi Konstitusi, Sekjend dalam hal ini Telah melakukan perbuatan inkonstitusional dan ibaratnya seperti Kudeta Merangkak kalau seandainya Kongres Luar Biasa Tidak jadi dilaksanakan, dan Perbuatan Sekjend bisa menjadi benar atau konstitusional jika Kongres Luar biasa dengan common platform (kalimatun sawa’) semua Pengurus Pusat dan Wilayah se-Indonesia dan menjelaskan kesalahan atau dosa-dosa besar Ketum, kalau seandainya tidak bisa dan tidak ada follow up selanjutnya Saudara Muarif Rahmatullah (Sekjend) harus dipecat dan Pengurus Wilayah HIMAS yang mendukung dan memberikan pernyataan di Facebook secara inkonstitusioanal harus di Makzulkan. Kita tunggu saja semoga upaya untuk mengatasi kekisruhan ini dapat dilakukan dari hati ke hati dengan hati hati, tentunya sesuai dengan mekanisme atau aturan konstitus yang sah dari HIMAS. Demi kejayaan HIMAS dan Demi Masyarakat Kepulauan.


ARTIKEL BARU

Spiritualisme, Spiritisme dan Sinkritisme

Oleh: Abd Aziz (HIMAS JOGJA-JATENG)

Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya.
Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi.
Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme “yang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwa”, dan dinamisme “yang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alam”. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif.
‘Berjiwa’ disini lebih dimaksudkan sebagai punya kekuatan “baik kasat indria maupun tidak” seperti kekuatan untuk penyembuhan, kekebalan, tenaga-dalam dan hal-hal yang bersifat kanuragan sampai yang bernuansa klenik lainnya. Betapapun tampak hebatnya kekuatan yang dimaksud, ia selalu mengandung pengertian dan mengarah pada materi atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik dan ragawi.
Bagi penganutnya, segala sesuatunya hanya bisa disebut nyata ada bila bisa dimaterialisasikan dan kasat-indria. Bila tidak, ia tak nyata. Bagi mereka hanya realitas material-lah yang ada.
Sayangnya, kedua istilah ‘yang berbeda secara diametrikal’ ini seringkali dikacaukan orang. Teramat sering kita saksikan kalau hal-hal yang sebetulnya merupakan bagian dari spiritisme disebut sebagai spiritualisme. Sementara acara televisi dan pembicara serta penlis di media-massa lain punya andil besar terhadap kekacauan atau salah-kaprah ini. Sedihnya lagi, kesalah-kaprahan ini malah sudah menjangkiti sementara kalangan terdidik.
Ditinjau dari tiga sifat dasar makhluk hidup triguna), spiritisme cenderung tergolong pada sifat rajas (aktif, ambisius, dinamis, agresif) dan tamas (pasif, lembam, inersia, gelap); sedangkan spiritualisme cenderung sattvam (proaktif, kalem, seimbang, jernih). Kalau spiritisme sangat eksternalistis, maka spiritualisme lebih bersifat internalistis. Pencarian spiritisme mengarah ke luar diri, sedangkan pencarian spiritualisme mengarah ke dalam diri.

pengaruh spiritulisme terhadap kesehatan jiwa
Menurut kaum spiritualisme, kebahagiaan dan kedamaian bisa dirasakan oleh setiap orang, asal mereka memadang kehidupan dengan cara yang benar. Pada dasarnya sumber dari segala penderitaan dan tekanan yang dihadapai adalah bersumber dari keinginan atau angan-angan.
Nah, kira-kira apa maksudnya dengan angan-angan?
Angan-angan, dalam pemahaman saya adalah mengharapkan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan dalam kehidupan kita. Dan saya yakin kebanyakan dari kita memiliki angan-angan.
Namun menurut pandangan kaum spiritulisme, semakin tinggi angan-angan maka seseorang semakin tidak merasakan tentram dan kedamaian hati. Ia kemudian dikuasai oleh angan-angannya itu sendiri. Seolah hidupnya bakal hancur dan tidak bahagia kalau apa yang menjadi angan-angannya tidak terpacai. Sehingga semakin tinggi angan-angan seseorang maka semakin besar pula kecemasannya dan kekhawatirannya jika angan-angannya tidak tercapai.
Orang yang berambisis mengejar karir akan menjadi cemas ketika menghadapi tantangan mencapai tujuannya tersebut. Seorang muda yang ingin mengejar jabatan akan menjadi cemas ketika terjadi pergantian kepemimpinan di kantornya dimana muncul khawatir ia tidak lagi diperhitungkan.
Dan ketika gagal meraih tujuannya banyak orang yang kemudian menganggap bahwa hidup mereka telah hancur. Seperti halnya yang terpadi pasca pemilu 2009 dimana banyak calon legislatif yang tidak terpilih menjadi anggota legislatif menjadi frustrasi dan bahkan menjadi gila. Karena seolah hidupnya tidak lagi bermakna jika ia tidak mendapatkan tempat di Dewan Perwakitan Rakyat.
Menurut kaum spiritualisme, angan-angan berasal dari nafsu. Nafsu pada dasanya muncul dari dorongan intenal tubuh manusia untuk memenuhi kebutuhnannya. Misalnya angan-angan untuk mendapatkan makanan yang enak berasal dari nafsu untuk makan. Namun adakalnya nafsu ini bisa menghasilkan angan-angan yang seolah sangat penting bagi kehidupan manusia pada hal tidak. Seperti nafsu akan kekuasaan sehingga menciptakan angan-angan untuk mendapatkan jabatan.
Namun sebagaimana nafsu akan makanan yang tidak pernah mati selama manusia hidup. Maka nafsu lainnyapun tidak akan pernah mati dan terus menciptakan angan-angan untuk dikejar oleh manusia. Jadi ketika seseorang sudah mendapatkan jabatan sebagai manager maka akan muncul lagi angan-angan untuk mendapatkan posisi sebagai Dirut.
Sepasang suami istri yang sudah mendapatkan angan-angannya untuk menikah kembali merasakan kekhawatiran karena setelah menikah selama 1 tahun belum juga memiliki keturunan. Seorang sarjana yang sudah mendapatkan pekerjaan mulai cemas karena selama 5 tahun bekerja ia belum memiliki rumah.
Angan-angan tidak pernah mati dan bakal mendatangkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita. Oleh sebab menurut kaum spiritualisme, untuk mematikan angan-angan harus diawali dengan pengendalian hawa nafsu, ambisi dan keinginan yang berlebihan terhadap masa depan. Serta menikmati apa yang terjadi pada hari. Membuka diri terhadap keunikan yang bisa diraih pada saat ini dan bukan besok. Dan sesunggunya sumber kebahagian tidak berasal dari sesuatu di luar kita melainkan dari dalam diri kita. Jika kita menikmati makanan, sebenarnya kesenangan yang kita peroleh bukan berasal dari makanan yang kita peroleh, karena orang yang sedang sakit gigi atau terkena sakit pencernaan sulit merasakan kenikmatannya walaupun makanan yang dimakan sama.
Bagi kaum spiritualisme kehidupan mereka tidak dituntun oleh angan-angan melainkan hati nurani yang akan memberikan pengajaran tentang apa yang harus mereka lakukan untuk hari ini. Dan langkah yang mereka pilih untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersentuhan langsung dengan hati nurani adalah melalu meditasi. Dia manusia mengosongkan pikiran, merasakan kedamaian lepas dari angan-angan dan belajar untuk mendengar hati nurani.
Dan apa yang bisa kita pelajari dari pandangan kaum spiritulisme? Tentu pertama kita diingatkan untuk jangan terlalu larut dengan berbagai target-target atau ambisi untuk meraih sesuatu di masa depan dengan mengorbankan masa sekaran. Ingat bahwa semakin tinggi ambisis kita mengejar sesuatu maka akan semakin sering kita merasa cemas dan tidak tidak damai.
Kemudia berhat-hati dengan kemungkinan tujuan kita tersebut menyederhanakan kehidupan kita. Seolah-olah ketika apa yang menjadi harapan kita tidak tercapai maka kehidupan kita menjadi gagal atau kita tidak mungkin merasa bahagia.
Kendalikan nafsu anda, biarkan diri Anda menikmati hari dengan rasa damai. Jika dimungkinkan siapkan waktu dalam kehidupan Anda untuk sejenak hening atau bermeditasi. Dimana Anda melepaskan diri Anda dari berbagai macam tujuan atau target-target yang membebani Anda.
Dan penting diingat bahwa kebahagiaan yang bisa kita alami bukan berasal dari apa yang kita raih, tapi sesungguhnya berasal dari diri kita. Akan sangat mudah seseorang untuk merasa jenuh dengan keberhasilan yang ia peroleh dan tadinya begitu ia idamkan.
Kedamaian adalah persoalan hati, demikian menurut seorang spiritualisme. Hal ini diraih tidak dengan sekedar mengejar tujuan atau angan-angan. Namun dengan membiasakan diri untuk mendengarkan hati nurani, yang biasanya mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar, melimpah dengan empati dan keinginginan untuk berbuat kebaikan. Dan jika itu dilakukan, kebahgiaan juga bisa dirasakan. Hebatnya hal ini bisa dilakukan hari ini tanpa menunggu besok.
Itulah sebabnya maka seorang spiritulis bisa merasakan ketentraman meskipun berada di tengah kondisi kehidupan kota yang bising. Dan semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan kita. Jadi tidak ada salahnya belajar dari kaum spiritualisme untuk membuat jiwa Anda sehat dan tentram.

ARTIKEL BARU

Salam Perubahan.

Oleh: Muhammad Roziky (HIMAS JOGJA-JATENG)


Apa yang terfikir di kepala kita mendengar pengakuan orang yang baru migrasi profesi dari penjual ke pengemis. Tentu kita miris. Namun, itulah kenyataannya. Harga diri bukan lagi hal yang penting karena hidup di negeri ini terasa semakin susah saja buat mereka yang miskin. Mental pekerja, mental beriwirausaha, menjadi kurang menarik untuk dipertahankan. Karena, mental peminta-minta ternyata lebih menjanjikan.
Sepanjang saya naik kereta ekonomi saya perhatikan memang pengamen dan pengemis lebih laris dibanding pedagang. Semula saya fikir karena pedagang di kereta jumlahnya terlalu banyak dan mereka menjual barang yang relatif sama. Persaingan menjadi sangat tinggi sehingga wajar kalau ada pedagang yang mengeluh dagangannya tidak laku.
Tapi, kalau diperhatikan, jumlah pengamen dan pengemis juga tidak bisa dibilang sedikit. Mereka juga berkompetisi tapi mengapa ada pedagang yang memilih migrasi profesi menjadi pengemis.
Ini mungkin salah satu anomali dari masyarakat kita. Semangat membantu masyarakat kita pada sesama sesungguhnya sangat tinggi. Terlebih di penyambutan tahun baru ini yg jg sebagai semangat baru.Namun, pilihan-pilihan dalam memberikan bantuan ternyata tidak jarang menimbulkan masalah baru. Ada orang yang kecanduan jadi pengemis meski dia sehat fisik dan tidak ada sakit sama sekali. Karena, yakin bakal ada orang yang kasihan dan akan memberi mereka uang. Inilah masalah baru yang timbul saat ini.
Kebanyakan masyarakat kita lebih memilih membantu mereka yang tidak produktif dibanding mereka yang produktif. Saya pernah menyaksikan seorang teman yang berniat berwirausaha dan kemudian dia mencari dana pembiayaan dengan skema pinjaman.
Tapi, orang-orang yang didatangi lebih memilih tidak meminjami karena alasan ketidakpercayaan uang akan kembali. Namun, ketika orang yang sama didatangi pemuda-pemuda lain yang mengajukan sumbangan entah untuk kegiatan atau untuk hal lain yang bersifat pribadi dia langsung merespon dengan baik sekali.
Kondisi ini sama dengan yang dialami penjual di kereta yang alih profesi tadi. Akhirnya kita menyaksikan banyak pemuda dan mahasiswa yang lebih memilih menjadi peminta-minta dari pada bekerja atau berwirausaha. Dengan bermodal proposal mereka dengan mudah mendapatkan sumbangan sana-sini. Bahkan, saya menemukan mantan-mantan aktivis mahasiswa yang menjadi kaya hanya dengan meminta-minta.
Jika kita lihat salah pilih obyek dalam berbuat baik ini seperti telah menjadi budaya masyarakat dan pemerintah kita. Baru-baru saja kita dikejutkan oleh isu Bank Century.
Bank yang bangkrut karena uangnya dibawa lari oleh pemiliknya ke luar negeri ini dengan mudah mendapat bantuan pemerintah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni Rp 6,7 triliun. Sementara disisi lain, jutaan pengusaha kecil yang telah banyak membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja, membantu masyarakat mendapatkan kehidupannya, sangat kesulitan mendapatkan bantuan permodalan.
Ketidakmampuan pengusaha-pengusaha kecil membuat proposal yang meyakinkan, ketidakmampuan mereka memanipulasi angka-angka agar terlihat layak, ketidakmampuan mereka bernegosiasi dengan para pengambil keputusan dalam hal pembiayaan menyebabkan mereka sulit mendapatkan bantuan pendanaan.
Sebaliknya, pengusaha-pengusaha besar yang sudah jelas tidak kredibel yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan mereka mengembalikan hutang-hutangnya. Namun, karena kemampuan mereka dalam lobi dan membangun opini, dengan mudah mereka mendapatkan bantuan keuangan.
Yang ingin berbuat baik dan produktif tidak dibantu, yang berbuat jahat dan menyengsarakan malah dengan mudah mendapat bantuan. Inilah anomali yang perlu kita luruskan.
Tentu saja membantu pengemis, menolong orang susah, memberikan infaq dan shodaqoh adalah hal baik yang harus terus dilanjutkan. Namun, membantu pemberdayaan masyarakat yang ingin memberdayakan dirinya lebih dari sekedar menjadi peminta-minta tentu harus menjadi prioritas utama.
Sebelum mengemis benar-benar menjadi candu masyarakat kita marilah kita juga membantu mereka-mereka yang memilih memberdayakan diri mereka tanpa harus meminta-minta. Kita dapat membantu mereka tidak selalu hanya dengan uang. Bisa juga dengan memberi informasi tentang peluang-peluang, membantu mereka meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan, membantu mereka dengan cara apa saja yang kita bisa.
Semoga masyarakat kita bisa menjadi masyarakat produktif. Masyarakat yang merasa mulia dengan bekerja. Masyarakat yang selalu berkeinginan menjadi “tangan yang
di atas”. Semoga.


ARTIKEL BARU

Spiritualisme, Spiritisme dan Sinkritisme


Oleh: Abd Aziz (HIMAS JOGJA JATENG)


Spiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktek-praktek yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang berangkat (saat meninggal) tetap bisa mengadakan hubungan dengan jasad. Hubungan ini umumnya dilaksanakan melalui seorang medium yang masih hidup. Ada keterlibatan emosional yang kuat, baik pada penolakan maupun penerimaan terhadap spiritualisme ini yang membuat sulitnya suatu uraian imparsial dipakai untuk membuktikannya.
Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi.
Berbeda dengan spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme “yang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwa”, dan dinamisme “yang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alam”. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif.
‘Berjiwa’ disini lebih dimaksudkan sebagai punya kekuatan “baik kasat indria maupun tidak” seperti kekuatan untuk penyembuhan, kekebalan, tenaga-dalam dan hal-hal yang bersifat kanuragan sampai yang bernuansa klenik lainnya. Betapapun tampak hebatnya kekuatan yang dimaksud, ia selalu mengandung pengertian dan mengarah pada materi atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik dan ragawi.
Bagi penganutnya, segala sesuatunya hanya bisa disebut nyata ada bila bisa dimaterialisasikan dan kasat-indria. Bila tidak, ia tak nyata. Bagi mereka hanya realitas material-lah yang ada.
Sayangnya, kedua istilah ‘yang berbeda secara diametrikal’ ini seringkali dikacaukan orang. Teramat sering kita saksikan kalau hal-hal yang sebetulnya merupakan bagian dari spiritisme disebut sebagai spiritualisme. Sementara acara televisi dan pembicara serta penlis di media-massa lain punya andil besar terhadap kekacauan atau salah-kaprah ini. Sedihnya lagi, kesalah-kaprahan ini malah sudah menjangkiti sementara kalangan terdidik.
Ditinjau dari tiga sifat dasar makhluk hidup triguna), spiritisme cenderung tergolong pada sifat rajas (aktif, ambisius, dinamis, agresif) dan tamas (pasif, lembam, inersia, gelap); sedangkan spiritualisme cenderung sattvam (proaktif, kalem, seimbang, jernih). Kalau spiritisme sangat eksternalistis, maka spiritualisme lebih bersifat internalistis. Pencarian spiritisme mengarah ke luar diri, sedangkan pencarian spiritualisme mengarah ke dalam diri.

pengaruh spiritulisme terhadap kesehatan jiwa
Menurut kaum spiritualisme, kebahagiaan dan kedamaian bisa dirasakan oleh setiap orang, asal mereka memadang kehidupan dengan cara yang benar. Pada dasarnya sumber dari segala penderitaan dan tekanan yang dihadapai adalah bersumber dari keinginan atau angan-angan.
Nah, kira-kira apa maksudnya dengan angan-angan?
Angan-angan, dalam pemahaman saya adalah mengharapkan sesuatu yang bakal terjadi di masa depan dalam kehidupan kita. Dan saya yakin kebanyakan dari kita memiliki angan-angan.
Namun menurut pandangan kaum spiritulisme, semakin tinggi angan-angan maka seseorang semakin tidak merasakan tentram dan kedamaian hati. Ia kemudian dikuasai oleh angan-angannya itu sendiri. Seolah hidupnya bakal hancur dan tidak bahagia kalau apa yang menjadi angan-angannya tidak terpacai. Sehingga semakin tinggi angan-angan seseorang maka semakin besar pula kecemasannya dan kekhawatirannya jika angan-angannya tidak tercapai.
Orang yang berambisis mengejar karir akan menjadi cemas ketika menghadapi tantangan mencapai tujuannya tersebut. Seorang muda yang ingin mengejar jabatan akan menjadi cemas ketika terjadi pergantian kepemimpinan di kantornya dimana muncul khawatir ia tidak lagi diperhitungkan.
Dan ketika gagal meraih tujuannya banyak orang yang kemudian menganggap bahwa hidup mereka telah hancur. Seperti halnya yang terpadi pasca pemilu 2009 dimana banyak calon legislatif yang tidak terpilih menjadi anggota legislatif menjadi frustrasi dan bahkan menjadi gila. Karena seolah hidupnya tidak lagi bermakna jika ia tidak mendapatkan tempat di Dewan Perwakitan Rakyat.
Menurut kaum spiritualisme, angan-angan berasal dari nafsu. Nafsu pada dasanya muncul dari dorongan intenal tubuh manusia untuk memenuhi kebutuhnannya. Misalnya angan-angan untuk mendapatkan makanan yang enak berasal dari nafsu untuk makan. Namun adakalnya nafsu ini bisa menghasilkan angan-angan yang seolah sangat penting bagi kehidupan manusia pada hal tidak. Seperti nafsu akan kekuasaan sehingga menciptakan angan-angan untuk mendapatkan jabatan.
Namun sebagaimana nafsu akan makanan yang tidak pernah mati selama manusia hidup. Maka nafsu lainnyapun tidak akan pernah mati dan terus menciptakan angan-angan untuk dikejar oleh manusia. Jadi ketika seseorang sudah mendapatkan jabatan sebagai manager maka akan muncul lagi angan-angan untuk mendapatkan posisi sebagai Dirut.
Sepasang suami istri yang sudah mendapatkan angan-angannya untuk menikah kembali merasakan kekhawatiran karena setelah menikah selama 1 tahun belum juga memiliki keturunan. Seorang sarjana yang sudah mendapatkan pekerjaan mulai cemas karena selama 5 tahun bekerja ia belum memiliki rumah.
Angan-angan tidak pernah mati dan bakal mendatangkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita. Oleh sebab menurut kaum spiritualisme, untuk mematikan angan-angan harus diawali dengan pengendalian hawa nafsu, ambisi dan keinginan yang berlebihan terhadap masa depan. Serta menikmati apa yang terjadi pada hari. Membuka diri terhadap keunikan yang bisa diraih pada saat ini dan bukan besok. Dan sesunggunya sumber kebahagian tidak berasal dari sesuatu di luar kita melainkan dari dalam diri kita. Jika kita menikmati makanan, sebenarnya kesenangan yang kita peroleh bukan berasal dari makanan yang kita peroleh, karena orang yang sedang sakit gigi atau terkena sakit pencernaan sulit merasakan kenikmatannya walaupun makanan yang dimakan sama.
Bagi kaum spiritualisme kehidupan mereka tidak dituntun oleh angan-angan melainkan hati nurani yang akan memberikan pengajaran tentang apa yang harus mereka lakukan untuk hari ini. Dan langkah yang mereka pilih untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersentuhan langsung dengan hati nurani adalah melalu meditasi. Dia manusia mengosongkan pikiran, merasakan kedamaian lepas dari angan-angan dan belajar untuk mendengar hati nurani.
Dan apa yang bisa kita pelajari dari pandangan kaum spiritulisme? Tentu pertama kita diingatkan untuk jangan terlalu larut dengan berbagai target-target atau ambisi untuk meraih sesuatu di masa depan dengan mengorbankan masa sekaran. Ingat bahwa semakin tinggi ambisis kita mengejar sesuatu maka akan semakin sering kita merasa cemas dan tidak tidak damai.
Kemudia berhat-hati dengan kemungkinan tujuan kita tersebut menyederhanakan kehidupan kita. Seolah-olah ketika apa yang menjadi harapan kita tidak tercapai maka kehidupan kita menjadi gagal atau kita tidak mungkin merasa bahagia.
Kendalikan nafsu anda, biarkan diri Anda menikmati hari dengan rasa damai. Jika dimungkinkan siapkan waktu dalam kehidupan Anda untuk sejenak hening atau bermeditasi. Dimana Anda melepaskan diri Anda dari berbagai macam tujuan atau target-target yang membebani Anda.
Dan penting diingat bahwa kebahagiaan yang bisa kita alami bukan berasal dari apa yang kita raih, tapi sesungguhnya berasal dari diri kita. Akan sangat mudah seseorang untuk merasa jenuh dengan keberhasilan yang ia peroleh dan tadinya begitu ia idamkan.
Kedamaian adalah persoalan hati, demikian menurut seorang spiritualisme. Hal ini diraih tidak dengan sekedar mengejar tujuan atau angan-angan. Namun dengan membiasakan diri untuk mendengarkan hati nurani, yang biasanya mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar, melimpah dengan empati dan keinginginan untuk berbuat kebaikan. Dan jika itu dilakukan, kebahgiaan juga bisa dirasakan. Hebatnya hal ini bisa dilakukan hari ini tanpa menunggu besok.
Itulah sebabnya maka seorang spiritulis bisa merasakan ketentraman meskipun berada di tengah kondisi kehidupan kota yang bising. Dan semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan kita. Jadi tidak ada salahnya belajar dari kaum spiritualisme untuk membuat jiwa Anda sehat dan tentram.


artikel baru

BERQURBAN ALA SOCRATES DAN

GALILEO GALILEI

(berkurban dalam pemaknaan substantif)*

Oleh : Minhadzul Abidin

(Mantan Ketua PP HIMAS 2007-2009)

PENDAHULUAN

Qurban merupakan integrasi ritual dari perjalanan Nabi Ibrahim beserta keluarganya, sejarah Awal Qurban sebenarnya sudah dimulai pada masa Nabi Adam AS, sebagaimana dijelaskan Oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27 : "Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari meraka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), Ia berkata : "Aku pasti membunuhmu!". Sampai pada zaman Nabi Ibrahim AS bermimpi (ruyal Haq). Dalam impiannya ia mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail dan sampai di Mina beliau menginap, beliau mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah malamnya di Mina, masih bermimpi yang sama juga. Betapa ujian Berat kepada Nabi Ibrahim as. Supaya menyembelih putra kesayangannya. Itulah yang dijelaskan dalam surat Ash-Shaffaat ayat 102.

QURBAN merupakan ritual rutin yang cukup dramatis dan problematik. Dramatis, karena ritual ini konon diadopsi dari perilaku Ibrahim yang rela menyembelih Ismail sebagai bukti kecintaannya kepada sang Rabb. Sebagai wujud penghargaan terhadap perilaku bapak para nabi itulah, fenomena tersebut kemudian ditetapkan sebagai ritual rutin bagi umat Islam. Problematik, karena ritual ini mengundang banyak persoalan mendasar seputar proses pelaksaanaannya. Sebut, mengapa ungkapan cinta hanya dibuktikan satu kali dalam setahun? Mengapa harus berupa binatang-binatang tertentu? Mengapa harus dilakukan pada hari-hari tertentu? Jika dikatakan sebagai pengorbanan kepada Allah, mengapa sembelihan itu justru dipersembahkan kepada manusia? Apa bedanya dengan sesajian yang diberikan kepada pohon dan batu-batu seperti kepercayaan animisme? Beberapa pertanyaan ini dihadirkan bukan untuk dijawab secara implisit, tetapi sekadar untuk menghantarkan kepada sebuah kesadaran, bahwa dalam ritual ini terdapat kandungan substantif—maksud Allah—yang belum kita pahami secara utuh.

MAKNA SUBSTANTIF QURBAN

Sebenarnya konsep Qurban pemaknaannya tidak bisa kita eksklusifkan hanya pada tataran jumlah kambing atau hewan ternak lainnya yang kita kurbankan, tetapi pada hikmah lain yang sangat penting di balik syariat ibadah ber-udhiyah, yakni adanya keterkaitan yang sangat erat antara udhiyah (berqurban, menyembelih hewan qurban) dan tadhiyah (berkorban secara umum), baik secara bahasa maupun secara makna. Secara bahasa, udhiyah dan tadhiyah berasal dari kata dhahha yudhahhi yang berarti berqurban dan berkorban sekaligus. Adapun secara makna, ber-udhiyah adalah bagian dari tadhiyah, karena memang esensi dari ibadah qurban (ber-udhiyah) adalah pengorbanan itu sendiri.

Makna yang dapat diperoleh dari pemahaman terhadap konteks di atas adalah, bahwa pengorbanan yang sebenarnya dikehendaki Allah adalah mengorbankan sesuatu yang paling dicintai. Karena, kalau Allah menghendaki pengorbanan tersebut berupa binatang ternak, sebagaimana layaknya dilakukan oleh umat Islam saat ini, Allah tidak mungkin memerintahkan Ismail untuk dikorbankan dalam mimpi Ibrahim. Seekor domba yang besar hanya dijadikan sebagai badal, setelah kesetiaan dan cinta kasih Ibrahim terhadap Allahnya teruji. Selain itu pemaknaan memang bisa dimaknai seperti itu. Peristiwa itu bisa dimaknai sebagai pesan simbolik yang menunjukkan kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah. Tapi penilaian yang lain mungkin bisa juga diungkapkan misalnya, apakah mungkin peristiwa penyembelihan itu dilakukan terhadap orang tertentu tanpa dilandasi kesalahan yang dia perbuat. Maksudnya ketika manusia sudah lupa dan sangat cinta kepada sesuatu dan mengalahkan cintanya kepada Rabb-nya.

KEBENARAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Kepasrahan dan keihklasan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan demi sebuah kebenaran. itulah inti yang diprioritaskan dalam berkurban, sejarah berkurban mungkin kita bisa kaitkan dengan semangat para intelektual karena demi mempertahankan kebenaran ilmu penegathuan mereka harus korbankan bukan hanya harta bahkan nyawa. Karena pada hakikatnya para inteletual tersebut adalah Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Dan seringkali berbenturan dengan dengan realitas social baik itu dengan kepentingan penguasa atau teks kitab suci yang sengaja di intrepretasikan sesuai dengan kepetingan kaum kaum agamawan yang mencoba mengeskploitasi kitab suci.

lmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun kebenaran-kebenaran merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan keyakinan adalah kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai oleh manusia, yaitu ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan sejarahnya sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia dikaruniai budi sehingga mampu memahami, mengerti, dan memecahkan persoalan – persoalan yang ada di sekitarnya. Tentu saja kemampuan manusia ini tidak diperoleh begitu saja. Melalui pengalaman, pendidikan, lambat laun manusia memperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu yang terjadi di liongkungannya. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah didapatnya. Rasa ingin tahu , ingin mengerti yang merupakan kodrat manusia membuat manusia selalu bertanya-tanya apa ini, apa itu, bagaimana ini, bagaimana itu, mengapa begini, mengapa begitu. Pertanyaan – pertanyaan ini muncul sejak manusia mulai bisa berbicara dan dapat mengungkapkan isi hatinya. Makin jauh jalan pikirannya, makin banyak pertanyaan yang muncul , makin banyak usahanya untuk mengerti. Jika jawaban dari pertanyaan –pertanyaan tersebut mencapai alasan atau dasar, sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya, maka puaslah ia dan tidak akan bertanya lagi. Akan tetapi, jika jawaban dari pertanyaan itu belum mencapai dasar, maka manusia akan mencari lagi jawaban yang dapat memuaskannya.

Untuk apa sebenarnya manusia bertanya-tanya dan mencari jawab dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Semua itu dilakukan karena manusia ingin mencari kebenaran. Jika ternyata bahwa pengertiannya atau pengetahuannya itu sesuai dengan hal yang diketahuinya, maka dikatakan orang bahwa pengetahuannya itu benar. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Namun kebenaran itu ternyata tidak abadi. Artinya sesuatu yang pada suatu saat dianggap benar di saat yang lain dianggap tidak benar. Ini semua terjadi karena dinamika manusia yang selalu bergerak dan ingin mendapatkan sesuatu yang baru.

BERQURBAN ALA INTELEKTUAL

Socrates dalam sejarahnya banyak menemukan pertentangan sehingga demi sebuah kebanran ilmu pengatahuan Socrates menjalani hukuman matinya sendiri dengan minum racun yang disodorkan kepadanya. Socrates dihukum mati atas tuduhan bahwa ia tidak bertanggunjawab dan 'korup'. Menurut beberapa penulis, Socrates dihukum mati , adalah disebabkan oleh aliran fikiran yang dianut dan disebarkannya. Falsahnya bertolak belakang dengan pemikiran dan tradisi saat itu. Socrates dituduh melecehkan Allah dan tradisi kepercayan. Misalnya, Socrates menganjurkan, bahwa adalah
perlu untuk berbuat menurut apa yang dianggap benar, meskipun hal itu berlawanan dengan oposisi universal, dan bahwa adalah perlu untuk menuntut ilmu meskipun hal itu mendapat tantangan. Meskipun Socrates mengaku bahwa yang diketahuinya adalah bahwa ia 'tak tahu apa-apa',
namun, ia menganggap bahwa dengan mempetanyakan segala sesuatu, yaitu suatu sistim mencari kebenaran dengan cara berdialog, cara yang
kemudian dikatakan sebagai cara dialektis, maka orang akhirnya akan mencapai kebenaran. Mempertanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu yang dianggap benar ketika itu, teristimewa oleh penguasa, itu adalah suatu tantangan dan kejahatan tingkat 'berat' yang ketika itu diganjar dengan hukuman mati. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melaluipembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.

Socrates sebenarnya dapat lari dari penjara, sebagaimana ditulis dalam Krito, dengan bantuan para sahabatnya namun dia menolak atas dasar kepaAllahnya pada satu "kontrak" yang telah dia jalani dengan hukum di kota Athena. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Phaedo karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat Barat di samping peradilan Yesus Kristus.

Lain lagi dengan cerita Galileo Galilei setelah melakukan riset, akhirnya berhasil menyempurnakan teropong bintangnya. Dengan menggunakan teropong tersebut, Galileo berhasil mengamati pergerakan benda-benda luar langit. dan berpendapat bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti yang dipahami gereja pada waktu itu.

Karya-karyanya antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua. Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus.

Pada 19 Januari 1616, Galileo membuat dua statemen:

(1) Matahari adalah pusat galaksi dan

(2) Bumi bukanlah pusat tata surya.

Pendapat Galileo dan dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan dia berhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan karena dia telah menghina keyakinan yang sudah berkembang ketika itu seputar wahyu ilahi di dalam Injil yang mengatakan bahwa bumi datar dan bumi adalah pusat tata surya

Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan Gereja yang mempunyai doktrin Infallibility (tidak pernah salah) karena merupakan wakil Kristus di muka bumi. Sampai abad ke-17, Gereja masih tetap berusaha mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi Gereja, dianggap sebagai heresy (kafir) dan dihadapkan ke Mahkamah Inquisisi.

Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya di tahun 1616, sehingga pada 24 Februari 1616, sekelompok pakar teologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan (Holy Office) menyatakan, bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan Bible. Maka, Paus Paul V, meminta Kardinal Bellarmine untuk memperingatkan Galileo dan melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.

Perkembangan selanjutnya adalah masyarakat Eropa mulai tersadar, bahwa selama ini mereka dibohongi oleh gereja dengan segala bentuk teori dan pahamnya tersebut. Sehingga mengakibatkan sentimen dan anti gereja meluas dikalangan masarakat Eropa.

Tahun 1632 Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena, dilanjutkan dengan ancaman hukuman mati pada tahun 1633 oleh Mahkamah Inkuisisi (Inquisisi), yaitu Dewan Peradilan Gereja Katolik Roma yang berwenang menghukum para pembangkang dengan hukuman mati, dirajam atau dibakar. Galileo diajukan ke pengadilan gereja Italia pada 22 Juni 1633. Selanjutnya pada Disember 1633, Galileo dipindahkan ke Arcetri

Di depan Mahkamah Inkuisisi, Galileo keyakinannya tidak goyah hanya pura-pura 'bertobat; dan berjanji tidak akan menyebarkan lagi teori heliosentrisnya itu. Di depan Mahkamah Gereja itu, Galileo menyatakan akan menghapus semua opini yang salah, bahwa matahari adalah pusat dari jagad raya dan tidak bergerak, dan bahwa bumi bukanlah pusat jagad raya dan bergerak. Ia berjanji tidak akan mempertahankan atau mengajarkan doktrin yang salah tersebut, dalam bentuk apa pun, secara verbal atau melalui tulisan.

Pada akhir pernyataan itu ditambahkannya dengan suara berbisik, "Bagaimanapun ia toh tetap bergerak juga." Yang ia maksudkan dengan ia ialah bumi tempatnya berpijak.

Galileo akhirnya tidak dijebloskan ke dalam penjara tetapi sekedar kena tahanan rumah di Arcetri. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya

Sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu, sehingga munculah ide dan pendapat perlunya pemisahan Agama dan Ilmu pengetahuan akibat traumanya masyarakat barat dengan otoritas gereja pada saat itu hingga berlanjut sampai saat ini.

Hal tersebut tidak akan terjadi jika adanya korelasi yang sejalan antara kitab suci dengan Ilmu pengetahuan.

Generasi berikutnya amat beralasan mengagumi Galileo sebagai lambang pemberontakan terhadap dogma dan kekuasaan otoriter yang mencoba membelenggu kemerdekaan berfikir. Arti pentingnya yang lebih menonjol lagi adalah peranan yang dimainkannya dalam hal meletakkan dasar-dasar metode ilmu pengetahuan modern

Akhirnya pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh pihak gereja, maka gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah merehabilitasinya.
Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi yang mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.

PENUTUP

Mungkin menjadi gambaran bagi kita bahwa berkurban tidak selamanya berkaitan dengan berapa jumlah hewan ternak yang kita kurbankan atau romatisme sejarah Nabi Ibrahim, tetapi ada hal yang lebih penting tentang pemaknaan qurban sebenarnya., Socrates dan Galileo dan Galilei telah membuktikan kepasrahan dan ketundukan terhadap kebenaran, saya yakin kebenraran yang dimaksud adalah kebenaran yang mutlak Allah SWT, dengan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kebenaran ilmu pengetahuan.

Dan berkurban harus menjadi peringatan bagi umat manusia jangan sampai lupa dan terlalu bangga dan cinta dengan kenikmatan yang ada di dunia, kurban adalah pembebasan dari penjara kenikmatan yang membuat lupa terhadap Allahnya dan kasih saying sesama manusia.

SELAMAT HARI RAYA QURBAN 1430 H. SEMOGA KITA MEMAHAMI BAHWA DENGAN QURBAN ALLAH TIDAK MAU CINTANYA TERBELAH DUA.

*Dari berbagai sumber

..

..

..

..

puisi

DALAM KETELANJANGAN

Dian soeto; Dalamnya

I
Dunia merinding ditetesi leburan tembaga

Segala jejak mengeja helai-helai samudra
sejak itu pula angin menggong-gong
menentang kematian.

II
Pusara lelah menagis di lecehkan arwah-arwah
sementara angka-angka menguak perjalanan waktu
dan sepi memanah rembulan di altar perbukitan
Aku dan kau adalah ketelanjangan _
yang disenggama almanak dan zaman

III
Angin masih menyelinap mimpi
tengah malam kita
dengan deru kelam meringkikkan rebana jantung
lalu kita hardik air mata deras itu _
untuk merakit kepingan bangkai sejarah
yang bermula dari makna dan berakhir derita

IV
Kita belum sampai pada dermaga penghabisan_
tapi
demdam memburu pagi hingga retak mata hari_
di punggung langit
Mari kita tuangkan embun
sebab kerongkongan ibu tersumbat dahaga

V
Disinilah kita mengakar jejak
Meneteskan lelah
Menghitung angaka-angka dedaunan
Pohon-pohon tergilas luruh
Menenggelamkan rembulan di meja purba
Sementara ketelanjangan setia mendeburi kita

sastra